Iran menjalankan operasi penangkapan massal yang melibatkan ribuan orang setelah berhasil meredam gelombang kerusuhan terbesar sejak Revolusi Islam 1979. Menurut sumber anonim kepada Reuters, aparat keamanan berpakaian preman menindaklanjuti protes yang awalnya dipicu oleh kesulitan ekonomi di Grand Bazaar, Tehran, namun cepat meluas menjadi tantangan serius terhadap rezim teokrasi Syiah Iran.
Pihak berwenang membatasi akses internet dan menggunakan kekuatan besar yang menyebabkan ribuan kematian, menurut kelompok HAM. Pemerintah Iran menyalahkan "teroris bersenjata" yang terkait dengan Israel dan Amerika Serikat atas kerusuhan tersebut. Dalam beberapa hari, aparat keamanan memperketat pengawasan di jalanan serta membangun pos pemeriksaan sambil melakukan penangkapan besar-besaran.
Strategi Penangkapan Massal dan Intimidasi
Para aktivis mengungkapkan bahwa para tahanan ditempatkan di lokasi penahanan rahasia dan tidak ada informasi jelas mengenai keberadaan mereka. “Mereka menangkap semua orang, tidak ada yang tahu kemana mereka dibawa,” kata seorang aktivis. Penahanan ini tidak hanya menyasar peserta unjuk rasa terbaru tetapi juga mereka yang pernah ditangkap dalam demonstrasi tahun-tahun sebelumnya, termasuk anggota keluarga mereka.
Sumber dari kalangan medis, pengacara, dan pejabat anonim di Iran menyatakan bahwa upaya ini bertujuan meredam potensi kebangkitan aksi protes dengan menyebarkan rasa takut di masyarakat. Aktivitas ini berlangsung di tengah tekanan eskalasi dari luar negeri, dengan ancaman kemungkinan serangan militer yang masih mengemuka.
Data Korban dan Jumlah Penangkapan
Data dari HRANA, sebuah organisasi HAM yang berbasis di AS, mencatat sedikitnya 6.373 tewas dengan rincian 5.993 pengunjuk rasa, 214 personel keamanan, 113 anak di bawah umur, dan 53 warga sipil yang tidak terkait langsung. Jumlah orang yang ditangkap diperkirakan mencapai lebih dari 42.000.
Kejaksaan mengancam hukuman mati bagi mereka yang terlibat dalam sabotase, pembakaran properti umum, serta bentrokan bersenjata dengan aparat keamanan. Laporan dari Kantor HAM PBB menyatakan bahwa para tahanan berisiko mengalami penyiksaan dan pengadilan yang tidak adil. Dokter dan tenaga kesehatan juga menjadi bagian dari ribuan orang yang ditahan.
Penahanan di Tempat Tidak Resmi dan Situasi Keluarga Tahanan
Pejabat Iran mengonfirmasi bahwa banyak tahanan ditampung di pusat penahanan tidak resmi, seperti gudang dan lokasi darurat lainnya. Proses hukum dipercepat untuk mempercepat penyelesaian kasus namun lokasi tahanan tersebut tetap tidak diumumkan secara resmi.
Kasus penangkapan ini berlanjut di berbagai kota, dari wilayah kecil hingga ibu kota. Beberapa keluarga melaporkan serangan mendadak oleh petugas preman yang menggeledah rumah dan menyita barang elektronik tanpa pemberitahuan. Mereka juga menerima ancaman agar tidak menyebarkan informasi tersebut.
Lebih dari 60 persen penduduk Iran berusia di bawah 30 tahun. Para aktivis hak asasi manusia memperingatkan bahwa tekanan dan represi yang terus berlanjut berisiko memicu gelombang protes baru. Pengacara yang bekerja dengan keluarga tahanan menerima banyak permintaan bantuan hukum untuk anak-anak dan remaja yang ditangkap.
Kasus Medis dan Perlakuan Terhadap Demonstran yang Terluka
Beberapa dokter melaporkan bahwa demonstran yang terluka selama unjuk rasa sering dibawa paksa dari rumah sakit oleh aparat keamanan. Puluhan tenaga medis dipanggil dan diperingatkan agar tidak memberikan bantuan medis kepada para korban protes. Pihak penjara membantah menahan para demonstran yang terluka.
Keluarga tahanan menghadapi ketidakpastian yang menyiksa karena tidak mengetahui keberadaan dan kondisi orang-orang yang mereka cintai. Seorang ayah yang putrinya ditangkap mengatakan bahwa mereka diperlakukan seolah-olah adalah teroris, menambah beban dan rasa takut dalam masyarakat.
Situasi yang berkembang ini menunjukkan bahwa Iran memperketat kontrol sambil menghadapi risiko meningkatnya ketegangan dalam negeri, terutama mengingat tekanan dari dalam dan luar negeri yang terus bertambah.







