Korban Kebakaran Hong Kong Rindu Rumah Asal, Imlek Memicu Kenangan Pilu dan Harapan Resettlement Cepat

Ketika kebakaran terbesar dalam puluhan tahun melanda Wang Fuk Court di Hong Kong, ratusan warga kehilangan rumah dan orang-orang tercinta. Kini, para korban yang tinggal di tempat penampungan sementara berharap mendapat informasi jelas serta tempat tinggal permanen yang layak.

Kebakaran yang terjadi pada akhir November lalu itu menewaskan 168 orang dan menghancurkan tujuh gedung apartemen. Sebagian besar, penghuni yang kehilangan tempat tinggal kini masih bertahan di hunian darurat dengan fasilitas terbatas. Pemerintah telah memberikan bantuan sewa sementara, tetapi rencana penempatan jangka panjang belum jelas.

Kondisi Para Korban Pasca Kebakaran
Pearl Chow, perempuan berusia 87 tahun, meninggalkan apartemennya bersama dokumen penting saat api mulai menjalar. Saat ini, ia dan keluarganya tinggal terpisah di dua unit kecil berukuran sekitar 9,2 meter persegi. Meskipun Chow merasa cukup dengan tempat tinggal sementara, cucunya, Dorz Cheung, menyatakan bahwa tempat tersebut bukanlah rumah sesungguhnya.

Kit Chan, 74 tahun, yang tinggal di unit seluas 43 meter persegi selama 40 tahun, kini tinggal di sebuah kamar studio di sebuah asrama pemuda. Ukuran tempat barunya jauh lebih kecil dan membuatnya khawatir soal hari tua yang harus dijalani dalam ruang terbatas. Ia awalnya berharap bisa kembali ke lokasi kebakaran, tetapi pemerintah memperkirakan pembangunan kembali akan memakan waktu sekitar satu dekade.

Pilihan dan Prioritas Resettlement Korban
Keluarga Isaac Tam mengalami kehilangan dua apartemen yang mereka miliki. Mereka tengah mempertimbangkan pindah ke unit sementara yang lebih kecil dan berada di distrik lain karena unit di Tai Po, tempat mereka tinggal sebelumnya, baru akan tersedia dalam waktu lama. Tam mengutamakan waktu karena kakeknya yang berusia 92 tahun kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan.

Sementara itu, Phyllis Lo kehilangan ibunya dalam kebakaran tragis tersebut. Ia masih menyimpan banyak kenangan sekaligus menuntut transparansi dari pihak berwenang terkait penyelidikan penyebab kebakaran dan penggunaan dana bantuan sebesar 589 juta dolar Hong Kong. Lo berharap rumah masa kecilnya dapat dibangun kembali, meskipun waktunya dianggap terlalu lama.

Hambatan dan Tantangan Pemerintah
Pemimpin Hong Kong, John Lee, menyebut penanganan pemukiman kembali korban bukan hal mudah. Pemerintah masih mengumpulkan preferensi para pengungsi dan berusaha membuat rencana yang tepat. Banyak pemilik rumah yang bersedia menjual hak milik mereka kepada pemerintah agar proses resettlement bisa berjalan lancar.

Dalam konteks manajemen bencana dan pemulihan trauma, pakar dari Kanada, Jack Rozdilsky, menekankan pentingnya adanya dukungan kesehatan mental yang berkelanjutan. Ia juga mengingatkan bahwa membangun kembali komunitas sosial tidak kalah penting dengan membangun fisik bangunan. Fasilitas kecil seperti halte bus atau tempat berkumpul di taman bisa memulihkan rasa kebersamaan yang hilang.

Data Demografis dan Implikasi Sosial
Berdasarkan sensus penduduk tahun 2021, sekitar sepertiga dari 4.600 penghuni Wang Fuk Court berusia di atas 65 tahun. Fakta ini menambah tantangan pemerintah karena kebutuhan hunian yang ramah lansia dan aksesibilitas menjadi prioritas.

Para korban berharap agar rencana pendirian hunian baru mempertimbangkan kebutuhan kesehatan, sosial, dan kemudahan transportasi, terutama untuk lansia yang telah tinggal di kawasan tersebut puluhan tahun. Pemerintah perlu merespons cepat agar rasa kehilangan dan ketidakpastian tidak memperparah kondisi mental dan sosial mereka.

Berbagai keluarga yang diwawancarai mengungkapkan kerinduan mendalam terhadap rumah lama mereka dan komunitas yang telah hilang. Banyak pihak terus menanti hasil lengkap investigasi dan keputusan pemerintah mengenai pembangunan kembali yang mampu mengembalikan rasa aman dan harapan di tengah penderitaan.

Terkait