Pemerintah Indonesia tetap mengambil sikap hati-hati dalam memantau harga minyak mentah dunia meski ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat mulai mereda. Pemerintah menilai pergerakan harga energi global masih perlu diawasi karena situasi geopolitik belum sepenuhnya selesai secara hukum internasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan harga minyak sudah turun ke kisaran US$83 per barel. Namun, pemerintah belum ingin mengendurkan kewaspadaan sebelum ada kesepakatan damai yang benar-benar ditandatangani.
Pemantauan harga minyak masih jadi fokus
Airlangga menegaskan pemerintah terus memonitor perkembangan pasar minyak karena gejolak di Timur Tengah dapat memengaruhi biaya energi dunia. Sikap konservatif dipilih agar pemerintah tidak terlambat merespons jika harga kembali bergerak naik.
Menurut Airlangga, tanda-tanda mereda memang terlihat, tetapi belum cukup untuk menjadi dasar perubahan sikap kebijakan. Pemerintah ingin memastikan kondisi benar-benar stabil sebelum mengambil langkah yang lebih longgar.
Stimulus disiapkan untuk kelompok bawah
Di tengah pemantauan itu, pemerintah juga menyiapkan stimulus untuk meredam dampak potensi kenaikan harga BBM terhadap masyarakat. Sasaran utama bantuan adalah kelompok kelas menengah ke bawah, terutama desil 4 ke bawah.
Airlangga menyebut pemerintah tetap mempertahankan Pertalite dan B50 sebagai bagian dari upaya menjaga daya beli. Bantuan tambahan juga sedang dimatangkan agar bisa menjangkau kelompok yang paling rentan terhadap tekanan harga.
Bantuan nontunai ikut disiapkan
Selain subsidi BBM, pemerintah menyiapkan skema Bantuan Langsung Tunai yang tidak diberikan dalam bentuk uang tunai. Skema ini dirancang agar bantuan lebih tepat sasaran dan mendukung konsumsi rumah tangga secara efektif.
Pemerintah masih mematangkan rincian teknis penyaluran stimulus nontunai tersebut agar bisa segera dijalankan. Langkah ini disiapkan sebagai antisipasi jika fluktuasi harga energi global kembali memberi tekanan pada daya beli masyarakat.
