Kolombia berhasil menewaskan tujuh anggota gerilya dalam operasi militer yang dilaksanakan setelah Presiden Gustavo Petro dan Donald Trump sepakat untuk melakukan aksi bersama menargetkan para bos narkoba. Kesepakatan ini menimbulkan reaksi kuat dari kartel narkoba terbesar di Kolombia yang menarik diri sementara dari pembicaraan damai yang sedang berlangsung.
Presiden Petro dan Trump melakukan pertemuan di Gedung Putih dan sepakat melakukan operasi militer dan intelijen bersama untuk menindak tiga capo narkoba paling dicari di Kolombia. Tiga target utama adalah Ivan Mordisco, seorang pemberontak paling dicari di Kolombia; Chiquito Malo, pimpinan kartel Gulf Clan; dan Pablito, pemimpin gerilya ELN yang beroperasi di perbatasan dengan Venezuela.
Operasi Militer dan Dampaknya
Tujuh anggota ELN atau Tentara Pembebasan Nasional berhasil ditembak mati oleh militer Kolombia di wilayah dekat perbatasan Venezuela. ELN merupakan kelompok gerilya tertua di Amerika yang mendanai kegiatannya sebagian besar melalui perdagangan narkoba serta aktivitas ilegal lainnya. Operasi tersebut dirancang sebelum pertemuan antara Petro dan Trump dan dilakukan tanpa keterlibatan pasukan Amerika.
Kolombia memproduksi sekitar 70 persen kokain dunia, dengan Amerika Serikat sebagai konsumen terbesar. Setelah pengumuman kerja sama anti-narkoba, Gulf Clan menyatakan akan menarik diri sementara dari pembicaraan perdamaian yang sudah berjalan selama lima bulan di Qatar.
Peran Venezuela dalam Upaya Anti-Narkoba
Menteri Pertahanan Kolombia, Pedro Sanchez, menyatakan bahwa Venezuela akan diajak bergabung dalam kampanye anti-narkoba ini. Pemerintah Kolombia lama menuduh Caracas memberikan dukungan dan tempat berlindung kepada kelompok gerilya kiri dan jaringan perdagangan kokain.
Seiring dengan penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer AS, harapan muncul agar kerja sama keamanan dan penanganan narkoba bisa meningkat antara kedua negara.
Latar Belakang Konflik dan Upaya Perdamaian
Konflik bersenjata di Kolombia berakar pada tahun 1980-an ketika kelompok paramiliter sayap kanan muncul untuk melawan gerilya Marxis yang bertujuan mengatasi kemiskinan dan marginalisasi politik terutama di daerah pedesaan. Banyak kelompok bersenjata kemudian menjadikan narkoba sebagai sumber utama pendapatan, menyebabkan persaingan sengit antara kelompok-kelompok tersebut dan pemerintah.
Meskipun sejak perjanjian damai dengan FARC tahun 2016 situasi relatif lebih tenang, meningkatnya kekerasan kembali terjadi menjelang pemilihan presiden 2026. Serangan bom dan drone serta pembunuhan calon presiden menjadi tanda meningkatnya ketegangan.
Risiko Kekerasan Jelang Pemilu
Ivan Mordisco, salah satu target operasi, mengancam akan mengganggu jalannya pemilihan presiden sebagai respons terhadap serangan militer. Ia memimpin faksi FARC yang menolak perjanjian damai 2016.
Sementara itu, komandan ELN Antonio Garcia menyatakan akan bergabung dengan Mordisco untuk "membela tanah air dari agresi asing". Kondisi ini membuat sekitar sepertiga wilayah nasional Kolombia berisiko tinggi mengalami kekerasan politik selama proses pemilu.
Kerja Sama AS-Kolombia dalam Melawan Narkoba
Selama beberapa dekade, Kolombia menjadi mitra utama Amerika Serikat di Amerika Latin dengan dukungan dana miliaran dolar untuk memerangi perdagangan narkoba. Hubungan sempat memburuk di masa pemerintahan Petro, presiden kiri pertama Kolombia, terutama karena produksi kokain meningkat dan sikapnya yang mendorong negoisasi damai menyeluruh dengan kelompok bersenjata.
Dalam upaya menjalin kepercayaan sebelum bertemu langsung dengan Trump, Petro mengekstradisi seorang gembong narkoba ke AS setelah menghentikan sementara kebijakan ekstradisi.
Kesepakatan militer dan intelijen bersama antara Kolombia dan Amerika Serikat menandai perubahan signifikan dalam upaya pemberantasan narkoba serta potensi pergeseran dalam strategi keamanan yang telah lama menjadi fokus kedua negara di wilayah tersebut.





