Remaja Gaza Terluka Parah, Kesempatan Jalan Kembali Bergantung pada Pembukaan Perbatasan Rafah

Rimas Abu Lehia, seorang remaja Gaza berusia 15 tahun, mengalami cedera parah akibat tembakan yang mengenai lutut kirinya saat tentara Israel menembakkan peluru ke arah warga Palestina yang berdesak-desakan mengantre bantuan makanan. Cedera itu terjadi lima bulan lalu, dan kini satu-satunya harapannya untuk dapat berjalan kembali tergantung pada operasi yang harus dilakukan di luar Gaza.

Lebih dari 20.000 warga Palestina, termasuk sekitar 4.500 anak-anak, telah masuk dalam daftar tunggu evakuasi untuk mendapatkan perawatan medis dari luka perang dan kondisi kesehatan kronis. Data dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan banyak yang menunggu lebih dari setahun, dan semua berharap pembukaan kembali perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir dapat segera terwujud.

Pentingnya Pembukaan Perbatasan Rafah

Pembukaan perbatasan Rafah menjadi titik kunci dalam gencatan senjata yang telah berlangsung hampir empat bulan antara Israel dan Hamas. Israel mengumumkan bahwa perbatasan ini akan dibuka dua arah dengan pembatasan “pergerakan orang terbatas”. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan jumlah pasien yang boleh keluar akan ditingkatkan menjadi 50 orang per hari, dengan pembicaraan lain menyebut hingga 150 orang per hari.

Namun, angka ini masih jauh di bawah kebutuhan, mengingat rata-rata sebelumnya hanya sekitar 25 pasien per minggu sejak gencatan senjata dimulai. Padahal, jika jumlah pasien yang dipindahkan terus pada tingkat ini, dibutuhkan waktu 130 hingga 400 hari untuk mengevakuasi seluruh pasien yang menunggu.

Krisis Kesehatan dan Infrastruktur Medis Gaza

Kampanye militer Israel setelah serangan Hamas Oktober lalu telah menghancurkan sistem kesehatan di Gaza. Rumah sakit yang masih beroperasi kewalahan menangani korban luka-luka. Pasokan obat-obatan sangat terbatas, dan Israel membatasi masuknya bantuan medis. Rumah sakit kanker khusus di Gaza, yang hanya ada satu, telah ditutup dan bahkan hancur akibat serangan militer.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, lebih dari 10.000 pasien telah meninggalkan Gaza untuk mendapatkan perawatan sejak perang berlangsung. Namun, sebagian besar yang bertahan harus menerima perawatan terbatas di fasilitas yang masih tersedia dan tidak mampu melakukan operasi besar, seperti amputasi atau pengobatan kanker.

Ancaman Kesehatan dan Korban Evakuasi

Dari total pasien yang menunggu evakuasi, sekitar 440 memiliki cedera atau penyakit yang mengancam jiwa. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 1.200 pasien telah meninggal dunia selama menunggu bantuan keluar dari wilayah tersebut. Salah satu kendala utama adalah penolakan sejumlah negara untuk menerima pasien karena tidak ada jaminan dari Israel tentang kepulangan pasien ke Gaza, kata seorang pejabat PBB yang berbicara anonim.

Pasien-pasien biasanya dievakuasi ke negara-negara seperti Mesir, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Turki. Namun, dengan pembukaan Rafah, belum jelas apakah jumlah pasien yang dipindahkan akan cukup signifikan untuk mengurangi daftar panjang penderita yang sangat membutuhkan perawatan.

Larangan Perawatan di Wilayah Pendudukan dan Dampaknya

Israel melarang pengiriman pasien ke rumah sakit di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur sejak awal konflik, memutus akses utama pasien Palestina ke perawatan medis yang lebih maju. Gerakan pemenuhan hak telah mencoba mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Israel untuk mencabut larangan ini. Meski begitu, beberapa pasien kanker berhasil memperoleh izin keluar untuk perawatan melalui pengadilan.

Sementara itu, Israel juga membatasi jumlah orang Palestina yang dapat kembali ke Gaza melalui Rafah menjadi sekitar 50 orang per hari. Jumlah ini jauh dari harapan ribuan pengungsi yang ingin kembali ke tanah air mereka.

Kondisi Kritis Pasien Kanker dan Penyakit Kronis

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan ada lebih dari 11.000 pasien kanker, dengan sekitar 75% obat kemoterapi yang dibutuhkan tidak tersedia. Setidaknya 4.000 pasien kanker sangat mendesak harus dirujuk ke luar Gaza untuk perawatan lanjutan. Ahmed Barham, mahasiswa berusia 22 tahun yang mengidap leukemia, telah menjalani dua kali operasi pengangkatan kelenjar getah bening, namun penyakitnya terus berkembang.

Ayahnya menyatakan tidak ada pengobatan yang memadai di Gaza, dan meskipun anaknya sudah masuk daftar prioritas evakuasi, belum ada kepastian tanggal keberangkatan. Kasus ini mencerminkan tekanan hebat yang dirasakan keluarga pasien di tengah situasi medis yang kritis.

Harapan Terpendam di Balik Gencatan Senjata

Remaja lain seperti Mahmoud Abu Ishaq menunggu lebih dari setahun untuk diobati setelah mengalami kebutaan akibat serangan militer yang merusak rumah keluarganya. Kondisi para pasien ini sangat bergantung pada keputusan pembukaan titik perbatasan dan ketersediaan bantuan medis.

Rimas Abu Lehia sendiri menceritakan bagaimana dia sedang mencari adiknya saat menjadi korban tembakan. Saat itu, tentara Israel menembakkan peluru peringatan, tapi ratusan warga justru menjadi korban luka dan kematian dalam beberapa bulan. Perawatan di rumah sakit lokal gagal menyelamatkan lututnya, dan dokter memastikan operasi penggantian lutut harus dilakukan di luar Gaza.

Keluarga Abu Lehia masih menunggu janji evakuasi yang dijanjikan pada Januari, namun sampai kini belum ada kepastian. Kondisinya semakin memburuk, dan dia banyak menghabiskan waktu duduk sendiri sambil menangis karena ketidakmampuannya bergerak.

Pembukaan perbatasan Rafah menjadi batang pengharapan untuk kehidupan yang lebih layak bagi ribuan warga Gaza seperti Rimas Abu Lehia, yang bergantung pada bantuan luar untuk mendapatkan perawatan medis penting demi kemungkinan pulih dan melanjutkan hidup.

Exit mobile version