Kelompok pemberontak Houthi di Yaman kembali mengambil langkah membatasi operasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan mengeluarkan aset dan peralatan penting dari enam kantor PBB tanpa izin. Kejadian ini terjadi di Sanaa, ibu kota Yaman yang berada di bawah kendali Houthi, dan belum disertai penjelasan resmi dari pihak pemberontak.
Julien Harneis, koordinator kemanusiaan PBB untuk Yaman, menyatakan bahwa tindakan tersebut termasuk pengangkutan peralatan telekomunikasi dan kendaraan milik PBB ke lokasi yang dirahasiakan. Langkah ini semakin memperumit upaya bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh warga di wilayah yang dikendalikan oleh Houthi.
Dampak Langsung Terhadap Bantuan Kemanusiaan
Penghapusan peralatan ini akan memperlambat dan membatasi pelaksanaan program kemanusiaan PBB, yang sudah berjalan dengan izin dan sesuai dengan protokol lokal. Selain pengambilan aset, Houthi juga menolak mengizinkan penerbangan United Nations Humanitarian Air Service (UNHAS) ke Sanaa selama lebih dari satu bulan serta ke provinsi Mareb yang dikuasai pemerintah resmi selama lebih dari empat bulan.
Fasilitas penerbangan UNHAS sangat krusial karena menjadi satu-satunya akses masuk dan keluar organisasi kemanusiaan internasional ke wilayah Houthi. Tanpa penerbangan tersebut, organisasi nonprofit internasional sulit menjalankan operasi dan menyalurkan bantuan.
Penindasan Terhadap Tenaga Kemanusiaan dan Dampak Jangka Panjang
Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok Houthi telah menerapkan berbagai pembatasan ketat terhadap staf PBB dan organisasi bantuan lainnya. Setidaknya 73 staf PBB serta sejumlah pekerja dari lembaga masyarakat sipil dan nonprofit telah ditahan tanpa proses hukum yang jelas. Penahanan ini berdampak besar pada penyaluran bantuan, mengingat wilayah yang dikendalikan Houthi mencakup sekitar 70% kebutuhan kemanusiaan nasional.
Pemberontak Houthi juga menuduh staf PBB melakukan spionase walaupun tanpa bukti yang sah, tuduhan yang ditepis oleh organisasi PBB tersebut. Masuknya mereka secara paksa ke beberapa fasilitas PBB di Sanaa dan daerah lain menandai eskalasi pengetatan kontrol terhadap aktivitas kemanusiaan internasional.
Penutupan Program Pangan Dunia dan Pengurangan Tenaga Kerja
Sebagai konsekuensi dari sejumlah pembatasan ini, Program Pangan Dunia (World Food Program/WFP) mengumumkan akan menghentikan operasinya di wilayah Houthi. Langkah ini diperkirakan akan menyebabkan hilangnya pekerjaan sekitar 365 staf pada akhir Maret mendatang, yang semakin memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Informasi Penting Mengenai Pembatasan Houthi pada Operasi PBB
- Penghapusan aset dan peralatan PBB tanpa izin di minimal enam kantor di Sanaa
- Penolakan izin penerbangan UNHAS ke wilayah yang dikuasai Houthi lebih dari satu bulan
- Penolakan izin penerbangan UNHAS ke provinsi yang dikuasai pemerintah lebih dari empat bulan
- Penahanan terhadap 73 staf PBB dan pekerja lembaga bantuan lainnya selama beberapa tahun
- Tuduhan spionase tanpa bukti terhadap staf PBB oleh Houthi
- Penutupan operasi WFP di wilayah Houthi yang akan berdampak pada hilangnya 365 pekerjaan
Langkah-langkah yang diambil oleh Houthi ini terjadi pada saat kebutuhan kemanusiaan di Yaman, terutama di wilayah mereka, semakin meningkat signifikan. Pembatasan akses dan penghilangan aset PBB memperburuk situasi, menghambat upaya bantuan yang berusaha meredakan krisis kemanusiaan di negara yang telah mengalami perang saudara selama lebih dari satu dekade ini.
Sebagai aktor internasional, PBB terus mengupayakan dialog untuk membuka kembali jalur bantuan dan memastikan pengiriman bantuan kemanusiaan dapat berjalan sesuai dengan aman dan tanpa hambatan. Namun, sikap keras dari kelompok Houthi menimbulkan tantangan serius yang membutuhkan perhatian komunitas global untuk mencari solusi kemanusiaan di Yaman.
