Mencampur Dua Jenis BBM Ternyata Bisa Jadi Bumerang, Ini Risiko Mesin yang Terancam

Author: Qoo Media

Kenaikan harga BBM nonsubsidi membuat sebagian pengendara tergoda mencari cara hemat di pom bensin. Salah satu cara yang ramai dilakukan adalah mengganti jenis BBM atau mencampur dua bahan bakar berbeda dalam satu tangki.

Namun, praktik itu tidak bisa dianggap aman begitu saja. Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menegaskan bahwa mengganti atau mencampur bensin dengan oktan berbeda dapat berdampak buruk pada kendaraan.

Risiko mesin saat BBM beroktan lebih rendah dipakai

Yannes menjelaskan, penggunaan BBM beroktan lebih rendah dapat memengaruhi kinerja mesin. Risiko utamanya meliputi mesin menjadi panas berlebih, tenaga turun drastis, dan konsumsi BBM justru meningkat.

Dalam pemakaian jangka menengah, dampaknya juga bisa merambat ke ruang bakar dan injektor. Pada jarak tempuh 10.000-20.000 km, keduanya berisiko mengalami penumpukan karbon.

Penumpukan itu membuat mesin bekerja kurang stabil. Akselerasi bisa tersendat dan emisi gas buang ikut memburuk.

Kendaraan berteknologi tinggi lebih rentan

Risiko tersebut disebut semakin besar pada kendaraan dengan spesifikasi tinggi. Contohnya mobil sport dengan turbo atau rasio kompresi tinggi.

Pada tipe kendaraan seperti ini, komponen internal mesin juga bisa ikut terdampak. Ring piston, misalnya, berisiko mengalami keausan lebih cepat.

Yannes menilai, dampak itu bukan sekadar gangguan performa sesaat. Jika dibiarkan, kondisi mesin bisa terus memburuk dan menambah beban perawatan.

Mencampur dua jenis BBM juga tidak disarankan

Selain mengganti ke oktan yang lebih rendah, mencampur dua jenis BBM juga tidak dianjurkan. Yannes menyebut setiap jenis BBM memiliki komposisi aditif dan karakteristik pembakaran yang berbeda.

Ia mencontohkan Pertamax Turbo dan Pertamax biasa. Keduanya tidak disarankan dicampur karena memiliki komposisi aditif, densitas, dan karakteristik pembakaran yang berbeda.

Campuran seperti itu dapat membuat angka oktan menjadi tidak stabil. Kondisi tersebut berpotensi memicu degradasi performa, pembakaran yang tidak merata, hingga knocking atau suara ketukan mesin yang muncul tidak teratur.

Endapan dan kerusakan sistem bahan bakar

Masalah lain yang dapat muncul adalah endapan di dalam sistem bahan bakar. Endapan ini bisa menyumbat filter dan mengganggu sistem injeksi.

Risikonya lebih besar pada sistem injeksi bertekanan tinggi seperti Common Rail atau Gasoline Direct Injection, karena kerja komponennya lebih sensitif. Jika masalah ini terus berlanjut, kerusakan dapat menjadi lebih serius dan mahal.

Yannes memperkirakan biaya perbaikannya bisa mencapai belasan juta rupiah. Angka itu jauh lebih besar dibanding penghematan yang diharapkan dari mencampur BBM.

Lebih aman ikuti spesifikasi pabrikan

Dari sisi perhitungan biaya, langkah hemat dengan mencampur BBM justru berpotensi menjadi bumerang. Pengeluaran kecil di awal bisa berubah menjadi tagihan perbaikan besar di kemudian hari.

Karena itu, Yannes menyarankan pengendara memilih satu jenis BBM sesuai spesifikasi yang ditentukan pabrikan. Cara ini dinilai lebih aman untuk menjaga performa kendaraan dan menghindari biaya perbaikan yang tidak perlu.

Source: voi.id
Terbaru