Serangan drone Rusia menewaskan 15 warga sipil yang sedang naik bus setelah pulang bekerja. Bus yang dioperasikan oleh perusahaan energi Ukraina, DTEK, membawa lebih dari 30 penambang ketika drone Shahed menghantamnya.
Serangan ini berupa dua serangan berturut-turut, dikenal sebagai “double tap”, di mana drone kedua menyerang warga yang mencoba melarikan diri dari lokasi serangan pertama. Serhiy Beskrestnov, penasihat menteri pertahanan Ukraina, menyatakan bahwa operator drone “100 persen melihat dan mengenali target sebagai warga sipil”.
Pihak Ukraina mengutuk serangan tersebut sebagai aksi terorisme yang keji. DTEK mengonfirmasi bahwa yang tewas adalah para penambang sipil yang baru saja selesai bekerja. Hingga kini, 15 penambang telah dikonfirmasi meninggal dunia dan tujuh lainnya terluka.
Detil Serangan dan Reaksi Resmi
Serangan tersebut menjadi kerugian terbesar yang dialami DTEK sejak invasi besar-besaran Rusia dimulai. Perusahaan itu menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga korban dan memastikan akan memberikan bantuan kepada semua keluarga yang terdampak.
Setelah insiden ini, sehari berkabung diumumkan di Dnipropetrovsk untuk mengenang para korban. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, turut menyampaikan duka cita atas jatuhnya banyak korban dalam serangan drone Rusia di bus penambang tersebut.
Rusia sebelumnya menyatakan bahwa mereka telah menyetujui penghentian serangan selama seminggu atas permintaan Donald Trump, namun moratorium tersebut akan berakhir pada hari Minggu. Juru bicara Presiden Putin kemudian menegaskan bahwa gencatan senjata itu hanya berlaku di Kyiv, ibu kota Ukraina.
Serangan Terpisah di Rumah Sakit Bersalin
Selain serangan terhadap bus penambang, pasukan Rusia juga menyerang rumah sakit bersalin di Zaporizhzhia. Serangan itu melukai minimal enam orang, termasuk dua wanita yang sedang diperiksa di rumah sakit tersebut.
Gubernur Zaporizhzhia, Ivan Fedorov, menyesalkan tindakan tersebut sebagai bukti perang yang dilancarkan melawan kehidupan. Pada hari yang sama, serangan drone Rusia juga menarget daerah lain di Zaporizhzhia, melukai dua wanita dan seorang anak usia empat tahun.
Serangan Balasan dan Negosiasi Perdamaian
Sementara itu, Ukraina melakukan serangan drone ke wilayah perbatasan Rusia di Belgorod, menewaskan dua warga sipil. Pembicaraan perdamaian yang dijadwalkan pada hari Minggu kemudian ditunda karena ketegangan meningkat di Timur Tengah.
Presiden Zelensky menyatakan bahwa pertemuan trilateral berikutnya akan berlangsung pada tanggal 4 dan 5 di Abu Dhabi. Ukraina menyatakan kesiapan untuk melakukan pembicaraan substantif yang diharapkan dapat mendekatkan pencapaian akhir perang yang layak dan bermartabat.
Meski demikian, isu utama tetap pada tuntutan Rusia agar Ukraina menyerahkan wilayah Donbas yang belum dikuasai Rusia. Dmitry Medvedev, mantan presiden Rusia dan penasihat utama Putin, menegaskan bahwa wilayah tersebut adalah masalah paling rumit dalam pembicaraan.
Medvedev juga menyatakan bahwa Rusia menolak kesepakatan yang melibatkan penempatan pasukan NATO di Ukraina. Ia memperingatkan risiko eskalasi perang yang bisa berujung pada “apokalips nuklir,” meski menegaskan Rusia tidak menginginkan konflik global.
Situasi ini dinilai sangat berbahaya dan ambang kesabaran kian menipis, menurut Medvedev. Ia menegaskan bahwa Rusia tidak ingin perang umum dan bukan “gila” untuk memicu konflik global, namun kewaspadaan tetap harus dijaga.
Artikel ini menunjukkan betapa krisis kemanusiaan dan dinamika geopolitik masih sangat kompleks. Serangan brutal terhadap warga sipil sekaligus usaha diplomasi menandai kondisi sengketa yang berlangsung dengan ketegangan tinggi dan dampak kemanusiaan yang besar.





