Aktivis dan seniman asal Tiongkok, Ai Weiwei, menegaskan bahwa Barat tidak memiliki kedudukan moral untuk mengkritik catatan hak asasi manusia (HAM) Beijing. Pernyataan ini muncul saat Perdana Menteri Inggris Keir Starmer melakukan kunjungan resmi ke Tiongkok setelah delapan tahun, dengan tujuan memperbaiki hubungan kedua negara.
Dalam wawancara eksklusif di London, Ai Weiwei menjelaskan bahwa sebelumnya ia mendukung sikap Barat yang harus secara terbuka mengecam pelanggaran HAM di Tiongkok. Namun, kini pandangannya berubah total karena Barat sendiri juga memiliki rekam jejak yang patut dipertanyakan terutama dalam hal kebebasan berbicara dan HAM internasional.
Ai menyoroti perlakuan Barat terhadap kasus Julian Assange sebagai contoh nyata ketidakkonsistenan mereka. Assange, yang dikenal karena membocorkan dokumen militer Amerika Serikat, menghadapi penahanan dan proses hukum panjang selama 14 tahun hingga akhirnya kembali ke Australia berkat kesepakatan hukum pada pertengahan tahun lalu.
Keluhan Ai Weiwei tidak hanya tertuju ke Tiongkok, melainkan juga pada kebebasan berekspresi di negara-negara Barat. Ia menyebut kejadian di mana sebuah galeri di London menunda pamerannya pada 2023 setelah ia mengunggah postingan soal konflik Gaza sebagai bentuk sensor yang tak kalah nyata. Hal ini dianggapnya menunjukkan bahwa Barat juga "malu" bahkan untuk membahas isu-isu HAM secara terbuka.
Meski demikian, Ai menganggap kunjungan Keir Starmer ke Tiongkok adalah langkah yang bijaksana dan praktis. Ia menilai keputusan tersebut didasarkan pada kepentingan bisnis dan hubungan diplomatik yang menguntungkan kedua belah pihak, serta akan mendapat sambutan positif di Tiongkok.
Masalah HAM tetap menjadi topik yang akan disinggung Starmer selama pertemuannya dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Termasuk di antaranya adalah kasus Jimmy Lai, mantan pengusaha media asal Hong Kong dan warga negara Inggris, yang dihukum karena pelanggaran keamanan nasional pada bulan Desember lalu.
Ai Weiwei, yang kini meluncurkan bukunya berjudul On Censorship, menekankan bahwa kritik dari Barat terhadap Tiongkok akan ditanggapi sebagai sikap munafik oleh masyarakat global. Karena itu, menurutnya, Barat harus mengevaluasi ulang rekam jejak sendiri dalam memperjuangkan HAM sebelum berani mengkritik Beijing.
Fakta penting terkait kritik hak asasi manusia
- Ai Weiwei mengubah pandangan bahwa Barat tidak berhak mengkritik HAM Tiongkok.
- Ia menunjuk kasus Julian Assange sebagai contoh ketidakadilan Barat.
- Barat juga menerapkan sensor terhadap ekspresi budaya dan politik.
- Kunjungan Keir Starmer ke Tiongkok fokus pada dialog hak asasi manusia dan kepentingan ekonomi.
- Kasus Jimmy Lai menjadi sorotan dalam pembicaraan kedua negara.
Pandangan Ai Weiwei membuka diskusi penting tentang standar ganda dalam isu HAM yang sering diangkat sebagai alat politik internasional. Kritik yang disampaikan kepada Beijing harus mempertimbangkan kompleksitas dan rekam jejak masing-masing negara, termasuk negara-negara Barat sendiri.







