AS Serang Kapal di Pasifik Timur, 2 Tewas dan 1 Selamat dalam Operasi Anti-Narkoba US SOUTHCOM

Pasukan militer Amerika Serikat melakukan serangan mematikan terhadap sebuah kapal di Samudra Pasifik bagian timur, yang menewaskan dua orang dan menyisakan satu korban selamat. Serangan ini terjadi pada hari Senin dan dilaporkan oleh Komando Selatan AS (SOUTHCOM) yang mengawasi operasi militer di kawasan Amerika Latin dan Karibia.

SOUTHCOM menyebutkan bahwa operasi tersebut merupakan “serangan kinetik mematikan” terhadap kapal yang diduga terlibat dalam perdagangan narkoba. Namun, pihak militer tidak mengemukakan bukti yang mendukung klaim keterlibatan kapal tersebut dalam aktivitas ilegal. Setelah serangan, satu orang berhasil selamat dan pihak penjaga pantai AS segera mengaktifkan sistem pencarian dan penyelamatan.

Riwayat Serangan dan Jumlah Korban

Serangan terbaru ini menambah angka korban dari rangkaian operasi serupa yang telah dilakukan oleh AS sepanjang beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, militer AS mengaku bertanggung jawab atas penyerangan yang menewaskan dua orang dalam insiden lain di wilayah yang sama. Sejauh ini, telah tercatat sekitar 37 serangan terhadap 39 kapal di wilayah Pasifik dan Karibia, yang menyebabkan sedikitnya 130 orang tewas.

Angka ini diambil dari pemantauan yang dilakukan oleh organisasi media dan pemantau independen. Meski operasi ini diklaim sebagai usaha pemberantasan narkoba, sejumlah kalangan menilai tindakan AS tersebut sebagai eksekusi di luar hukum. Para ahli hukum dan aktivis hak asasi manusia mengkritik AS yang bertindak sebagai hakim, juri, dan algojo dalam kasus dugaan perdagangan narkotika.

Kontroversi dan Kritik Hukum

Kritik semakin kuat setelah laporan mengenai serangan yang terjadi pada September 2025, dimana diketahui ada serangan lanjutan yang menargetkan para korban yang masih berpegangan pada reruntuhan kapal. Para akademisi hukum berpendapat bahwa tindakan semacam ini merupakan pelanggaran hukum internasional dan bisa dikategorikan sebagai kejahatan jika memang membunuh para penyintas kapal yang tenggelam.

SOUTHCOM sendiri tidak merinci kondisi medis korban yang masih selamat maupun peluang keberhasilan proses penyelamatan yang sedang berlangsung. Namun, militer AS merilis video singkat berdurasi 10 detik yang menampilkan momen penyerangan pada kapal kecil bermesin tersebut. Dalam video itu, kapal tampak dalam bidikan langsung sebelum dihantam dan meledak.

Implikasi Operasi Militer di Perairan Internasional

Operasi militer AS ini menunjukan keteguhan negara itu dalam menindak aktivitas narkoba di wilayah perairan internasional sekitar Amerika Latin meski menuai kritik internasional. Para pemimpin regional mempertanyakan legalitas dan etika dari tindakan serangan yang melibatkan nyawa tanpa proses hukum yang jelas.

Berikut sejumlah poin penting terkait serangan terbaru di Samudra Pasifik bagian timur:

  1. Pada serangan ini, dua orang tewas sementara satu berhasil selamat dan mendapat tindakan pencarian serta penyelamatan.
  2. AS mengklaim kapal yang diserang terlibat dalam perdagangan narkoba, meski bukti tidak diungkapkan.
  3. Total korban jiwa dari operasi serupa mencapai 130 orang dalam 37 serangan.
  4. Serangan ini menimbulkan kontroversi hukum dan etika karena dugaan eksekusi di luar hukum.
  5. Video serangan menampilkan detik-detik kapal kecil yang terkena ledakan setelah menjadi sasaran.

Serangkaian insiden ini mencerminkan eskalasi intervensi militer AS dalam menangani perdagangan narkoba di wilayah perairan internasional, yang berpotensi memicu perdebatan serius mengenai batasan hukum dan hak asasi manusia dalam operasi kontra-narkotika.

Terkait