Rafah Gaza Segera Dibuka: Apa Saja yang Perlu Diketahui Sebelum Penyeberangan Dibuka Kembali?

Perbatasan Rafah yang menghubungkan Gaza dengan Mesir akan segera dibuka kembali setelah hampir enam bulan ditutup sejak Mei 2024. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan pembukaan ini sebagai bagian dari fase kedua kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Pembukaan pintu perbatasan ini membawa harapan bagi ribuan warga Palestina yang terluka dalam perang dan memerlukan pengobatan di luar Gaza serta bagi puluhan ribu orang yang sedang berada di luar Gaza dan ingin kembali.

Pembukaan Rafah akan diatur dengan sangat ketat. Hanya puluhan warga Palestina yang akan diizinkan keluar dan masuk setiap hari, tanpa ada pengiriman barang untuk saat ini. Semua perbatasan lain Gaza masih dikontrol oleh Israel, yang menjadi titik utama masuk dan keluarnya barang serta orang.

Jadwal Pembukaan dan Jumlah Penyeberangan

Menurut laporan dari pejabat Israel yang berbicara secara anonim, pintu Rafah diperkirakan akan mulai beroperasi dalam beberapa hari ke depan. Informasi lain menyebutkan kemungkinan pembukaan bisa terjadi secepat Kamis minggu depan. Kepala komite administratif Palestina yang baru untuk Gaza, Ali Shaath, menyatakan bahwa Rafah akan dibuka dua arah mulai minggu depan. Hal ini dianggap sebagai tanda bahwa Gaza kembali terbuka bagi dunia luar.

Pembukaan Rafah akan memprioritaskan evakuasi medis bagi pasien yang membutuhkan perawatan di luar Gaza. Sebelum perang, sebagian besar pasien dibawa keluar melalui perbatasan Israel. Kini, pembukaan jalur Rafah untuk pasien menjadi perubahan penting yang diantisipasi oleh banyak pihak.

Jumlah Warga yang Dapat Melintas

Terdapat perbedaan laporan jumlah warga Palestina yang boleh melintas setiap hari. Seorang pejabat Israel menyatakan sekitar 50 orang boleh masuk ke Gaza dan 50 orang keluar setiap hari. Namun, sumber lain yang mengikuti pembicaraan menyebut angka 50 orang masuk dan 150 orang keluar. Ini menunjukkan waktu tunggu yang cukup lama bagi lebih dari 20.000 pasien yang membutuhkan pengobatan di luar Gaza. Bila hanya 50 pasien yang dipindahkan tiap hari, proses pengeluarannya akan memakan waktu lebih dari setahun.

Kelompok prioritas evakuasi biasanya anak-anak, pasien kanker, dan warga dengan trauma fisik. Mereka biasanya pergi ke Mesir untuk mendapatkan perawatan medis dan didampingi oleh pengawal selama perjalanan.

Pengawasan dan Kontrol Perbatasan

Meski ada beberapa instansi yang terlibat dalam pengelolaan Rafah, seperti Mesir, Otoritas Palestina, dan misi Uni Eropa, Israel tetap memegang kendali penuh atas siapa yang boleh masuk atau keluar dari Gaza. Mesir akan menyediakan daftar nama kepada Israel setiap hari untuk diverifikasi. Wilayah antara Rafah dan kota-kota utama Gaza juga dikontrol oleh militer Israel.

Pemeriksaan keamanan akan dilakukan secara menyeluruh di dalam Gaza sebelum warga atau pasien diberi izin untuk melintas. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan oleh tentara Israel serta kontraktor swasta dari Amerika Serikat pada masa sebelumnya. Namun untuk kegiatan administratif dan pengelolaan perbatasan, otoritas akan dibentuk dari pejabat Otoritas Palestina dan misi Uni Eropa. Paspor warga Palestina tetap akan dicap oleh petugas Otoritas Palestina.

Sejarah dan Fungsi Perbatasan Rafah Sebelum Konflik

Sebelum perang, perbatasan Rafah sudah mengalami berbagai pembatasan. Pada 2022, PBB mencatat lebih dari 133.000 warga Palestina masuk dan 144.000 keluar melalui Rafah, meskipun banyak orang yang melakukan perjalanan berulang kali. Mesir membuka perbatasan untuk impor barang hanya sekitar 150 hari dalam setahun. Lebih dari 32.000 truk barang masuk melalui jalur tersebut.

Pembatasan ini berkaitan erat dengan dinamika politik di kawasan. Setelah Hamas mengambil alih Gaza pada 2007, Mesir dan Israel memberlakukan blokade. Pembukaan Rafah sempat terjadi setelah revolusi Mesir 2011, lalu ditutup kembali ketika militer menggulingkan Presiden Muhammad Morsi pada 2013. Selama periode pembatasan, ekonomi bawah tanah dengan jaringan terowongan berkembang, yang digunakan untuk perdagangan serta pengiriman senjata dan uang, sementara Hamas memungut pajak atas barang-barang tersebut.

Ketidakjelasan Mengenai Peberlakuan Barang dan Waktu Operasional

Masih banyak ketidakpastian terkait kapan truk barang akan diizinkan lewat dan jenis barang apa saja yang boleh dibawa masuk. Jumlah maksimum warga yang bisa melewati Rafah setiap hari juga belum dipastikan akan tetap di bawah 200 orang.

Ketidakjelasan ini menjadi tantangan besar bagi organisasi kemanusiaan yang berharap meningkatkan pasokan bantuan ke Gaza. Wilayah ini terus mengalami kekurangan bahan medis, bahan bakar, dan kebutuhan pokok lainnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menginginkan agar Rafah dibuka tidak hanya untuk barang kemanusiaan tetapi juga untuk kebutuhan sektor swasta, yang sangat penting dalam upaya menggerakkan kembali ekonomi Gaza. Namun, situasi keamanan yang sensitif dan fokus Israel pada pelucutan senjata Hamas menjadi faktor penentu utama kebijakan pengelolaan Rafah ke depan.

Pembukaan perbatasan Rafah menjadi langkah penting dalam fase kedua gencatan senjata, dengan harapan dapat memfasilitasi pergerakan warga dan bantuan kemanusiaan, meskipun di bawah pengawasan ketat dan batasan yang cukup signifikan.

Exit mobile version