Canada telah lama menghadapi tantangan gerakan separatisme, terutama dari Quebec yang sempat menggelar referendum kemerdekaan pada 1995. Kini, muncul ancaman baru dengan dorongan separatisme di Alberta yang ingin bergabung dengan Amerika Serikat, sebuah dinamika yang memunculkan kekhawatiran serius tentang kedaulatan nasional.
Sebelumnya, pada 1995, para pemimpin separatis Quebec melakukan upaya diplomasi terbuka ke luar negeri, termasuk sebuah kunjungan resmi ke Prancis yang menuai protes keras dari Kanada berbahasa Inggris. Namun, pertemuan rahasia kelompok pemisah Alberta dengan pejabat Pemerintah AS dalam situasi sekarang menunjukkan ancaman yang lebih kompleks dan kurang transparan.
Perbedaan Mendasar Gerakan Separatisme Alberta dan Quebec
Pergerakan separatisme Quebec memiliki legitimasi politik yang kuat dengan beberapa perdana menteri memenangkan pemilu atas platform kemerdekaan. Sebaliknya, gerakan Alberta tidak didukung oleh pejabat terpilih dan tidak ada partai pro-kemerdekaan di legislatif provinsi tersebut. Menurut André Lecours, profesor ilmu politik dari Universitas Ottawa, kondisi ini membuat kontak kelompok Alberta dengan Pemerintah AS menjadi sangat kontroversial dan menimbulkan pertanyaan soal legitimasi demokratis.
Dukungan publik untuk kemerdekaan Alberta juga relatif kecil, hanya sekitar 18% berdasarkan survei terbaru. Bahkan beberapa tokoh politik penting Alberta, termasuk mantan perdana menteri Stephen Harper dan beberapa mantan perdana menteri provinsi, menolak gagasan pemisahan tersebut dan mengutamakan persatuan nasional.
Ancaman Terhadap Kedaulatan dan Politik Luar Negeri
Pertemuan rahasia dengan pejabat Pemerintah AS di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik antara Kanada dan Amerika Serikat menimbulkan kekhawatiran tentang campur tangan asing dalam urusan dalam negeri Kanada. Perdana Menteri British Columbia, David Eby, menyebut tindakan ini sebagai pengkhianatan. Hal ini didukung oleh kecemasan soal potensi penggunaan gerakan separatisme sebagai alat politik untuk melemahkan kekuatan Kanada secara nasional.
Donald Trump pernah mengancam akan menggabungkan Kanada sebagai negara bagian ke-51 di AS, sebuah ide yang disambut oleh sejumlah pemimpin separatis Alberta. Jeffery Rath, salah satu anggota delegasi Alberta yang bertemu dengan pejabat AS, bahkan menyatakan keinginan untuk mengajukan petisi agar Alberta menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Simak Tiga Fakta Penting Mengenai Gerakan Separatisme Alberta:
- Tidak ada pejabat terpilih yang berafiliasi dengan gerakan ini, sehingga legitimasi politiknya dipertanyakan.
- Hanya 18% warga Alberta yang mendukung kemerdekaan berdasarkan survei terbaru.
- Beberapa pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Keuangan Scott Bessent, memberikan sinyal dukungan verbal terhadap gerakan tersebut.
Perbandingan dengan Pendekatan Prancis terhadap Quebec
Ketika Quebec mengusahakan dukungan di Prancis, pemerintah Prancis menerapkan kebijakan “non-ingérence, non-indifférence” atau sikap netral resmi terhadap isu kemerdekaan Quebec. Berbeda dengan itu, pemerintah AS saat ini menunjukkan keterlibatan yang lebih pragmatis dan terbuka terhadap isu separatisme Alberta, yang berpotensi merusak hubungan bilateral kedua negara.
Mark Carney, mantan gubernur Bank of Canada, menekankan perlunya penghormatan atas kedaulatan Kanada oleh Pemerintah AS, namun juga mencerminkan kekhawatiran di tingkat tinggi Ottawa mengenai potensi intervensi di masa depan.
Jika referendum kemerdekaan di Alberta benar-benar terjadi, orkestra diplomatik dari Amerika Serikat mungkin tidak akan bersikap netral seperti di masa lalu terhadap Quebec. Sebaliknya, bisa muncul pesan yang jauh berbeda, mendukung aspirasi separatis dan memicu ketegangan baru dalam iklim politik Kanada.
