Iran menegaskan haknya untuk melakukan pengayaan uranium dalam pembicaraan nuklir yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa pengakuan atas hak ini adalah kunci keberhasilan negosiasi yang bertujuan menghidupkan kembali diplomasi kedua negara.
Diplomasi tidak langsung antara diplomat AS dan Iran dilaksanakan di Oman, dengan fokus pada pembaruan kesepakatan di tengah ketegangan yang meningkat akibat penempatan angkatan laut AS dekat perairan Iran. Iran bersikukuh bahwa nol pengayaan uranium tidak dapat diterima dan menekankan pentingnya membangun kepercayaan bahwa pengayaan dilakukan semata-mata untuk tujuan damai.
Hak Pengayaan Uranium dan Upaya Diplomasi
Iran telah mengadakan lima putaran pembicaraan dengan AS sepanjang tahun lalu, namun gagal mencapai kata sepakat terutama karena perbedaan pandangan mengenai pengayaan uranium di dalam negeri. Setelah serangkaian serangan militer yang menarget fasilitas nuklir Iran oleh Israel dan AS, Iran menghentikan aktivitas pengayaan uranium.
Meski demikian, Tehran menyatakan bahwa program nuklirnya hanya bertujuan untuk kepentingan damai dan bukan pengembangan senjata nuklir. Seorang diplomat regional mengungkapkan bahwa Iran siap berdiskusi tentang tingkat dan kemurnian pengayaan uranium serta pengaturan lain yang dapat menyertai kesepakatan, dengan syarat pengayaan diperbolehkan di tanah Iran dan ada pencabutan sanksi serta de-eskalasi militer.
Motivasi Politik dan Kedaulatan Iran
Menurut Araqchi, ketegasan Iran dalam mempertahankan hak pengayaan bukan hanya sekadar persoalan teknis atau ekonomi, melainkan cerminan dari keinginan untuk meraih kemerdekaan dan menjaga martabat nasional. Ia menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada pihak manapun yang berhak menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dimiliki oleh bangsa Iran.
Menteri luar negeri itu juga menekankan bahwa program misil Iran tidak pernah menjadi bagian dari agenda pembicaraan dengan AS, sebuah poin penting yang membedakan perundingan ini dari tuntutan AS sebelumnya.
Respon dan Langkah Selanjutnya dalam Proses Negosiasi
Presiden Masoud Pezeshkian menyambut langkah pembicaraan ini sebagai kemajuan, serta menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hak Iran dalam kerangka Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir. Penentuan waktu dan tempat putaran berikutnya masih dalam tahap konsultasi dengan Oman, dan kemungkinan tidak akan berlangsung di Muscat.
Pembicaraan ini menunjukkan dinamika kompleks hubungan AS-Iran yang sarat dengan kepentingan nasional dan keamanan regional. Iran tetap membuka ruang dialog asalkan hak kedaulatannya diakui, khususnya terkait program pengayaan uranium yang menjadi simbol kedaulatan dan martabat bangsa.







