Gencatan senjata antara Washington dan Teheran yang diumumkan pada Senin (15/6/2026) membuat sorotan kembali tertuju pada dampak perang AS-Israel melawan Iran. Dalam konflik itu, deretan tokoh penting di lingkar kekuasaan Teheran dilaporkan tewas akibat serangan udara yang menghantam jantung kepemimpinan politik dan militer Iran.
Gelombang serangan tersebut tidak hanya menyasar satu atau dua nama besar, tetapi memukul struktur elite Republik Islam secara luas. Iran memang bergerak cepat mengisi posisi yang kosong, namun daftar korban menunjukkan besarnya kerugian yang dialami negara itu dalam perang singkat yang berlangsung intens.
Tokoh paling menonjol yang tewas
Ayatollah Ali Khamenei menjadi nama paling penting dalam daftar korban. Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989 itu tewas pada jam pertama perang, tepatnya 28 Februari, saat serangan udara menghantam pertemuan pejabat senior di Teheran.
Serangan itu juga menewaskan menantu perempuan, putri, dan setidaknya satu cucunya. Putranya, Mojtaba, dilaporkan selamat meski terluka dan kini mengambil alih posisi Pemimpin Tertinggi, meski belum tampil di publik.
Nama penting lain yang ikut tewas adalah Larijani, yang disebut sebagai pilar sistem pemerintahan Iran selama puluhan tahun. Ia tewas pada 17 Maret dalam serangan Israel di wilayah Teheran, dan kematiannya disebut sebagai kehilangan besar bagi Republik Islam setelah wafatnya Khamenei.
Larijani masih sempat terlihat di depan publik hanya sepekan sebelum tewas. Kehadirannya dalam rapat umum pro-pemerintah waktu itu membuat kematiannya mengejutkan banyak pihak di lingkar elite Teheran.
Deretan panglima dan pejabat keamanan
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC juga kehilangan sejumlah petingginya. Mohammad Pakpour, yang baru menjabat sebagai panglima tertinggi IRGC pada Juni 2025 menggantikan Hossein Salami, tewas pada hari pertama perang.
Posisi Pakpour kemudian digantikan oleh mantan Menteri Dalam Negeri, Ahmad Vahidi. Pergantian cepat itu menunjukkan bagaimana Iran berupaya menjaga kesinambungan komando di tengah tekanan serangan udara.
Alireza Tangsiri, Kepala Angkatan Laut IRGC, juga dilaporkan tewas dalam konflik tersebut. Veteran Perang Iran-Irak itu dikenal sebagai figur utama dalam operasi di Selat Hormuz, wilayah strategis yang kerap menjadi titik sensitif dalam hubungan Iran dengan lawan-lawannya.
Israel sebelumnya mengidentifikasinya sebagai tokoh kunci di balik penambangan dan pemblokadean jalur pelayaran vital itu. Kematian Tangsiri menambah daftar panjang perwira senior yang gugur dalam serangan tersebut.
Ali Shamkhani juga masuk dalam daftar korban. Tokoh veteran angkatan bersenjata sejak 1980-an itu tewas pada hari pertama perang, setelah sebelumnya sempat dilaporkan tewas dalam konflik Juni 2025 tetapi ternyata hanya mengalami luka parah.
Pejabat kabinet dan struktur intelijen
Dari jajaran kabinet, Menteri Intelijen Esmail Khatib dilaporkan tewas dalam serangan Israel di Teheran pada dini hari 18 Maret. Ia telah menjabat sejak 2021 dan dikenal sebagai sosok kontroversial yang oleh kelompok HAM dituduh berperan dalam penindasan protes domestik.
Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh juga menjadi korban gelombang serangan udara pada hari pertama perang. Ia menjabat sebagai Menteri Pertahanan sejak 2024 dan termasuk dalam jajaran pejabat sipil yang terdampak langsung oleh serangan itu.
Juru Bicara IRGC Ali Mohammad Naini tewas pada Maret dalam serangan yang disebut IRGC sebagai aksi penakut oleh AS dan Israel. Sebelum kematiannya dikonfirmasi, ia sempat mengatakan bahwa produksi rudal Iran tetap berjalan sempurna di tengah perang.
Tokoh paramiliter dan penghubung komando
Gholamreza Soleimani, kepala kelompok paramiliter sukarelawan Basij, tewas pada 17 Maret. Basij dikenal sebagai sayap IRGC yang paling keras dalam menangani demonstrasi di dalam negeri, sehingga kematiannya turut memukul lapisan pengendalian internal Iran.
Di jajaran komando militer yang lebih teknis, Mohammad Shirazi tewas di hari pertama perang. Ia memimpin kantor militer yang mengoordinasikan cabang keamanan di kantor Pemimpin Tertinggi.
Abdolrahim Mousavi, Kepala Staf Angkatan Bersenjata yang mengoordinasikan IRGC dan tentara reguler, juga dilaporkan tewas pada hari pertama perang. Ia baru menjabat sejak Juni 2025, sehingga kematiannya menambah daftar pejabat yang belum lama menduduki posisi strategis.
Pemerintah Iran disebut bergerak cepat mengisi jabatan-jabatan yang kosong setelah gelombang serangan itu. Namun, daftar korban yang mencapai tingkat tertinggi menunjukkan bahwa perang AS-Israel melawan Iran telah merusak lapisan kepemimpinan yang selama ini menjaga stabilitas sistem politik dan militer Teheran.
Source: mediaindonesia.com






