Baterai Sodium Mulai Menyalip, Truk Listrik Bisa 20 Persen Lebih Jauh dan Lebih Murah

Perkembangan baterai kendaraan listrik memasuki babak baru saat teknologi sodium-ion mulai menunjukkan kemampuan yang tidak lagi bisa dianggap remeh. Sejumlah pengembang di China melaporkan pencapaian yang membuat baterai berbasis natrium ini mulai dipandang sebagai kandidat kuat untuk menantang dominasi lithium-ion di segmen tertentu, terutama kendaraan komersial.

HiNa Battery bersama JAC Motors disebut tengah mendorong pengembangan baterai sodium dengan target performa yang dapat menyaingi, bahkan melampaui, lithium-ion pada 2027. Uji awal juga memperlihatkan hasil yang menarik, termasuk efisiensi pengisian cepat dan ketahanan di suhu ekstrem yang selama ini menjadi tantangan besar bagi baterai kendaraan listrik.

Baterai sodium mulai naik kelas

Selama ini, lithium-ion menjadi standar utama untuk mobil listrik berkat kepadatan energi yang tinggi dan infrastruktur yang sudah berkembang. Namun, sodium mulai mencuri perhatian karena bahan bakunya lebih melimpah dan tidak bergantung pada material langka seperti kobalt atau nikel.

Karakteristik itu membuat sodium-ion dianggap lebih menarik dari sisi rantai pasok dan potensi biaya produksi. Dalam konteks industri kendaraan listrik, faktor tersebut sangat penting karena harga baterai masih menjadi komponen terbesar dalam struktur biaya mobil listrik.

Kinerja yang mulai terbukti di lapangan

Salah satu data paling menonjol datang dari pengujian truk listrik berbaterai sodium yang dikembangkan di China. Kendaraan itu diklaim mampu menempuh jarak hingga 20 persen lebih jauh dibandingkan baterai lithium-ion konvensional dalam skenario tertentu.

Hasil itu menunjukkan bahwa sodium-ion tidak hanya unggul di atas kertas, tetapi juga mulai masuk ke fase pembuktian teknis. HiNa Battery bahkan menyebut pengembangan teknologi tersebut telah memasuki tahap produksi awal untuk kendaraan niaga.

Keunggulan utama baterai sodium-ion

  1. Tahan di suhu ekstrem hingga minus 40 derajat Celsius.
  2. Pengisian daya lebih cepat, yakni sekitar 20 hingga 30 menit.
  3. Bahan baku lebih melimpah dan lebih mudah diakses.
  4. Berpotensi menekan biaya produksi kendaraan listrik.
  5. Cocok untuk kendaraan komersial yang menuntut operasional tinggi.

Kemampuan bertahan di suhu minus 40 derajat Celsius menjadi nilai jual yang penting. Pada lithium-ion, performa biasanya menurun saat cuaca sangat dingin, sehingga sodium-ion berpeluang besar dipakai di wilayah dengan iklim ekstrem.

Fast charging yang mendekati standar kendaraan modern

Artikel referensi juga menyoroti klaim pengisian daya supercepat dari baterai sodium-ion buatan BAIC, yang disebut bisa terisi penuh dalam 11 menit berkat teknologi fast charging 4C. Data ini memperkuat gambaran bahwa sodium-ion sedang didorong untuk mengejar kebutuhan pasar yang semakin menuntut waktu isi ulang singkat.

Meski dalam pengujian lain waktu pengisian disebut berada di kisaran 20 hingga 30 menit, arah pengembangannya tetap jelas: baterai sodium ditargetkan agar kompatibel dengan mobilitas harian dan operasional armada yang tidak bisa lama berhenti.

Peta persaingan industri mulai bergerak

Perubahan ini juga menarik perhatian pemain besar seperti CATL dan BYD yang mulai mengarah ke produksi massal dan implementasi di kendaraan. Dalam ekosistem kendaraan listrik China yang sangat agresif, langkah ini bisa mempercepat transisi sodium-ion dari tahap uji coba menuju pasar yang lebih luas.

Berikut perbedaan ringkas antara dua teknologi baterai itu:

AspekSodium-ionLithium-ion
Bahan bakuMelimpahLebih bergantung pada material tertentu
Ketahanan suhu dinginSangat baikCenderung menurun
Kepadatan energiLebih rendahLebih tinggi
Biaya produksiBerpotensi lebih murahRelatif lebih mahal
Kesesuaian awalKendaraan komersialMobil penumpang jarak jauh

Mobil listrik penumpang pertama dengan baterai sodium dikabarkan akan mulai diproduksi di China dan dipasarkan secara terbatas pada 2026. Namun, untuk kendaraan penumpang yang membutuhkan jarak tempuh jauh, lithium-ion masih unggul karena kepadatan energinya lebih tinggi.

Masih ada batas yang perlu diatasi

Kelemahan utama sodium-ion saat ini ada pada kepadatan energi yang lebih rendah dibanding lithium-ion. Artinya, untuk mobil penumpang yang menuntut jarak lebih jauh dalam sekali pengisian, teknologi ini belum sepenuhnya bisa menggantikan lithium-ion.

Karena itu, sejumlah produsen mulai mengembangkan sistem kombinasi sodium dan lithium dalam satu kendaraan. Pendekatan ini dinilai bisa menjadi jalan tengah, dengan sodium dipakai untuk efisiensi biaya dan ketahanan suhu, sementara lithium tetap menjaga jarak tempuh kendaraan.

Dengan perkembangan yang makin nyata, baterai sodium kini tidak lagi sekadar alternatif teoritis. Teknologi ini mulai membentuk posisi baru dalam industri kendaraan listrik, terutama saat pasar mencari baterai yang lebih murah, lebih tahan lama di kondisi ekstrem, dan lebih cepat diisi ulang.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com

Berita Terkait

Back to top button