Pemerintah Amerika Serikat berencana menggelar pertemuan pertama untuk "Board of Peace" terkait Gaza pada tanggal 19 Februari di Washington. Pertemuan ini sekaligus akan menjadi konferensi penggalangan dana untuk rekonstruksi Gaza, menurut laporan Axios yang mengutip pejabat AS dan diplomat dari empat negara anggota dewan tersebut.
Pertemuan masih dalam tahap perencanaan awal dan bisa mengalami perubahan. Lokasi yang direncanakan adalah Kantor Institut Perdamaian AS di Washington, sehari setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden AS di Gedung Putih.
Latar Belakang dan Tujuan Board of Peace
"Board of Peace" diluncurkan oleh Presiden Donald Trump akhir Januari lalu. Dewan ini atas kepemimpinan Trump, diklaim akan menargetkan penyelesaian konflik global dengan fokus utama pada stabilisasi Gaza. Namun, banyak pakar meragukan efektivitasnya dan khawatir inisiatif ini dapat melemahkan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Respons internasional terhadap dewan ini cenderung berhati-hati. Beberapa sekutu AS di Timur Tengah bergabung, sementara sekutu tradisional Barat banyak yang belum menunjukkan minat. Dewan ini juga mendapat mandat dari resolusi Dewan Keamanan PBB yang disahkan November lalu untuk mengawasi kekuatan stabilisasi internasional di Gaza.
Kontroversi dan Kritik
Rencana Trump menempatkan dewan ini sebagai pengawas tata kelola sementara Gaza menimbulkan kontroversi. Banyak pakar hak asasi manusia mengatakan ini mirip struktur kolonial karena tidak melibatkan perwakilan Palestina. Keberadaan dewan dianggap mengabaikan suara utama yang terdampak langsung oleh konflik.
Sejak gencatan senjata sementara mulai Oktober, perdamaian di Gaza terus terancam dengan pelanggaran berulang. Lebih dari 550 warga Palestina dan empat tentara Israel dilaporkan tewas sejak perdamaian ini disepakati. Situasi di Gaza semakin memburuk dengan serangan Israel sejak akhir 2023 yang menyebabkan kematian lebih dari 71.000 warga Palestina sekaligus memicu krisis kelaparan dan pengungsian internal masif.
Dampak dan Kondisi Saat Ini
Berbagai lembaga hak asasi, akademisi, dan investigasi PBB menganggap operasi militer Israel di Gaza mengarah pada tindakan genosida. Israel beralasan bahwa langkah militernya adalah tindakan pembelaan diri setelah serangan dari kelompok militan Hamas yang menewaskan 1.200 orang dan menculik lebih dari 250 sandera.
Dalam konteks ini, pertemuan "Board of Peace" akan menjadi momen penting untuk menentukan arah bantuan dan stabilisasi Gaza. Meski penuh tantangan, langkah ini merupakan bagian dari upaya internasional memulihkan kondisi keamanan dan kemanusiaan di wilayah yang terdampak parah oleh konflik berkepanjangan.
Pertemuan mendatang di Washington diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan penggalangan dana dan koordinasi lebih luas antara negara-negara anggota "Board of Peace". Peran institusi seperti Institut Perdamaian AS akan krusial dalam memfasilitasi dialog dan implementasi rencana rekonstruksi Gaza di tengah kompleksitas situasi geopolitik yang ada.
