Pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Oman menghadapi ketidakpastian besar akibat tuntutan maksimalis yang diajukan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump. Permintaan tersebut tidak hanya menuntut penghentian program nuklir Iran, tetapi juga pembatasan program rudal balistik dan penghentian dukungan Iran kepada kelompok-kelompok proxy di kawasan.
Pertemuan di Muscat ini merupakan yang pertama sejak serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu, yang memperkeruh hubungan kedua negara. Dalam beberapa bulan terakhir, gelombang protes anti-pemerintah di Iran makin meluas, sementara AS terus mengancam intervensi militer dan memberlakukan sanksi berat.
Tuntutan Maksimal dari Pemerintahan Trump
Pemerintahan Trump masuk dalam putaran pembicaraan terbaru dengan daftar tuntutan yang sangat luas. Selain menekan Iran untuk menghentikan program nuklirnya, Washington juga menuntut pembatasan rudal balistik dan pengakhiran dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di wilayah regional. Direktur Studi Timur Tengah di George Washington University, Sina Azodi, menyatakan, “AS merasa Iran sedang dalam posisi lemah, sehingga waktu ini dianggap tepat untuk menekan dengan tuntutan maksimal agar mendapat konsesi sebanyak mungkin.”
Namun, tuntutan yang terlalu luas ini berpotensi menggagalkan pembicaraan secara keseluruhan. Bahkan, laporan menyebutkan agenda AS ini sempat menimbulkan ketegangan di antara delegasi, yang melibatkan utusan khusus Trump Steve Witkoff, menantu Presiden Jared Kushner, dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Strategi AS yang Tidak Jelas
Selama masa jabatan kedua Trump, strateginya dinilai tidak menentu dan terkadang mengikuti pendekatan “madman theory” yang kerap membingungkan pihak lain. Pembicaraan kali ini diselenggarakan setelah serangkaian serangan AS terhadap target nuklir Iran pada Juni, meskipun pembicaraan masih dijadwalkan sebelumnya dan batas waktu yang ditetapkan Presiden Trump telah lewat.
Ali Vaez dari International Crisis Group menilai, “Sulit memastikan apakah fokus AS terbatas pada isu nuklir sesuai pernyataan presiden atau meluas menjadi tuntutan penuh seperti yang diutarakan Sekretaris Rubio.” Ia menambahkan bahwa AS cenderung memasuki negosiasi tanpa strategi negosiasi tetap dan menyesuaikan posisi secara dinamis berdasarkan respons Iran.
Trump berpotensi menggunakan pembicaraan ini untuk mengurangi ketegangan militer yang sedang berlangsung, terutama setelah aksi protes di Iran mulai tertekan. Namun, tekanan dari beberapa pejabat AS yang keras terhadap Iran dapat mempersulit jalan menuju kesepakatan damai.
Isu Rudal Balistik dan Kedaulatan Iran
Pembatasan program rudal balistik menjadi salah satu garis merah bagi Iran. Azodi menjelaskan bahwa program rudal adalah satu-satunya alat penangkal paling kuat yang dimiliki Iran saat ini. Ia memperingatkan, “Jika rudal Iran dibatasi atau dikurangi, negara itu akan menjadi rentan terhadap serangan Israel di masa depan dan kehilangan kedaulatannya.”
Pengurangan persenjataan rudal tidak hanya sulit diterima oleh Iran, tetapi juga akan mengundang risiko keamanan nasional yang sangat tinggi. Oleh karena itu, meski Iran terbuka untuk membahas batasan tertentu, langkah pengurangan lebih lanjut kemungkinan akan ditolak keras.
Dampak Regional dan Posisi Sekutu AS
Pembicaraan ini berlangsung bersamaan dengan seruan de-eskalasi dari negara-negara Teluk yang khawatir akan dampak konflik yang lebih luas di kawasan. Saat ini terdapat delapan pangkalan militer AS di Timur Tengah, yang menjadi sumber ketegangan setelah serangan balasan Iran terhadap pangkalan di Qatar.
Iran memperingatkan bahwa serangan terhadapnya bisa berujung perang regional. Ketegangan meningkat setelah militer AS menembak jatuh drone Iran dan mengklaim Iran mengancam kapal dagang AS di Selat Hormuz. Di sisi lain, pejabat AS bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menuntut pendekatan militer terhadap Iran dan skeptis terhadap komitmen diplomatik Iran.
Menurut Khalil Jahshan dari Arab Center Washington, sikap AS menunjukkan “sinkronisasi posisi” dengan Israel. Ia menilai pembicaraan ini mungkin hanya sebagai alat untuk meredam keberatan dari sekutu Arab AS, bukan untuk menghindari aksi militer tambahan.
Respon Iran dan Tantangan Negosiasi
Meskipun tekanan sanksi dan kerusuhan domestik melemahkan Iran, pengamat seperti Negar Mortazavi menyebutkan ada elemen dalam pemerintah Iran yang menganggap negosiasi ini sebagai tipu muslihat untuk menutupi tujuan militer dan perubahan rezim oleh AS.
Meski demikian, kedua pihak tampak memasuki pembicaraan dengan keinginan mengurangi ketegangan, meski posisi mereka sangat berjarak. Mortazavi menyampaikan, “Iran serius dalam negosiasi, namun tetap waspada dan siap menghadapi ancaman serangan militer.”
Ali Vaez menegaskan bahwa meskipun rezim Iran melemah, mereka tidak dianggap lemah. Sikap ini menunjukkan bahwa pembicaraan akan berjalan penuh risiko dengan potensi kesalahan yang dapat memicu konflik yang tidak diinginkan.
Pembicaraan antara AS dan Iran di Oman menggambarkan ketegangan diplomatik yang rumit. Tuntutan maksimalis dari pihak AS dan sikap defensif Iran bakal menjadi kendala utama. Keberhasilan negosiasi ini sangat tergantung pada kemampuan kedua pihak menyeimbangkan tuntutan keamanan dan keinginan mengurangi konflik di kawasan Timur Tengah.
