Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan harapannya agar tidak perlu mengambil tindakan militer terhadap Iran, yang belakangan mengancam akan menyerang basis dan kapal induk AS sebagai respons atas serangan yang mungkin dilakukan. Trump mengaku tengah berdialog dengan pihak Iran dan membuka kemungkinan penundaan operasi militer setelah sebelumnya memperingatkan bahwa waktu bagi Tehran "hampir habis".
Trump juga menyampaikan bahwa ada delegasi AS yang sedang menuju Iran, sambil berharap tidak perlu menggunakan kekuatan militer. Pernyataan ini disampaikan saat Trump hadir dalam acara pemutaran perdana sebuah film dokumenter tentang istrinya, Melania. Di saat ketegangan meningkat antara Washington, Brussels, dan Tehran, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengimbau agar negosiasi nuklir tetap dibuka guna menghindari krisis yang bisa berdampak sangat buruk di kawasan Timur Tengah.
Pihak militer Iran memperingatkan bahwa respons terhadap serangan AS tidak akan terbatas seperti konflik udara pendek tahun sebelumnya, melainkan akan menjadi balasan yang tegas dan langsung. Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia menegaskan kelemahan yang dimiliki kapal induk AS dan menilai bahwa banyak basis militer AS di Teluk Persia berada dalam jangkauan rudal menengah Iran. Ia memperingatkan bahwa kesalahan hitung oleh AS dapat berujung pada situasi yang jauh lebih rumit dari dugaan Presiden Trump.
Seorang pejabat di Teluk yang tidak ingin disebutkan namanya menilai rasa khawatir atas serangan militer AS terhadap Iran sangat nyata. Ia memperingatkan bahwa konflik semacam itu akan membawa kekacauan regional, merusak ekonomi tidak hanya di kawasan tetapi juga di AS, dan menyebabkan lonjakan harga minyak serta gas yang signifikan.
Upaya Diplomasi dan Ketegangan Regional
Dalam menghadapi krisis, pemimpin Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengadakan pembicaraan via telepon untuk membahas langkah-langkah pengurangan ketegangan dan upaya menciptakan stabilitas. Di sisi lain, Uni Eropa meningkatkan tekanan dengan menyatakan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris. Keputusan ini didasarkan pada penindasan berdarah atas gelombang protes massal Iran dan disambut dengan komentar dari Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen sebagai langkah yang telah lama tertunda.
Namun, Iran membalas dengan mengecam keputusan Uni Eropa sebagai tindakan "tidak logis, tidak bertanggung jawab, dan didorong oleh rasa dendam", serta menuduh blok tersebut bertindak atas perintah Amerika Serikat dan Israel. Pihak berwenang Iran menuding kedua negara sebagai dalang di balik unjuk rasa yang meluas, yang mereka sebut sebagai "kerusuhan" dan "operasi teroris" yang membajak protes damai akibat masalah ekonomi.
Lembaga hak asasi melaporkan bahwa ribuan warga tewas pada saat aksi demonstrasi dibubarkan secara brutal, termasuk oleh IRGC yang merupakan sayap ideologis militer Tehran. Di tengah situasi ini, warga Iran di ibu kota menyatakan rasa pesimisme mereka, dengan sebagian menganggap perang sudah tak terhindarkan dan berharap perubahan yang terjadi dapat membawa hasil yang lebih baik.
Ancaman Program Nuklir dan Risiko Konflik
Trump sebelumnya telah mengancam bakal bertindak jika demonstran protes dibunuh secara massal, tetapi fokusnya kini lebih banyak tertuju pada program nuklir Iran yang diyakini Barat bertujuan untuk membuat senjata atom. Presiden AS menyampaikan bahwa waktu bagi Iran untuk mencapai kesepakatan semakin menipis, disertai peringatan mengenai kesiapan kelompok serangan angkatan laut AS yang tiba di perairan Timur Tengah.
Sementara itu, data dari Human Rights Activists News Agency menunjukkan sejauh ini sedikitnya 6.479 orang tewas dalam gelombang protes tersebut, meskipun angka sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi oleh pengamat hak asasi. Pihak berwenang Iran mengakui ribuan korban tewas namun menyatakan mayoritas dari mereka adalah anggota keamanan atau warga sipil yang menjadi korban "perusuh".
Untuk mendukung narasi pemerintah, berbagai baliho dan spanduk telah dipasang di Tehran, salah satunya menampilkan gambar kapal induk Amerika Serikat yang hancur. Gambaran ini memperlihatkan betapa seriusnya situasi ketegangan yang tengah berlangsung, sekaligus menunjukkan risiko eskalasi militer yang dapat mengguncang kawasan lebih luas.
