Sejumlah keluarga Kamboja kini kehilangan rumah dan mata pencaharian mereka setelah pasukan Thailand mengambil alih beberapa wilayah sengketa di perbatasan kedua negara. Peristiwa ini terjadi setelah pertempuran yang berlangsung tahun lalu, di mana pasukan Thailand berhasil menguasai area seluas beberapa kilometer persegi.
Di desa Chouk Chey, Kim Ren menceritakan rumah dan tanah yang dia miliki kini berada di pihak Thailand dan telah diratakan dengan bulldozer oleh tentara Bangkok pasca gencatan senjata. Ia mengungkapkan rasa putus asa, “Kami tidak punya lagi harapan,” saat diwawancara oleh AFP.
Penduduk desa yang terdampak lebih dari 1.200 keluarga kini mengungsi ke sebuah kuil sekitar 20 kilometer selatan desa mereka. Di sana, tenda-tenda yang disumbangkan oleh China dipenuhi oleh warga yang berusaha bertahan hidup dengan sedikit barang yang berhasil diselamatkan.
Sengketa perbatasan antara Kamboja dan Thailand ini berakar dari periode kolonial Prancis, yang menentukan garis batas sepanjang 800 kilometer antara kedua negara. Konflik ini kembali memanas tahun lalu dan menyebabkan puluhan korban jiwa serta lebih dari satu juta pengungsi di bulan Juli dan Desember.
Pemerintah Phnom Penh menuntut pasukan Thailand mundur dari wilayah yang mereka klaim direbut secara tidak sah, sementara Bangkok menegaskan bahwa mereka hanya merebut kembali tanah yang secara historis milik Thailand. Dalam wilayah yang kini dikuasai Thailand, bendera negeri tersebut berkibar dan kawat berduri tersebar di desa Klong Paeng.
Juru bicara militer Thailand, Winthai Suvaree, menyatakan bahwa pasukan mereka berhasil “mengambil alih” sekitar 64 hektar lahan di desa tersebut dan menegaskan operasi dilakukan dengan hati-hati karena masih ada penduduk yang tinggal di kawasan itu. Petani setempat seperti Pongsri Rapan mengaku kehilangan harta benda akibat serangan artileri, tetapi merasa aman dengan kehadiran militer.
Thailand berjanji bahwa lahan yang direbut tersebut nantinya akan dimanfaatkan oleh petani Thailand. Namun, dari sisi Kamboja, warga seperti Sok Chork mengeluhkan kehilangan rumah yang mereka bangun sejak 1980. “Saat masih hutan, itu bukan milik mereka. Tapi setelah orang Kamboja membangun rumah beton, mereka klaim tanah itu,” ujarnya.
Ketegangan sempat meningkat ketika ratusan warga Kamboja mencoba merobohkan kawat berduri pada September lalu dan direspons oleh tembakan peluru karet serta gas air mata dari pasukan Thailand. Di sisi lain kawat berduri, desa yang diberi nama Ban Ya Nong Kaew oleh Thailand juga menunjukkan kerusakan parah akibat pertempuran.
Seorang warga Thailand bernama Anupong Kannongha mengungkapkan rumahnya hampir rata dengan tanah akibat pengeboman, dan mengaitkan peristiwa ini dengan tindakan Kamboja. Ia mengatakan, “Ini benar-benar menyakitkan hati saya.”
Konflik perbatasan ini menunjukkan kompleksitas hubungan antara Kamboja dan Thailand yang telah berlangsung puluhan tahun. Kedua negara belum menemukan titik temu yang memuaskan, sementara penduduk di wilayah perbatasan terus menghadapi ketidakpastian dan kerugian besar akibat pertikaian tersebut.
