SeeLight S1 menunjukkan bahwa robot rumah tangga humanoid sudah keluar dari ranah fiksi ilmiah dan mulai diuji di ruang tinggal yang nyata. Di China, robot besutan GigaAI ini sudah bisa menjalankan sejumlah pekerjaan domestik, tetapi kecepatannya masih jauh dari harapan untuk dipakai sehari-hari.
Robot ini dirancang untuk memahami perintah bahasa alami dan mengeksekusi tugas rumah tanpa pemrograman manual. Dalam uji coba di apartemen di Wuhan, SeeLight S1 mampu mengambil makanan dari kulkas, memanaskannya dengan microwave, membersihkan meja makan, mencuci piring, hingga melipat pakaian dan menyimpannya ke lemari.
GigaAI pertama kali memperkenalkan SeeLight S1 pada Mei 2026. Perusahaan itu kemudian mendistribusikan 100 unit pertama untuk pengujian lapangan di berbagai skenario kehidupan nyata.
Namun, kemampuan yang terlihat futuristik itu datang bersama batasan yang sangat nyata. Laporan media China menyebut robot ini membutuhkan lebih dari 10 menit untuk melipat satu potong pakaian, dan lebih dari 5 menit untuk merapikan tumpukan empat buku.
Di sisi lain, robot juga sering menumpahkan air saat mencoba memegang cangkir. Gerakannya dinilai terlalu lambat hingga terlihat seperti “bermalas-malasan”, sesuatu yang membuatnya belum praktis bagi kebutuhan rumah tangga.
Kondisi itu memperlihatkan jurang besar antara robot rumah tangga dan robot industri. Robot pabrik bekerja di lingkungan yang statis dan terstruktur, sedangkan SeeLight S1 harus menghadapi tata letak ruangan yang berbeda-beda, perabotan yang tidak standar, serta benda sehari-hari dengan bentuk dan tekstur beragam.
Pekerjaan sederhana seperti mengambil cangkir pun ternyata memerlukan proses yang kompleks. Robot harus mengenali objek di antara banyak benda, menentukan cara menggenggam agar tidak pecah atau tumpah, merencanakan lintasan lengan supaya tidak menabrak benda lain, lalu menyesuaikan tekanan genggaman secara real-time.
Menurut Zu Zheng, co-founder sekaligus CEO GigaAI, pekerjaan rumah tangga adalah salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan robot humanoid. Ia menyebut robot rumah tangga bergantung pada “otak” yang harus memahami lingkungan, merencanakan tugas, menjalankan operasi, dan terus belajar di rumah yang sangat bervariasi.
GigaAI menempatkan kecerdasan buatan sebagai inti utama SeeLight S1. Sistemnya mengandalkan pemrosesan bahasa alami untuk memahami perintah suara, computer vision untuk mengenali objek dan lingkungan, algoritma perencanaan gerak, serta kemampuan belajar dari interaksi.
Meski begitu, hambatan hardware masih membatasi performanya. Kecepatan prosesor, kapasitas baterai, dan presisi motor disebut masih menjadi kendala yang membuat gerakan robot tampak kaku dan lambat.
Perusahaan itu sudah menatap penerusnya, SeeLight S2, yang direncanakan meluncur pada kuartal ketiga 2026. Model baru ini digadang-gadang hadir dengan desain lebih ringkas, daya tahan baterai lebih lama, jangkauan lengan lebih luas, algoritma AI yang lebih responsif dan akurat, serta interaksi objek yang lebih halus.
Sasaran akhirnya adalah membuat robot semacam ini benar-benar layak pakai di rumah, bukan sekadar alat demonstrasi teknologi. Itu penting karena kebutuhan di rumah jauh lebih rumit daripada di lingkungan laboratorium atau pabrik.
Kemunculan SeeLight S1 juga sejalan dengan dorongan besar China dalam pengembangan robot humanoid. Negara itu tengah mendorong penggunaan robot di berbagai sektor, mulai dari polantas robot di Shenzhen yang sudah menindak 12.000 pelanggaran dalam 3 hari, hingga kebijakan wajib KTP untuk robot demi regulasi populasi mesin.
Dorongan tersebut didukung investasi besar-besaran di bidang AI, sensor, dan material ringan. Pemerintah China melihat robot humanoid sebagai salah satu jawaban atas penuaan populasi, kekurangan tenaga kerja domestik, dan kebutuhan efisiensi hidup di kota-kota padat.
SeeLight S1 belum menawarkan kecepatan kerja yang bisa menggantikan manusia di rumah. Namun, uji coba ini menunjukkan bahwa robot yang mampu memahami instruksi, berinteraksi dengan benda nyata, dan belajar dari kesalahan sudah benar-benar mulai diuji sebagai calon asisten rumah tangga masa depan.






