US Contractor Ajukan Rencana Gaza ke Gedung Putih dengan Keuntungan 300% dan Monopoli 7 Tahun

Sebuah perusahaan kontraktor bencana asal Amerika Serikat mengajukan rencana kepada pejabat Gedung Putih yang menawarkan keuntungan hingga 300 persen serta monopoli selama tujuh tahun untuk sistem truk dan logistik di Gaza. Proposal ini terkait dengan program “Board of Peace” yang dipimpin oleh Donald Trump, bertujuan mengelola distribusi dan pengangkutan barang ke wilayah tersebut.

Gothams LLC, perusahaan yang mengajukan rancangan tersebut, berencana mengenakan biaya untuk setiap truk yang memasuki Gaza dan penggunaan fasilitas pergudangan serta distribusi mereka. Usulan ini mengisyaratkan keuntungan sangat besar, yang dianggap tidak lazim dan kontroversial oleh sejumlah ahli kontrak pemerintah.

Monopoli dan Keuntungan Fantastis

Proposal November yang bocor menunjukkan Gothams menginginkan jaminan tiga kali lipat pengembalian modal yang dikeluarkan sebagai biaya proyek. Selain itu, perusahaan menuntut hak eksklusif selama tujuh tahun plus opsi perpanjangan tiga tahun berikutnya. Skema ini akan memberikan Gothams kontrol penuh dalam sistem logistik Gaza, yang sangat kritis untuk distribusi barang rekonstruksi.

Charles Tiefer, pakar hukum kontrak federal yang pernah bekerja di komisi pengawasan kontrak selama perang di Irak dan Afghanistan, menyatakan bahwa margin keuntungan yang diajukan merupakan hal yang luar biasa dan sangat tidak wajar. “Tidak pernah ada kontrak pemerintah AS dengan pengembalian tiga kali lipat seperti ini dalam dua ratus tahun terakhir,” ujarnya. Tiefer mengibaratkannya sebagai “pencurian di jalan raya”.

Keterlibatan dan Pernyataan Perusahaan

Meskipun CEO Gothams, Matthew Michelsen, sempat menyatakan menghentikan proposalnya, mitra perusahaan, Chris Vanek, tetap aktif berkomunikasi dengan pejabat Gedung Putih dalam beberapa pekan terakhir. Vanek, mantan perwira militer, menyebutkan bahwa keterlibatannya bersifat sukarela dan tanpa kontrak resmi, sebagai dukungan terhadap usaha perdamaian di Gaza.

Dalam pernyataan resmi, Gothams menegaskan tidak ada pembicaraan mengenai pembiayaan, investasi, ataupun besaran keuntungan hingga saat ini. Namun, dokumen awal menunjukkan detail mengenai persyaratan ekonomi yang sangat menguntungkan pihak Gothams.

Proyek Rekonstruksi Gaza yang Besar

Menurut PBB, Gaza memerlukan proyek rekonstruksi dengan nilai lebih dari 70 miliar dolar, setelah sebagian besar bangunan hancur dan 90 persen penduduknya mengungsi. Rencana “Board of Peace” yang dipimpin Trump bercita-cita membangun kembali kawasan pesisir Mediterania Gaza sebagai pusat wisata dan perdagangan dengan sejumlah kota baru, pelabuhan modern, dan pusat manufaktur.

Salah satu tantangan utama adalah pengawasan ketat Israel terhadap masuk dan keluarnya barang ke Gaza, termasuk pembatasan material konstruksi. Sebagai inisiatif baru, Gothams mengusulkan sistem logistik terintegrasi guna memperlancar pengiriman bantuan.

Peran Kushner dan Pendanaan Investasi

Jared Kushner, menantu Donald Trump dan anggota dewan eksekutif “Board of Peace”, mengemukakan bahwa proyek ini menawarkan peluang investasi besar. Di forum Davos, ia mengajak investor untuk menanam modal dalam rekonstruksi Gaza yang luas. Para pejabat Gedung Putih dikabarkan sedang membahas kemungkinan pendanaan dari dana kekayaan negara seperti Mubadala dari Uni Emirat Arab.

Dokumen proposal lain yang diperoleh menunjukkan bahwa investor bisa mendapatkan pengembalian investasi antara 46 hingga 175 persen pada tahun pertama. Hal ini menandakan bahwa proyek ini tidak hanya bertujuan kemanusiaan, tetapi juga bisnis dengan potensi keuntungan signifikan.

Kontroversi dan Respons Resmi

Meski demikian, Departemen Luar Negeri AS yang menangani task force Gaza menyatakan belum ada mekanisme kontrak yang resmi berjalan. Juru bicara menyatakan bahwa semua pembicaraan hingga saat ini bersifat informal dan keputusan final masih dalam tahap penentuan.

Gothams sebelumnya juga pernah terlibat dalam kontrak pemerintah AS yang kontroversial, termasuk operasi di pusat penahanan migran di Florida yang mendapat kecaman terkait pelanggaran hak asasi manusia. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai motif dan kredibilitas perusahaan dalam proyek rekonstruksi Gaza yang sensitif.

Lewat rencana tersebut, jelas bahwa rekonstruksi Gaza tidak hanya menjadi fokus kemanusiaan, tetapi juga ladang bisnis yang diperebutkan dengan ketat oleh berbagai pihak. Monopoli dan keuntungan tinggi yang diusulkan oleh perusahaan AS menimbulkan debat tentang penetrasi keuntungan komersial dalam misi perdamaian dan pemulihan wilayah konflik.

Terkait