Di tengah harga bahan bakar yang melonjak akibat perang di Timur Tengah, ribuan warga Filipina dan wisatawan tetap memadati sebuah lapangan gersang di utara Manila pada Jumat Agung untuk menyaksikan salah satu ritual Paskah paling ekstrem di Asia. Tradisi penyaliban dan pencambukan di provinsi Pampanga itu kembali menarik perhatian besar, meski biaya perjalanan meningkat dan suhu terik menyiksa para peserta maupun penonton.
Peristiwa ini memperlihatkan kuatnya perpaduan antara iman, tradisi, dan pengorbanan di negara mayoritas Katolik tersebut. Bagi sebagian peziarah, ongkos transportasi yang lebih mahal tidak menghalangi keinginan untuk hadir dan menyaksikan reenakmen saat-saat terakhir Yesus Kristus.
Ritual yang tetap ramai di tengah tekanan biaya
Di kota San Fernando, sejumlah flagelian bertelanjang dada berjalan tanpa alas kaki di jalan berdebu sambil mencambuk punggung mereka dengan rotan bambu. AFP melaporkan, beberapa devosan bahkan sengaja melukai kulit mereka dengan pecahan kaca yang dipasang pada papan kayu kecil agar darah terus keluar selama ritual berlangsung.
Bagi para peserta, tindakan itu bukan sekadar pertunjukan, melainkan bentuk pertobatan dan permohonan mukjizat. John David, yang membawa cambuk dan ikut prosesi, mengatakan dirinya berdoa untuk kesembuhan bayi berusia tujuh bulan yang menderita pneumonia.
Tradisi keluarga yang diwariskan turun-temurun
David menjelaskan bahwa ritual itu bukan keputusan sesaat, melainkan bagian dari warisan keluarga. “Kakek saya memulainya, lalu ayah saya, dan sekarang giliran saya,” ujarnya kepada AFP, seraya menambahkan bahwa ia telah menyaksikan “mukjizat kesembuhan” selama bertahun-tahun melalui tindakan iman tersebut.
Kisah semacam ini menjadi salah satu alasan mengapa ribuan orang tetap datang setiap tahun. Pemerintah kota setempat menyebut jumlah kehadiran tahun ini mencapai setidaknya 15.000 orang, lebih tinggi dari perkiraan umum yang biasanya berada di angka hingga 12.000 wisatawan lokal dan asing.
Dampak lonjakan harga bahan bakar terasa hingga lokasi ritual
Kenaikan harga bahan bakar menjadi perhatian utama di tengah perayaan religius tersebut. Harga bahan bakar di Filipina mencapai level tertinggi dalam sejarah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang memicu Presiden Ferdinand Marcos menyatakan darurat energi nasional.
Raymond Del Rosario, pejabat penanggulangan bencana kota, mengatakan banyak pihak sempat memperkirakan krisis energi akan menekan jumlah pengunjung. Namun, kenyataannya tetap berbeda karena ribuan orang tetap datang untuk melihat rangkaian ritual Paskah yang sudah mengakar kuat itu.
Beberapa bentuk pengorbanan yang terlihat di lapangan
Perjalanan menuju lokasi pun dilakukan dengan berbagai cara agar biaya tetap terkendali. Ricky Margate, 57 tahun, memilih mengendarai sepeda motor alih-alih mobil karena lebih hemat bahan bakar, dan ia menganggap biaya tambahan itu sebagai bagian dari pengorbanan Semana Santa.
Berikut beberapa fakta penting yang terekam di lokasi acara:
- Sedikitnya 15 orang dipaku di salib di lima lokasi berbeda di San Fernando.
- Enam orang dilaporkan mendapat pertolongan medis setelah pingsan karena panas.
- Seorang flagelan pingsan saat berdoa di depan tiga salib hitam besar sebelum dibawa ke area pertolongan pertama.
- Ruben Enaje, warga Cutud berusia 65 tahun, menjalani penyaliban untuk ke-37 kalinya.
- Sejumlah penonton merekam adegan itu dengan ponsel saat aktor berpakaian tentara Romawi mengawal prosesi.
Makna iman di balik adegan yang keras
Bagi sebagian penonton, ritual itu justru memperdalam pemahaman atas penderitaan Kristus. Angelito Punzalan, 63 tahun, mengatakan perjalanannya dengan bus untuk menghemat bahan bakar membuat dirinya semakin menghargai pengorbanan yang digambarkan dalam ritual tersebut.
Seorang wisatawan asal Slovakia, Simona Kacurek, juga mengaku terkesan dengan pertunjukan yang dipadukan musik khidmat dan efek suara gemuruh petir. Ia menilai adegan itu lebih keras dari perkiraan, tetapi sangat mengesankan sebagai sebuah produksi religius dan budaya.
Pedagang ikut merasakan dampak arus peziarah
Di tengah tekanan ongkos transportasi, para pedagang kaki lima tetap bersyukur karena peziarah masih datang. Mhekyle Salazar, penjual makanan ringan berusia 22 tahun, mengatakan harga bahan bakar tampaknya tidak mampu mengalahkan kekuatan iman dan tradisi masyarakat setempat.
Kehadiran ribuan orang di San Fernando menegaskan bahwa ritual penyaliban di Filipina tetap memiliki daya tarik besar, baik sebagai ekspresi keagamaan maupun fenomena budaya yang menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri. Di tengah biaya hidup yang naik dan ketegangan geopolitik yang memicu mahalnya bahan bakar, tradisi Paskah yang keras ini tetap berlangsung sebagai cermin kuatnya devosi masyarakat setempat.
