Amerika Serikat tengah menggelar latihan militer udara di Timur Tengah sebagai respons atas meningkatnya ketegangan dengan Iran. Latihan ini bertujuan memperkuat kemampuan Angkatan Udara AS dalam penyebaran cepat personel dan pesawat, serta operasi dari lokasi tersebar dengan jejak minimal, kata Komando Pusat Angkatan Udara AS.
Latihan militer lima hari ini memperlihatkan kesiapan pilot dan personel untuk menjalankan misi tempur dalam kondisi menantang. Hal tersebut sekaligus memamerkan kemampuan penyelenggaraan serangan udara bersama sekutu regional, memastikan kekuatan udara selalu siap kapan dan di mana pun dibutuhkan.
Presiden Donald Trump kembali mengancam akan melakukan serangan militer jika Iran tidak segera melakukan negosiasi nuclear yang “adil dan seimbang”. Dia menegaskan armada kapal perang AS sedang menuju kawasan Iran sebagai persiapan operasi militer jika rezim Tehran tidak berubah sikap. Trump menyatakan, “Waktu terus berjalan,” menekankan urgensi diplomasi atau konsekuensi militer yang lebih parah dibanding serangan tahun lalu.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa angkatan bersenjata negara ini siap merespon dengan cepat dan kuat terhadap segala bentuk agresi terhadap wilayah darat, udara, maupun wilayah perairan Iran. Meski begitu, Iran tetap membuka peluang negosiasi nuklir selama AS menghentikan ancaman dan pendekatan bermusuhan. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa hingga kini belum ada pembicaraan langsung dengan AS, hanya pertukaran pesan tidak langsung.
Ketegangan antara AS dan Iran terus meningkat setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 dan menerapkan sanksi kembali. Pemerintah AS menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang selalu dibantah Tehran. Kelompok penerbang kapal induk USS Abraham Lincoln juga telah tiba di kawasan, menambah tekanan militer AS di wilayah tersebut.
Selain mengintensifkan latihan, AS juga memantau situasi dengan seksama tanpa mengambil keputusan operasional. Trump menyatakan, “Kami memiliki banyak kapal yang bergerak ke arah tersebut, untuk berjaga-jaga.” Pusat Komando AS tidak mengungkapkan lokasi dan durasi latihan maupun aset yang dilibatkan, hanya memastikan latihan dilakukan dengan koordinasi pemerintah tuan rumah serta otoritas penerbangan sipil dan militer demi menjaga keselamatan dan kedaulatan.
Di sisi lain, Iran memperlihatkan sikap keras dengan peringatan tegas akan membalas agresi militer AS dengan kekuatan yang dapat mengguncang kestabilan Timur Tengah. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan, kedatangan kapal perang AS tidak akan memengaruhi tekad pertahanan negara tersebut. Militer Iran terus meningkatkan kapasitas pengawasan dan kesiapan agar tidak kehilangan waktu dalam menghadapi ancaman.
Di pusat kota Tehran, poster besar memperingatkan kerusakan pada kapal induk AS jika terjadi konfrontasi. Tulisan “Jika kamu menabur angin, kamu akan menuai badai” dalam dua bahasa menghiasi poster tersebut di sekitar Plaza Revolusi, menampilkan citra kapal induk yang rusak dengan darah mengalir ke laut menyerupai bendera AS. Dekat lokasi ini terdapat pula poster yang menampilkan penangkapan kapal Angkatan Laut AS tahun 2016, memperlihatkan pasukan AS yang menyerah.
Latihan militer AS mendapat persetujuan dari negara-negara tuan rumah dengan penekanan pada keselamatan, presisi, dan penghormatan atas kedaulatan wilayah. Beberapa sekutu AS di Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memberi peringatan bahwa mereka tidak akan mengizinkan penggunaan wilayah udara mereka untuk aksi militer terhadap Iran. Uni Emirat Arab juga memastikan tidak memberikan dukungan logistik untuk operasi militer tersebut.
Menurut Wakil Komandan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi, kekuatan militer Iran telah berkembang sehingga setiap langkah militer musuh menjadi sangat rumit dan berisiko tinggi. Pernyataan tersebut menunjukkan kesiapan Iran untuk menghadapi kemungkinan konfrontasi bersenjata.
Kawasan Eropa juga meningkatkan tekanan terhadap Iran. Uni Eropa dijadwalkan membahas kemungkinan penetapan IRGC sebagai organisasi teroris dan pengenaan sanksi baru. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot mendukung langkah tersebut sebagai respons atas aksi keras pemerintah Iran terhadap demonstran. Dukungan serupa datang dari Menteri Luar Negeri Israel dan usulan formal dari Italia dalam pertemuan di markas besar Uni Eropa.
Ketegangan diplomatik dan militer antara AS dan Iran terus menjadi fokus utama di Timur Tengah. Latihan militer dan ancaman yang semakin keras seiring krisis kemanusiaan di Iran memberikan gambaran kompleksitas situasi yang memengaruhi stabilitas regional. Semua pihak terus mengamati dan menimbang opsi demi mencegah eskalasi yang lebih luas di tengah dinamika geopolitik saat ini.
