Ketegangan internal kini muncul di tengah-tengah rezim Iran terkait respons terhadap gelombang protes besar-besaran yang terjadi di negeri itu. Mantan Presiden Hassan Rouhani secara langka melontarkan kritik keras, menyatakan bahwa rezim perlu melakukan reformasi besar atau menghadapi demonstrasi massal yang terus berulang.
Rouhani menegaskan bahwa hanya melakukan perubahan kecil tidak akan menyelesaikan masalah. Ia menyebutkan, “Jika hanya melakukan perubahan minor, dalam hitungan hari atau bulan, masalah besar akan muncul kembali.” Pernyataan ini menjadi sorotan karena mengindikasikan adanya perpecahan dalam kepemimpinan Iran.
Kritik Keras dari Kalangan Reformis
Para politisi reformis lain turut bersuara agar rezim merespons tuntutan rakyat secara serius dan menyeluruh. Javad Emam dari Koalisi Reformis mengatakan bahwa mereka tidak lagi bisa membenarkan cara rezim menangani demonstrasi, yang berujung pada penindasan brutal. Mir Hossein Mousavi, pemimpin Gerakan Hijau Iran yang telah lama berstatus tahanan rumah, menyebut penumpasan protes ini sebagai “halaman hitam dalam sejarah Iran.”
Menurut Mousavi, tindakan represif justru membuka celah bagi campur tangan asing yang semakin memperburuk kondisi dalam negeri. Sementara Mehdi Karroubi, mantan pembicara parlemen sekaligus tokoh reformis, menyalahkan kebijakan Ali Khamenei sebagai penyebab utama situasi berat yang dialami Iran.
Karroubi menyoroti “proyek nuklir yang mahal dan sanksi internasional yang menghantam rakyat selama dua dekade terakhir.” Ia juga mengutuk pembantaian ribuan demonstran dan menyerukan solusi damai dengan mengadakan referendum agar rakyat bisa menentukan nasibnya sendiri.
Respon Keras dari Garis Keras
Di sisi lain, para anggota parlemen garis keras merespons keras kritik Rouhani. Nasrollah Pejmanfar, anggota parlemen konservatif, bahkan mengusulkan agar Rouhani ditangkap dan dieksekusi sebagai bagian dari reformasi besar yang mereka inginkan. Tanggapan ini memperlihatkan kedalaman krisis dalam lingkaran dalam rezim sekaligus menunjukkan betapa tajamnya pertentangan yang ada.
Sebagai bagian upaya mengakhiri konflik internal, akan digelar pembicaraan antara pejabat tinggi Iran dan utusan khusus Amerika Serikat. Steve Witkoff, perwakilan khusus Washington, dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, di Istanbul. Pertemuan juga dihadiri oleh perwakilan Qatar, Saudi Arabia, Mesir, dan Uni Emirat Arab, untuk membahas sengketa nuklir yang telah berlangsung lama.
Dampak dan Respons Protes di Iran
Kerusuhan bermula dari kekecewaan ekonomi yang mendalam, namun berkembang menjadi tuntutan penggulingan sistem pemerintahan yang dipimpin oleh Ayatollah. Saat protes berlangsung, jaringan internet dipadamkan dan Garda Revolusi Islam (IRGC) menindak brutal para demonstran. Laporan hak asasi manusia menyebut sedikitnya enam ribu orang tewas.
Salah satu kasus yang menarik perhatian internasional adalah penangkapan dan ancaman eksekusi terhadap Erfan Soltani, seorang demonstran berusia 26 tahun. Ia ditangkap atas tuduhan “bersekongkol melawan keamanan negara” dan “propaganda.” Setelah mendapat sorotan global, Soltani akhirnya dibebaskan dengan jaminan.
Pemulihan akses internet yang lambat diikuti dengan munculnya video pemakaman korban. Namun, televisi negara justru menuai kecaman setelah membawakan acara yang menghina para demonstran yang gugur, termasuk membuat candaan kasar mengenai penyimpanan jenazah mereka.
Respons Politik dan Sanksi Internasional
Parlemen Iran bereaksi dengan menyatakan semua angkatan militer Uni Eropa sebagai organisasi teroris sambil mengenakan seragam IRGC dan meneriakkan slogan “Kematian untuk Amerika” serta “Kematian untuk Israel.” Sementara itu, Uni Eropa memberi sanksi terhadap sepuluh individu dan satu organisasi yang dianggap mendukung kekerasan terhadap rakyat Iran.
Di antara yang disanksi adalah Menteri Dalam Negeri Eskandar Momeni, yang bertanggung jawab atas kepolisian, serta Kepala Keamanan Publik Seyed Majid Feiz Jafari. Kedua pejabat ini disebut memimpin operasi penindasan terhadap demonstran damai.
Perkembangan ini menegaskan adanya retakan besar di tubuh rezim Iran sebagai akibat langsung dari protes dan penanganan pemerintah yang kontroversial. Ketegangan yang memanas berpotensi mengubah lanskap politik dan sosial di negara tersebut dalam waktu dekat.







