Putus Asa dan Skeptisisme: Putaran Kedua Pembicaraan Damai Ukraina-Rusia Dimulai di Abu Dhabi

Perundingan damai trilateral melibatkan Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat kembali digelar di Abu Dhabi. Ini merupakan babak kedua setelah pertemuan awal pada akhir Januari yang menjadi pembicaraan tiga pihak pertama sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina hampir empat tahun lalu.

Meskipun putaran pertama dianggap "paling konstruktif sepanjang perang" oleh pejabat AS, momentum itu tampak menghilang saat pembicaraan kedua dimulai. Rusia justru melancarkan serangan besar-besaran pada infrastruktur energi Ukraina yang menghancurkan, membatalkan gencatan senjata energi yang sempat terjadi.

Serangan dilaporkan mencapai 450 drone dan lebih dari 60 rudal dalam rentang waktu sehari. Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menyebut serangan tersebut menyebabkan 1.170 gedung apartemen di Kyiv tanpa pemanas. Perusahaan energi swasta terbesar Ukraina, DTEK, menyifatkan serangan ini sebagai salah satu yang terburuk sepanjang perang.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam tindakan Rusia, menilai serangan itu sebagai bukti bahwa pemimpin Moskow tidak serius dalam proses diplomasi. Sementara penasihat Kementerian Industri Strategis Ukraina, Yuriy Sak, menilai serangan tersebut sebagai inkonsistensi Rusia yang mengaku ingin damai namun terus menghancurkan infrastruktur dan membuat warganya menderita di tengah musim dingin.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa serangan ditujukan pada sasaran yang dianggap terkait dengan kompleks militer rezim Kyiv. Sedangkan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, yang sempat mengunjungi Kyiv pasca serangan, mengungkapkan bahwa sasaran serangan justru adalah fasilitas sipil tanpa nilai militer, yang hanya bertujuan membuat warga menderita.

Tantangan Utama dalam Pembicaraan

Dua isu utama masih menjadi penghalang dalam mencapai kesepakatan damai yang langgeng. Pertama, tuntutan Rusia untuk Ukraina menyerahkan wilayah yang diduduki di wilayah Donbas. Kedua, keinginan Ukraina memperoleh jaminan keamanan dari kekuatan Barat untuk melindungi negara jika Rusia kembali menyerang setelah gencatan senjata dicapai.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Georgiy Tykhyi, mengatakan isu wilayah yang sulit dan sensitif tidak akan dibahas pada putaran ini, melainkan akan ditangani langsung oleh kepala negara ketiga pihak. Namun, ada peluang kemajuan pada aspek jaminan keamanan yang menjadi prioritas Ukraina setelah potensi gencatan senjata berlaku.

Delegasi Militer Memegang Peran Kunci

Kedua negara mengutus delegasi yang dipimpin oleh tokoh militer berpengaruh. Tim Ukraina dipimpin oleh Kyrylo Budanov, mantan kepala intelijen militer yang kini menjadi kepala staf presiden Zelenskyy. Di sisi Rusia, delegasi dipimpin oleh Igor Kostyukov, kepala layanan intelijen militer GRU.

Pertemuan antara tokoh militer dari kedua pihak dianggap dapat memperlancar pembahasan teknis terkait langkah-langkah konkret dalam jaminan keamanan. Yuriy Sak menilai peran mereka penting karena "militer berbicara dalam bahasa yang sama," sehingga dapat membuka ruang negosiasi pada aspek teknis.

Meski skeptisisme masih menyelimuti hasil yang solid, keyakinan bahwa ada kemungkinan kemajuan nyata turut tumbuh di kalangan pejabat Ukraina. Jika pembicaraan ke pemimpin negara berlanjut, rincian dan kompromi dapat dirancang demi kebaikan Ukraina dan perdamaian global.

Terkait