Islamabad, ibu kota Pakistan, sedang menghadapi kontroversi terkait hilangnya ruang hijau di kota yang dahulu dikenal dengan pepohonannya yang rimbun. Penebangan pohon skala besar untuk pembangunan infrastruktur dan monumen militer memicu kemarahan warga serta gugatan hukum terhadap pemerintah setempat.
Kota ini dibangun pada 1960-an dengan konsep sebagai kota hijau, lengkap dengan jalan-jalan lebar, taman, dan kawasan yang dipenuhi pepohonan. Namun, belakangan ini, warga merasakan perubahan signifikan dengan semakin banyaknya beton yang menggantikan ruang terbuka hijau tersebut.
Kegiatan Penebangan Pohon dan Protes Warga
Muhammad Naveed, seorang warga Islamabad, menggugat pemerintah atas penebangan pohon besar-besaran yang dinilai merusak lingkungan dan menyebabkan lahan menjadi gersang. Ia menyebut banyak pohon matang telah ditebang tanpa pengganti yang memadai, sehingga visi kota hijau mulai terkikis secara nyata.
Organisasi World Wide Fund for Nature (WWF) mengungkapkan bahwa pembangunan infrastruktur, seperti jalan raya dan monumen, menjadi penyebab utama berkurangnya vegetasi alami di Islamabad. Data dari Global Forest Watch menunjukkan bahwa kota ini kehilangan 14 hektar tutupan pohon, setara dengan luas 20 lapangan sepak bola, antara tahun 2001 hingga sekarang.
Dampak Lingkungan dan Kesehatan
Kualitas udara di Islamabad terus memburuk akibat hilangnya pohon yang berfungsi sebagai penyaring polusi. Pepohonan mampu menyerap gas berbahaya dan menurunkan suhu udara. Muhammad Ibrahim, Direktur Program Hutan WWF-Pakistan, menegaskan bahwa hutan bertindak sebagai penyaring alami yang sangat penting untuk kebersihan udara dan air.
Bulan lalu, hampir semua hari di Islamabad dikategorikan dengan kualitas udara "tidak sehat" atau "sangat tidak sehat" menurut pengamatan organisasi IQAir. Warga menghadapi tantangan pernapasan yang diperparah oleh polusi dan kurangnya ruang hijau.
Alasan Pemerintah dan Kritik yang Muncul
Pihak berwenang mengklaim bahwa sebagian pohon ditebang untuk mengurangi alergi serbuk sari yang parah, terutama yang berasal dari pohon paper mulberry yang banyak ditanam sejak awal pembangunan kota. Abdul Razzaq dari Capital Development Authority (CDA) menyebutkan bahwa penghilangan sekitar 29.000 pohon tersebut bertujuan menanggulangi kasus asma dan infeksi pernapasan yang meningkat.
Meski demikian, banyak kritikus menilai alasan alergi lebih sebagai pembenaran untuk memperluas proyek militer dan pembangunan infrastruktur. Para ahli lingkungan menekankan perlunya perencanaan kota yang lebih bijak dan transparan, termasuk reboisasi menggunakan jenis pohon yang tidak menyebabkan alergi.
Pengaruh Militer dan Proyek Infrastruktur
Dalam beberapa bulan terakhir, alat berat terlihat meratakan daerah hijau dan hutan kota, termasuk area di dekat jalan raya utama. WWF dan pejabat anonim menyatakan sebagian lahan yang dibuka untuk pembangunan adalah lokasi monumen militer yang dibangun untuk memperingati konflik singkat antara Pakistan dan India bulan Mei lalu.
Sumber pemerintah yang tidak ingin disebutkan mengungkap bahwa militer memiliki pengaruh besar dalam proyek ini dan melakukan penebangan pohon tanpa hambatan. Militer Pakistan dikenal kuat secara politik dan ekonomi akibat sejarah kudeta dan keterlibatan panjang dalam pengelolaan negara.
Lokasi monumen militer di tepi jalan tol Jakarta mengalami penebangan seluas lebih dari enam hektar tahun lalu, dengan aktivitas yang diperkirakan berlanjut hingga tahun depan. WWF mencatat tidak ada upaya penanaman pohon kembali di area tersebut, menandakan bahwa pembukaan lahan lebih didorong oleh pembangunan infrastruktur.
Langkah Hukum dan Tuntutan Warga
Gugatan yang diajukan Muhammad Naveed masih berjalan dan menuntut penghentian penebangan pohon secara besar-besaran. Naveed mempertanyakan alasan pembangunan monumen di lahan kosong alih-alih menggunakan taman atau ruang publik yang sudah ada.
Balasan dari otoritas menyatakan bahwa proyek jalan dan infrastruktur disetujui berdasarkan regulasi lama tahun 1992, yang dianggap kurang memadai dalam menjaga kelestarian lingkungan di tengah pembangunan modern.
Kasus ini mencerminkan persaingan antara kebutuhan pembangunan dengan pelestarian lingkungan di Islamabad. Masyarakat dan aktivis lingkungan terus mengawal perkembangan untuk mendorong kebijakan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam pengelolaan ruang kota.





