Serangan udara Israel di Gaza menewaskan 32 orang, termasuk anak-anak, menurut badan pertahanan sipil Palestina. Serangan ini dilakukan sebagai tanggapan atas pelanggaran gencatan senjata yang diklaim oleh militer Israel.
Meskipun gencatan senjata yang dimediasi AS sudah memasuki fase kedua, kekerasan masih terus berlangsung. Kedua pihak, Israel dan Hamas, saling menuduh melanggar kesepakatan tersebut.
Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan bahwa korban tewas sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. Mereka menyatakan bahwa serangan menargetkan apartemen, tenda pengungsian, tempat perlindungan, dan sebuah kantor polisi.
Salah satu serangan menghancurkan sebuah unit apartemen di lingkungan Rimal, Gaza. Saksi mata melaporkan adanya bercak darah di jalanan serta tiga anak perempuan yang tewas saat tidur.
Serangan lain mengenai kantor polisi di distrik Sheikh Radwan, menewaskan tujuh orang menurut kepolisian Gaza. Di antara korban terdapat empat petugas polisi perempuan.
Sekitar selusin petugas penyelamat melakukan evakuasi jenazah dari puing-puing gedung yang hancur. Serangan terhadap tenda pengungsian di Al-Mawasi menimbulkan asap tebal, meskipun jumlah korban belum diketahui.
Militer Israel menyatakan serangan itu sebagai balasan atas insiden di Rafah, di mana delapan pejuang Palestina keluar dari sebuah terowongan, yang dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata. Mereka mengaku menargetkan empat komandan dan anggota Hamas serta Jihad Islam.
Sementara itu, Suhail al-Hindi, anggota biro politik Hamas, membantah klaim militer Israel. Ia menyebut serangan tersebut sebagai kejahatan yang dilakukan oleh musuh yang tak menghormati perjanjian apapun.
Sejak gencatan senjata berlaku, kementerian kesehatan Gaza melaporkan setidaknya 509 warga tewas akibat serangan Israel. Di sisi lain, militer Israel mengonfirmasi empat tentara mereka tewas dalam dugaan serangan militan di Gaza.
Pembukaan kembali perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir dijadwalkan berlangsung untuk memungkinkan pergerakan orang terbatas. Mesir dan Qatar, sebagai mediator, mengutuk pelanggaran gencatan senjata oleh Israel dan menyerukan agar semua pihak menahan diri.
Negeri Qatar menilai peningkatan kekerasan ini sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam upaya konsolidasi perdamaian. Pembukaan Rafah dianggap langkah penting dalam fase kedua dari kesepakatan gencatan senjata.
Israel sebelumnya enggan membuka perbatasan itu hingga menerima jenazah Ran Gvili, sandera terakhir yang berhasil dipulangkan. Konflik ini bermula dari serangan Hamas pada awal Oktober yang menewaskan lebih dari seribu warga Israel.
Balasan militer Israel mengakibatkan kehancuran luas di Gaza yang sudah mengalami berbagai konflik dan blokade sejak 2007. Dalam dua tahun terakhir, perang telah menewaskan puluhan ribu orang di wilayah Palestina itu.
Menurut data dari kementerian kesehatan yang dianggap valid oleh PBB, lebih dari 71 ribu orang telah kehilangan nyawa selama periode konflik ini. Data ini mencerminkan dampak kemanusiaan yang sangat besar dari pertikaian yang terus berlanjut.
