
China tengah mengembangkan jaringan pelabuhan strategis di Afrika sebagai bagian dari upayanya memperluas kekuatan angkatan laut dan kehadiran militernya. Investasi masif dan pembangunan pelabuhan yang dapat menampung kapal perang menunjukkan ambisi Beijing untuk mengendalikan rute maritim penting di kawasan tersebut.
Gambar satelit yang diperoleh The Telegraph memperlihatkan transformasi pelabuhan di berbagai negara Afrika, mulai dari Lekki di Nigeria hingga Mombasa di Kenya, yang kini tidak hanya melayani perdagangan namun juga dapat mengakomodasi kapal militer. Pelabuhan-pelabuhan ini dikelola oleh perusahaan milik negara China dan sering dihubungkan dengan proyek infrastruktur seperti rel kereta dan jalan yang dibangun untuk mendukung pengangkutan bahan mineral penting.
Menurut pakar pertahanan, jaringan pelabuhan ini memungkinkan China mengerahkan kapal perusak dan mengontrol jalur kritis seperti Terusan Suez. Selain itu, akses ke bahan mentah seperti tembaga dan kobalt sangat vital untuk teknologi tinggi yang digunakan militer hingga perangkat elektronik. China dapat memantau barang dan kargo sensitif melalui kendali operasional atas pelabuhan-pelabuhan tersebut.
Pusat Studi Strategi Afrika (ACSS) mencatat bahwa perusahaan China terlibat dalam pengelolaan lebih dari sepertiga pelabuhan komersial Afrika, proporsi yang lebih besar dibandingkan dengan kehadiran mereka di Amerika Latin maupun Asia. China konsisten mengembangkan pelabuhan kelas dunia yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tapi juga menyediakan fasilitas logistik militer. Contohnya adalah pelabuhan dalam laut dalam Lekki yang berhasil menangani lebih dari 9 miliar dolar nilai kargo dalam sembilan bulan pertama beroperasi.
Beberapa pelabuhan yang dapat digunakan untuk tujuan militer meliputi Lekki (Nigeria), Luanda (Angola), Mombasa (Kenya), Walvis Bay (Namibia), Victoria (Seychelles), dan Dar es Salaam (Tanzania). Pakar dari Royal United Services Institute (RUSI) menyatakan pelabuhan-pelabuhan ini sengaja dibangun dengan desain dual-use, yang berarti bisa digunakan untuk operasi sipil saat damai serta mendukung operasi militer seperti pengisian bahan bakar dan pendaratan kapal perusak.
Kehadiran kapal perang China di perairan Afrika sudah menjadi pemandangan rutin, termasuk partisipasi dalam latihan bersama BRICS di perairan sekitar Cape Town. Jangkauan operasional armada China kini meluas melintasi Samudra Atlantik dan Hindia, memperkuat posisi strategis mereka di tengah persaingan global dengan Amerika Serikat.
China juga sudah memiliki pangkalan logistik angkatan laut di Doraleh, Djibouti, yang letaknya sangat strategis dekat Terusan Suez. Kendali atas infrastrukur pelabuhan memungkinkan Beijing memantau dan mengatur kunjungan kapal, bahkan menawarkan tarif dan layanan istimewa bagi kapal dan kargo China. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terkait kedaulatan dan keamanan negara-negara Afrika pemilik pelabuhan.
Fokus Amerika Serikat menuju ekspansi angkatan laut dan diplomasi berperahu guna mempertahankan pengaruhnya terlihat dalam kebijakan-kebijakan agresif seperti ancaman invasi dan penyitaan aset minyak. Namun, China mampu memanfaatkan pendekatan bisnis yang efisien dan biaya rendah sehingga menjadi mitra favorit negara-negara Afrika dalam pembangunan infrastruktur serta memperluas perdagangan.
Dengan jaringan pelabuhan yang kuat dan terintegrasi melalui proyek transportasi darat, China mendorong terciptanya jalur pasokan bahan baku di luar jangkauan sanksi Barat. Ini memberikan keuntungan strategis apabila ketegangan geopolitik, misalnya terkait Taiwan, memicu isolasi ekonomi dari negara-negara barat. Strategi ini juga tercermin dari apresiasi Beijing terhadap ketahanan ekonomi Rusia di tengah sanksi akibat konflik Ukraina.
Kementerian Luar Negeri China menepis tuduhan bahwa investasi pelabuhan mereka di Afrika merupakan ancaman militer, menyebutnya sebagai usaha kerja sama ekonomi dan perdagangan semata. Meski demikian, negara-negara barat masih waspada dengan perluasan pengaruh maritim China yang berpotensi mengubah peta kekuatan di wilayah Afrika dan samudra sekitarnya.
China kini menjadi pemain utama dalam perang pengaruh global di lautan, memanfaatkan pelabuhan-pelabuhan komersial sebagai pijakan militer dan pusat logistik strategis. Dengan keberadaan tersebut, Beijing tidak hanya memenuhi kebutuhan ekonominya, tetapi juga memperkuat posisi tawarnya dalam persaingan kekuatan dunia, khususnya melawan Amerika Serikat dan sekutunya.





