Seorang hakim federal memerintahkan pembebasan seorang ayah dan putranya yang berusia lima tahun setelah mereka ditahan oleh petugas imigrasi dalam sebuah razia di Minnesota. Anak laki-laki tersebut, yang sempat menjadi viral karena foto memakai topi kelinci biru saat petugas federal berdiri di dekat rumahnya, kini telah dibebaskan bersama ayahnya.
Penahanan ini terjadi di sebuah daerah pinggiran Minneapolis dan melibatkan empat pelajar yang diduga ditahan oleh petugas imigrasi. Menurut distrik sekolah Columbia Heights Public School District, keempat siswa tersebut termasuk dua remaja berusia 17 tahun dan satu anak berusia 10 tahun selain si anak lima tahun.
Hakim Distrik AS, Fred Biery, dalam putusannya mengkritik keras kebijakan pemerintah yang menetapkan kuota deportasi harian. Ia menyebut upaya itu dilakukan tanpa mempertimbangkan trauma yang dialami anak-anak yang terlibat. Menurut Biery, proses deportasi seharusnya dilakukan dengan kebijakan yang lebih teratur dan manusiawi.
Anak laki-laki yang berasal dari Ekuador dan ayahnya masuk ke Amerika Serikat secara legal sebagai pemohon suaka. Mereka kemudian dipindahkan ke pusat penahanan keluarga di Dilley, Texas. Informasi ini dikonfirmasi oleh pengacara mereka, Marc Prokosch, walaupun permintaan komentar dari Departemen Keamanan Dalam Negeri tidak segera ditanggapi.
Berikut beberapa poin utama kasus penahanan ini:
1. Anak dan ayahnya ditangkap dalam razia imigrasi di Minnesota.
2. Putra berusia lima tahun menjadi perhatian publik melalui foto viral.
3. Empat siswa ditahan, dengan rentang usia 5 hingga 17 tahun.
4. Hakim federal mengecam kebijakan deportasi yang mengabaikan kesejahteraan anak.
5. Mereka ditahan di fasilitas keluarga di Texas setelah penangkapan.
Kasus ini membuka diskusi tentang metode pemerintah dalam menegakkan aturan imigrasi, terutama yang berdampak pada anak-anak. Pihak sekolah secara aktif memantau dan melaporkan situasi anak-anak yang terdampak razia tersebut.
Masyarakat dan kelompok hak asasi manusia menyoroti pentingnya perlakuan yang layak dan berperikemanusiaan terhadap imigran, khususnya anak-anak yang rentan. Hakim Biery menyerukan agar kebijakan deportasi tidak lagi dilakukan dengan cara yang menyebabkan trauma psikologis.
Proses hukum masih berlanjut terkait kasus ini, dan berbagai pihak terus mengawasi tindakan pemerintah dalam menangani masalah imigrasi. Kasus ini menggambarkan ketegangan antara penegakan hukum imigrasi dan perlindungan hak asasi manusia di Amerika Serikat.
