
Penyelidikan terbaru mengungkap adanya kelompok milisi bersenjata di Gaza yang berperan sebagai agen Israel dalam konflik yang sedang berlangsung. Kelompok-kelompok ini bergerak bebas di wilayah yang dilarang untuk warga Palestina, bahkan melintasi zona penyangga yang dibentuk dalam kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
Al Jazeera, melalui program dokumenter "What is Hidden is Greater," menampilkan rekaman audio dan video yang mengungkap bagaimana individu-individu tersebut direkrut dan beroperasi di Gaza. Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa milisi ini bergerak dari utara ke selatan Gaza melewati “garis kuning” yang menjadi batas efektif wilayah pengawasan tentara Israel.
Investigasi ini juga mengungkap pelanggaran gencatan senjata oleh Israel yang terjadi hampir tiap hari dan telah menewaskan lebih dari 525 warga Palestina. Peta militer Israel menunjukkan garis tersebut membentang 1,5 hingga 6,5 kilometer ke dalam wilayah Gaza dari perbatasan timur dengan Israel, mencakup sekitar 58 persen area Gaza.
Kelompok militan yang terlibat menghadapi tuduhan berat atas kolaborasi dengan pasukan pendudukan Israel. Mereka disebutkan bergerak di wilayah-wilayah yang semestinya terlarang bagi warga Palestina berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, meskipun ada penyangkalan dari sebagian kelompok tersebut.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka mengakui pada Juni lalu bahwa negara tersebut mengaktifkan kelompok milisi lokal di Gaza berdasarkan rekomendasi petugas keamanan. Langkah ini diambil sebagai strategi melawan Hamas yang berkuasa di wilayah tersebut.
Salah seorang wanita Palestina yang kembali ke Gaza melalui perbatasan Rafah mengungkapkan kepada Reuters bahwa dirinya dan sejumlah perempuan lainnya dihentikan di pos pemeriksaan yang dijaga oleh kelompok milisi yang didukung Israel, yakni Abu Shabab. Nama keluarga mereka disebutkan di pengeras suara, kemudian mereka dibawa ke titik keamanan di mana pasukan Israel menunggu untuk melakukan pemeriksaan lengkap, termasuk penggeledahan dan interogasi terkait serangan Hamas pada 7 Oktober.
Sejak perang yang meletus bulan Oktober, konflik tersebut telah menewaskan sedikitnya 71.851 orang dan melukai 171.626 warga Palestina di Gaza. Dalam konteks ini, kolaborasi milisi yang berafiliasi dengan Israel menjadi sorotan utama penyelidikan.
Kelompok-kelompok Milisi yang Terlibat
Popular Forces (Abu Shabab Militia)
Didirikan oleh Yasser Abu Shabab yang meninggal pada Desember. Kepemimpinan kini dipegang oleh Ghassan al-Dahini. Mereka mengklaim ikut menjaga kawasan distribusi bantuan yang didukung AS dan Israel melalui Gaza "Humanitarian" Foundation (GHF).Gaza "Humanitarian" Foundation (GHF)
Organisasi ini dikritik keras karena melewati lembaga kemanusiaan resmi seperti PBB. GHF juga terkait dengan kasus kekerasan yang menewaskan dan melukai ribuan warga Gaza yang mengantre bantuan pangan.- Strike Force Against Terror
Dipimpin oleh Hussam al-Astal, mantan perwira keamanan Otoritas Palestina (PA). Al-Astal pernah dituduh oleh PA dan Hamas bekerja sama dengan Israel pada dekade 1990-an. Anggota kelompok ini terlihat di wilayah yang dilarang oleh Palestina berdasarkan kesepakatan gencatan senjata di kota Khan Younis, Gaza selatan.
Kelompok Popular Forces dituduh melakukan penjarahan bantuan kemanusiaan yang kemudian dijual kembali kepada penduduk Gaza yang kelaparan. Selain itu, Hamas juga diketahui sempat bentrok dengan kekuatan ini sejak September karena dugaan kolaborasi milisi tersebut dengan Israel.
Investasi dan dukungan Israel terhadap kelompok milisi ini menambah kerumitan konflik serta memperparah kondisi kemanusiaan di Gaza. Peran para milisi sebagai agen intelijen di wilayah yang terkepung menimbulkan pertanyaan serius tentang dinamika internal di dalam Gaza dan masa depan perdamaian yang rapuh.





