Rusia menyatakan sikap terbuka terhadap kemungkinan kerja sama ekonomi dengan Amerika Serikat. Namun, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, tidak melihat masa depan cerah untuk hubungan ekonomi kedua negara meskipun ada upaya Washington untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Lavrov menyoroti ambisi Amerika Serikat yang menurutnya berorientasi pada “dominan ekonomi”. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan media yang berbasis di Rusia, TV BRICS. Ia menilai kebijakan AS justru menciptakan kendala bagi pengembangan kerja sama ekonomi yang sejati.
Beberapa pejabat Rusia, termasuk utusan khusus Kirill Dmitriev, sebelumnya mempertimbangkan kemungkinan pemulihan hubungan ekonomi dengan AS sebagai bagian dari kesepakatan damai di Ukraina. Meski demikian, kenyataannya berbeda dengan imbauan tersebut.
Presiden Donald Trump pernah mengusung gagasan menghidupkan kembali kerja sama ekonomi dengan Moskow dan telah menerima kunjungan Presiden Vladimir Putin di Amerika Serikat. Namun, di saat yang sama, pemerintahannya memperketat sanksi terhadap sektor energi yang krusial bagi Rusia.
Selain itu, Lavrov menyoroti sikap Trump yang menentang blok ekonomi BRICS, yang beranggotakan Rusia, China, India, Brasil, dan negara berkembang besar lainnya. Menurut Lavrov, AS secara sengaja membentuk hambatan buatan untuk menghambat integrasi BRICS.
Akibatnya, Rusia terpaksa mencari metode alternatif yang terlindungi untuk mengembangkan proyek-proyek keuangan, ekonomi, dan logistik bersama negara-negara BRICS. Hal ini menunjukkan ketegangan yang masih berlanjut pada hubungan ekonomi antara Rusia dan Amerika.
Secara keseluruhan, Lavrov menggambarkan masa depan hubungan ekonomi Rusia dan AS sebagai penuh tantangan dan minim harapan. Perbedaan pandangan dan tekanan sanksi menjadi faktor utama yang menghambat perkembangan kerja sama kedua negara di bidang ekonomi.







