AS Jatuhkan Sanksi ke Díaz-Canel dan Istri, Tekanan Baru untuk Kuba yang Terhimpit Krisis

Amerika Serikat kembali memperketat tekanan terhadap Kuba dengan menjatuhkan sanksi kepada Presiden Miguel Díaz-Canel, istrinya Lis Cuesta Peraza, dan tiga orang lainnya. Kebijakan ini diumumkan melalui dokumen Departemen Keuangan AS pada Kamis (4/6/2026) waktu setempat.

Langkah tersebut menandai meningkatnya ketegangan antara Washington dan Havana di tengah krisis ekonomi yang masih membebani Kuba. Pemerintah Kuba belum menyampaikan tanggapan resmi atas sanksi terbaru ini.

Sanksi juga menyasar lingkar dekat Raúl Castro

Selain Díaz-Canel dan istrinya, daftar sanksi juga mencantumkan Alejandro Castro Espín, putra tunggal mantan Presiden Kuba Raúl Castro dan Vilma Espín. Alejandro dikenal sebagai penasihat Komisi Pertahanan dan Keamanan Nasional Kuba.

Namanya sebelumnya juga pernah muncul dalam momen penting hubungan Kuba dan AS, ketika ia mendampingi Raúl Castro saat menyambut mantan Presiden AS Barack Obama di Havana pada Maret 2016. Kehadiran figur-figur dari lingkar inti kepemimpinan Kuba dalam daftar ini memperlihatkan bahwa Washington tidak hanya menekan pemerintahan aktif, tetapi juga jejaring politik yang dekat dengan pusat kekuasaan di negara itu.

Tekanan ekonomi AS makin diperluas

Sanksi terbaru menjadi bagian dari kebijakan Washington yang kian keras terhadap Havana. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menandatangani perintah eksekutif yang memperluas cakupan sanksi terhadap Kuba.

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahannya juga meningkatkan tekanan ekonomi dengan tetap mempertahankan embargo perdagangan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. AS turut memperketat pembatasan akses energi, yang ikut memengaruhi pasokan bahan bakar ke Kuba.

Kebijakan itu memperburuk situasi domestik Kuba yang sudah rapuh. Negara tersebut menghadapi pemadaman listrik berkepanjangan dan kelangkaan kebutuhan pokok yang semakin berat dirasakan masyarakat.

Sanksi terhadap pemimpin negara bukan hal baru

Pemberian sanksi kepada pemimpin negara dan anggota keluarganya bukan langkah yang asing dalam kebijakan luar negeri AS. Washington sebelumnya juga pernah menggunakan instrumen serupa untuk menekan pemerintah lain melalui jalur diplomatik dan ekonomi.

Dalam kasus Kuba, kebijakan terbaru ini menambah daftar tekanan yang terus meningkat dari Washington. Hubungan kedua negara kembali memanas, sementara pemerintahan Díaz-Canel harus menghadapi tekanan eksternal di tengah masalah ekonomi dalam negeri yang belum mereda.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version