Serangan Israel terhadap klinik kesuburan di Gaza telah menghancurkan impian banyak pasangan untuk menjadi orang tua. Klinik yang menyimpan embrio beku bagi pasien yang menjalani fertilisasi in-vitro (IVF) menjadi sasaran utama dalam konflik ini.
Maysera al-Kafarna, seorang wanita Palestina, kehilangan empat embrionya yang disimpan di klinik kesuburan akibat serangan tersebut. Pasangan ini telah mencoba selama bertahun-tahun untuk memiliki anak dan sangat terpukul dengan kehancuran embrio yang mereka simpan.
Kerusakan Klinik Kesuburan dan Dampaknya
Para pejabat medis Gaza mengungkapkan bahwa sembilan dari sepuluh klinik kesuburan di wilayah tersebut telah hancur akibat serangan Israel. Selain itu, embrio yang tersisa menghadapi risiko besar karena keterbatasan pasokan bahan-bahan penting seperti nitrogen cair dan bahan bakar untuk menjaga suhu penyimpanan.
Korban pun bukan hanya pasangan yang kehilangan embrio. Sekitar 545.000 perempuan dan gadis usia reproduktif terdampak gangguan layanan kesehatan seksual dan reproduksi di Gaza. Kelangkaan peralatan dan obat-obatan akibat blokade memperburuk kondisi ini.
Serangan Sebagai Tindakan Genosida
Organisasi hak asasi dan penyelidik PBB menilai serangan terhadap fasilitas kesehatan reproduksi merupakan bagian dari upaya sistematis untuk mencegah kelahiran warga Palestina. Pada September, Komisi Penyelidik PBB menyimpulkan bahwa Israel melanggar konvensi genosida dengan melakukan empat dari lima tindakan genosida, termasuk pencegahan kelahiran.
Laporan komisi menyoroti penghancuran klinik IVF Al-Basma di Gaza pada akhir tahun lalu. Klinik tersebut dibom secara sengaja meskipun sudah diketahui perannya sebagai pusat kesuburan. Hal ini dianggap sebagai tindakan yang bertujuan menghentikan proses reproduksi rakyat Palestina di Gaza.
Penurunan Angka Kelahiran dan Dampak Blokade
Data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan penurunan angka kelahiran sebesar 41 persen dalam enam bulan pertama tahun ini dibanding tiga tahun sebelumnya. Penurunan ini sangat terkait dengan penghancuran fasilitas medis dan krisis kemanusiaan akibat blokade yang menghambat pasokan makanan dan perawatan kesehatan.
Studi Physicians for Human Rights menambahkan bahwa keterbatasan akses terhadap perawatan medis dan nutrisi yang memadai memperburuk kesuburan perempuan, meningkatkan risiko keguguran, komplikasi kehamilan, hingga kematian ibu dan menurunnya kesehatan bayi baru lahir.
Harapan di Tengah Kesulitan
Meski kondisi saat ini sangat berat, dokter fertilitas Abdel Nasser al-Kalhout menyatakan optimisme untuk memulai kembali layanan kesuburan setelah perang berakhir. Dia bertekad mengembalikan harapan bagi pasangan yang kehilangan embrionya dan yang belum sempat melanjutkan perawatan.
Perjuangan warga Gaza untuk menjadi orang tua terhambat tidak hanya oleh perang, melainkan juga oleh dampak serius pada infrastruktur kesehatan reproduksi. Serangan terhadap klinik dan pembatasan akses medis telah meruntuhkan harapan banyak keluarga, yang berjuang mempertahankan masa depan generasi berikutnya di tengah krisis berkepanjangan.
