Israel mengumumkan akan menghentikan operasi kemanusiaan organisasi Medecins Sans Frontieres (MSF) atau Dokter Lintas Batas di Jalur Gaza. Keputusan ini dikeluarkan karena MSF dianggap gagal menyerahkan daftar staf Palestina yang mereka pekerjakan.
Pada Desember lalu, Israel menyatakan akan melarang 37 organisasi bantuan, termasuk MSF, beroperasi di Gaza mulai Maret karena tidak memberikan data rinci tentang karyawan Palestina mereka. Langkah ini menuai kecaman luas dari kelompok non-pemerintah dan PBB.
Alasan Penutupan Operasi MSF di Gaza
Kementerian Urusan Diaspora dan Penanggulangan Antisemitisme Israel menyatakan hal itu sebagai kewajiban hukum yang harus dipenuhi oleh semua organisasi kemanusiaan di wilayah tersebut. MSF dituding tidak memenuhi kewajiban ini meskipun awal Januari telah berkomitmen untuk menyerahkan data tersebut.
Pihak kementerian juga menuduh terdapat dua karyawan MSF yang diduga memiliki hubungan dengan kelompok Hamas dan Jihad Islam Palestina, tuduhan yang dibantah keras oleh MSF. Dalam pernyataannya, Kementerian menyebut MSF akhirnya menarik diri dari proses pendaftaran dengan alasan kekhawatiran terhadap keamanan staf dan ketidakjelasan penggunaan data.
Dampak Bagi Bantuan Kemanusiaan di Gaza
MSF diketahui selama ini menjadi penyedia bantuan medis penting di Gaza, terutama semenjak perang yang meningkat pada Oktober lalu. Organisasi ini menyediakan sekitar 20 persen dari total tempat tidur rumah sakit dan mengoperasikan sekitar 20 pusat kesehatan di wilayah itu.
Selama tahun sebelumnya, MSF melakukan lebih dari 800.000 konsultasi medis dan menangani lebih dari 10.000 kelahiran bayi. Mereka juga menyediakan pasokan air minum untuk penduduk Gaza.
Tanpa kehadiran MSF dan organisasi internasional sejenis, kelompok bantuan memperingatkan bahwa layanan penting seperti perawatan darurat, kesehatan ibu dan anak bisa hancur total. Ini berpotensi meninggalkan ratusan ribu warga tanpa akses ke layanan medis dasar.
Kritik atas Kebijakan Israel
Seorang dokter darurat internasional, James Smith, menilai keputusan Israel adalah kelanjutan dari penggunaan bantuan kemanusiaan secara sistematis sebagai alat politik. Ia menekankan bahwa Israel telah menargetkan sistem kesehatan Palestina secara masif dan telah menewaskan lebih dari 1.700 pekerja kesehatan Palestina, sehingga ketergantungan Gaza pada bantuan internasional bertambah besar.
Sebagai informasi tambahan, MSF melaporkan 15 dari stafnya meninggal selama perang yang dimulai pada Oktober 2023. Organisasi ini tetap menjadi salah satu penyedia bantuan medis paling vital di tengah kondisi konflik yang memburuk.
Keputusan Israel menghentikan operasi MSF di Gaza diprediksi akan memperburuk krisis kemanusiaan yang tengah dialami oleh penduduk di wilayah tersebut. Bantuan medis dan kemanusiaan dari luar tetap sangat krusial untuk menyelamatkan nyawa dan menjaga pelayanan dasar bagi warga Gaza.
