Hong Kong Federation of Students Bubarkan Organisasi Pro-Demokrasi Karena Tekanan Semakin Berat

Organisasi mahasiswa pro-demokrasi di Hong Kong yang telah berdiri sejak 1958 mengumumkan pembubarannya akibat tekanan yang semakin berat. Federasi Mahasiswa Hong Kong (HKFS) menyatakan bahwa keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan situasi yang semakin sulit bagi anggotanya.

HKFS dikenal sebagai pelopor mobilisasi mahasiswa dalam berbagai gerakan sosial di Hong Kong. Mereka aktif dalam memperjuangkan reformasi dan hak-hak demokrasi selama hampir tujuh dekade sejak perubahan sikap dari yang awalnya pro-Beijing pada 1980-an.

Ketua Dewan Perwakilan HKFS, Isaac Lai, menyebutkan bahwa anggota organisasi menghadapi ancaman serius, termasuk surat ancaman dan penguntitan. Lai menambahkan bahwa tidak ada alternatif lain selain membubarkan organisasi karena risiko yang dihadapi sangat besar.

HKFS pernah menjadi anggota pendiri aliansi yang mengadakan peringatan untuk tragedi Tiananmen 1989 yang kini dilarang sejak 2020. Setelah penyerahan kedaulatan Hong Kong ke Tiongkok pada 1997, HKFS tetap aktif sebagai kekuatan utama dalam gerakan pro-demokrasi.

Salah satu momen penting mereka adalah kampanye boikot kelas pada 2014 yang memicu gerakan Occupy Central. Gerakan ini mengumpulkan ratusan ribu warga Hong Kong untuk duduk di kawasan bisnis utama selama 79 hari menuntut pemilihan umum yang benar-benar demokratis.

Pada saat kunjungan pada hari Kamis, seorang jurnalis melihat papan nama HKFS sudah hilang dari alamat resmi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh organisasi ini sudah benar-benar menghilang.

Aktivitas serupa di universitas-universitas Hong Kong juga mengalami penurunan drastis. Banyak organisasi mahasiswa yang menyusut atau bahkan dibubarkan setelah diberlakukannya Undang-Undang Keamanan Nasional oleh Beijing pada 2020.

Beberapa contoh lain termasuk penangguhan operasi serikat mahasiswa Universitas Baptis Hong Kong setelah mereka menulis pesan belasungkawa atas kebakaran yang menewaskan 168 orang. Beberapa serikat mahasiswa lain juga bubar karena tidak mendapat pengakuan resmi dari institusi pendidikan.

Hong Kong Centre for Human Rights menyatakan bahwa tekanan yang sistematis dan terus-menerus membuat ruang gerak organisasi mahasiswa semakin menyempit. Mereka menilai situasi ini mencerminkan keterbatasan kebebasan sipil di kota tersebut.

Isaac Lai menegaskan bahwa partisipasi mahasiswa dalam masyarakat sipil kini sangat sulit. Meski begitu, mereka bertekad tetap menyuarakan ketidakadilan sosial dan mendorong perubahan.

Lai mengingatkan pentingnya kekuatan individu dalam menghadapi tantangan yang besar. Meskipun organisasi formal bubar, semangat perjuangan dan aspirasi pro-demokrasi di kalangan mahasiswa tidak akan padam.

Terkait