
Kenaikan harga minyak dunia mulai mengubah cara perusahaan menekan biaya operasional. Di tengah harga BBM yang ikut terdorong naik, mobil listrik kini makin dilirik sebagai opsi kendaraan operasional yang dianggap lebih efisien dan selaras dengan target keberlanjutan.
Perubahan ini tidak lagi sebatas wacana. Sejumlah pelaku usaha mulai memasukkan kendaraan listrik ke sistem distribusi mereka, termasuk perusahaan emiten kesehatan PT Medela Potentia Tbk (MDLA) melalui entitas anaknya, PT Anugrah Argon Medica (AAM).
Bagi perusahaan distribusi, lonjakan biaya energi menjadi tekanan langsung terhadap ongkos harian. Karena itu, pengalihan armada ke kendaraan listrik mulai dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga efisiensi tanpa mengorbankan layanan.
AAM menjadi salah satu contoh perusahaan yang sudah mulai menjalankan langkah tersebut. Perusahaan ini meluncurkan armada mobil listrik pertamanya sebagai bagian dari fase dekarbonisasi operasional.
Langkah itu disebut menandai perubahan pendekatan distribusi perusahaan. Fokusnya bukan hanya efisiensi logistik, tetapi juga pembangunan sistem operasional yang lebih rendah emisi dan berkelanjutan.
Menurut MDLA, dekarbonisasi dilakukan sebagai respons terhadap perubahan lanskap industri distribusi. Perusahaan menghadapi tuntutan efisiensi operasional, tekanan biaya energi, dan dorongan untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam model bisnis.
Direktur Utama PT Medela Potentia Tbk, Juliwaty, menyatakan penggunaan kendaraan listrik tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional. Langkah itu juga dinilai memperkuat kesiapan perusahaan dalam menghadirkan layanan distribusi yang cepat, tepat, dan aman di tengah dinamika kebutuhan pasar.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa kendaraan listrik tidak hanya dilihat dari sisi penghematan energi. Perusahaan juga menempatkannya sebagai bagian dari inovasi operasional yang lebih luas.
Transformasi dilakukan bertahap
Peralihan ke kendaraan listrik di AAM tidak dilakukan secara mendadak. Transformasi ini dibangun bertahap dan terintegrasi, dengan pengembangan dari kendaraan roda dua ke roda empat.
Hingga 2025, AAM telah mengoperasikan 106 unit motor listrik. Armada itu tersebar di 15 cabang yang berada di 13 kota.
Pengembangan ke mobil listrik menjadi tahap lanjutan dari strategi tersebut. Tujuannya untuk memperkuat sistem distribusi berbasis efisiensi energi sekaligus memperluas dampak operasional rendah emisi.
Pendekatan bertahap ini penting bagi perusahaan yang mengandalkan distribusi harian. Perubahan armada perlu disertai kesiapan sistem agar efisiensi benar-benar tercapai di lapangan.
AAM menyebut penguatan operasional juga dilakukan melalui optimalisasi rute distribusi. Selain itu, perusahaan memperkuat infrastruktur pendukung dan meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia.
Seluruh inisiatif itu dirancang sebagai satu kesatuan sistem. Sasaran utamanya adalah mendorong efisiensi sambil menjaga kualitas layanan distribusi.
Bukan sekadar ganti kendaraan
Peralihan ke mobil listrik untuk operasional tidak berhenti pada pengadaan armada. Perusahaan juga menyiapkan pelatihan Eco-Driving bagi pengemudi dan tim operasional.
Pelatihan ini ditujukan untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi energi. Di saat yang sama, program itu juga diarahkan untuk menjaga konsistensi praktik distribusi yang bertanggung jawab.
Aspek ini menjadi penting karena manfaat kendaraan listrik akan sangat dipengaruhi pola penggunaan di lapangan. Tanpa pengemudian yang efisien dan sistem kerja yang tepat, potensi penghematan bisa tidak maksimal.
Peluncuran armada mobil listrik AAM dilakukan di Kantor Cabang AAM Jakarta 2 pada Sabtu, 11 April 2026. Acara itu ditandai dengan penyerahan simbolis armada oleh HR & Sustainability Director PT Medela Potentia Tbk, Nancy Kartika, kepada Kepala Cabang AAM Jakarta 2, Ohio Friendzie.
Kegiatan tersebut juga disaksikan Direktur PT AAM, Budi Lim, bersama jajaran manajemen lainnya. Momentum ini menegaskan bahwa transisi operasional rendah emisi mulai ditempatkan sebagai agenda korporasi, bukan sekadar proyek uji coba.
Budi Lim menyatakan perusahaan terus mendorong keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan tanggung jawab lingkungan. Menurut dia, inovasi operasional akan terus dikembangkan agar tidak hanya menopang kinerja bisnis, tetapi juga memberi kontribusi nyata terhadap keberlanjutan lingkungan.
Dari sisi hasil, MDLA mencatat penurunan intensitas emisi gas rumah kaca sebesar 20 persen dari baseline pada 2025. Capaian itu disebut sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan praktik bisnis yang bertanggung jawab.
Di tengah BBM yang mahal, arah kebijakan perusahaan seperti ini menunjukkan kendaraan listrik mulai dipertimbangkan sebagai alat kerja, bukan hanya simbol teknologi baru. Bagi sektor distribusi dan jasa, keputusan memilih armada kini semakin berkaitan dengan efisiensi biaya energi, kesiapan operasional, dan target emisi yang lebih rendah.
Source: oto.detik.com








