Polisi Tunisia telah menangkap anggota parlemen Ahmed Saidani, yang dikenal sebagai pengkritik keras Presiden Kais Saied. Penangkapan ini merupakan bagian dari tindakan tegas pemerintah terhadap para pengkritiknya yang semakin meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Ahmed Saidani menarik perhatian publik setelah mengekspresikan sindiran tajam terhadap Presiden Saied lewat sebuah unggahan di Facebook. Ia menyebut Saied sebagai “komandan tertinggi saluran air limbah dan drainase,” sekaligus mengkritik kurangnya pencapaian yang berhasil diraih oleh sang presiden.
Saidani berhasil terpilih sebagai anggota parlemen pada akhir tahun lalu melalui pemilihan dengan tingkat partisipasi pemilih yang sangat rendah. Pemilu ini berlangsung setelah Saied membubarkan parlemen sebelumnya dan memberhentikan pemerintahan yang ada pada 2021.
Sejak saat itu, Presiden Saied menjalankan pemerintahannya dengan peraturan melalui dekrit, langkah yang dianggap oleh oposisi sebagai tindakan kudeta. Sebagian besar tokoh oposisi, jurnalis, serta pengkritik Saied telah ditahan sejak Presiden menguasai sebagian besar kekuasaan negara pada 2021.
Aktivis dan kelompok hak asasi manusia menggambarkan Tunisia saat ini seperti “penjara terbuka” akibat tindakan keras Saied dalam membungkam lawan politiknya. Presiden sendiri membantah tuduhan diktator, mengklaim bahwa ia hanya menegakkan hukum dan berusaha membersihkan negara dari masalah yang ada.
Menariknya, Saidani yang sebelumnya mendukung kebijakan Saied dalam menghadapi penentang politik, kini menjadi kritikus vokal. Ia menuding Saied berusaha menguasai seluruh pengambilan keputusan pemerintah tanpa mau bertanggung jawab atas akibatnya.
Dalam kritiknya yang lain, Saidani mengecam kebiasaan Presiden yang kerap berfoto dengan kaum miskin, menyindir bahwa Saied tidak hanya mengklaim memiliki solusi untuk Tunisia, tetapi juga mengaku memiliki pendekatan global yang dapat menyelamatkan umat manusia.
Meskipun demikian, menurut hukum Tunisia, para anggota parlemen dilindungi oleh kekebalan parlemen dan tidak dapat ditangkap dalam menjalankan tugasnya. Penahanan hanya diperbolehkan jika anggota parlemen tertangkap basah melakukan tindak kriminal.
Kasus penangkapan Ahmed Saidani mencerminkan ketegangan politik yang terus meningkat di Tunisia saat ini. Hal ini menjadi perhatian internasional karena menggambarkan tekanan yang terus berlanjut terhadap oposisi di negara yang dikenal sebagai satu-satunya demokrasi yang bertahan pasca-Arab Spring.
