Pemukiman Makoko di Lagos Dibongkar, Warga Tolak Penggusuran Warisan Kelas Kolonial Nigeria

Penduduk Makoko di Lagos, Nigeria, marah atas penghancuran rumah mereka yang terjadi secara paksa oleh pemerintah setempat. Operasi demolisi tersebut berjalan sejak akhir Desember dan baru dihentikan setelah perintah dari Dewan Perwakilan Rakyat Negara Bagian Lagos.

Rumah-rumah yang didirikan di atas air dengan tiang pancang, tempat bernaung sekitar 200.000 warga Makoko, banyak yang ambruk berikut harta benda mereka, seperti alat tukang kayu dan peralatan sehari-hari. Penghancuran ini dilakukan dengan alasan membebaskan kawasan dari bahaya dekat saluran listrik bertegangan tinggi. Namun kenyataannya, pembongkaran berlangsung lebih jauh dari batas aman yang disampaikan pemerintah, mencapai 250 hingga 500 meter di dalam permukiman.

Sejarah dan Kondisi Makoko

Makoko dikenal sebagai "Venice of Africa," sebuah desa nelayan bersejarah yang berdiri sejak abad ke-19. Lokasinya berada di pinggir laut, dekat jembatan utama yang menghubungkan wilayah Makoko dengan pusat kota Lagos. Penduduknya mayoritas bekerja sebagai nelayan dan pengolah hasil ikan.

Walaupun menjadi pusat ekonomi lokal dengan pasar ikan segar dan kering, Makoko juga dianggap sebagai kawasan kumuh tanpa infrastruktur memadai. Keindahan kanal-kanal air dan kehidupan budaya unik di sana sering menarik wisatawan, meski banyak penduduk hidup dalam kemiskinan.

Dampak Penggusuran Terhadap Penduduk

Penggusuran menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan mereka. Phoebe Ekpoesi, seorang ibu dari tiga anak, kehilangan rumah dan bisnisnya akibat demolisi. "Ini semua yang kami miliki, keluarga dan pendidikan anak-anak kami di sini. Kami tidak punya tempat lain," ujarnya penuh frustasi.

Menurut Victoria Ibezim-Ohaeri dari organisasi Spaces for Change, kerusakan ini mengganggu pendidikan anak-anak, meningkatkan tunawisma, dan memperparah situasi kelompok yang rentan, seperti perempuan, penyandang disabilitas, serta lansia. Lebih jauh, hilangnya tanah komunal menyebabkan berkurangnya rasa kepemilikan dan warisan budaya.

Prosedur dan Kontroversi Pemerintah

Meskipun pemerintah beralasan bahwa pembongkaran ini untuk keamanan daerah dan mencegah bangunan di zona rawan, banyak pihak menilai ada motif lain. Laporan lokal menyebut pemerintah sudah menjalin kerja sama dengan kontraktor untuk mengembangkan kompleks perumahan mewah di wilayah tersebut.

Sejarah penggusuran paksa di Lagos juga menunjukkan pola mengeksklusi komunitas miskin demi pembangunan properti mewah. Antara 1973 dan 2024, tercatat 91 kali operasi penggusuran di berbagai kawasan, termasuk penggusuran besar di Maroko tahun 1990 yang memindahkan 300.000 penduduk.

Tuntutan Pembela Hak dan Kompensasi

Penggusuran dilakukan tanpa adanya solusi relokasi maupun kompensasi yang memadai. Pemerintah negara bagian Lagos hanya berjanji akan mendata dan menghitung korban sebelum menentukan kompensasi, yang menurut pengamat seharusnya sudah dipersiapkan sebelum penghancuran dimulai.

Pakar hukum dan advokat menilai praktik ini melanggar konstitusi Nigeria, yang mewajibkan negosiasi dan kompensasi sebelum penggusuran. Sementara itu, Gubernur Lagos, Babajide Sanwo-Olu, menegaskan bahwa langkah pemerintah hanya untuk membersihkan area sekitar jembatan dan saluran listrik, bukan menghapus keseluruhan Makoko.

Masa Depan Makoko dan Model Pembangunan Kota

Krisis di Makoko menjadi contoh ketidakadilan sosial yang berakar dari praktik kelas sosial zaman kolonial. Penggusuran ini menimbulkan kekhawatiran tentang semakin sedikitnya perumahan terjangkau di Lagos, kota dengan populasi 22 juta jiwa yang tengah menghadapi krisis perumahan.

Para pakar menyarankan model pembangunan mixed-income housing yang dapat mengakomodasi kebutuhan seluruh lapisan masyarakat. Mereka juga mempertanyakan prioritas pemerintah yang memilih memindahkan penduduk demi saluran listrik ketimbang mempertimbangkan alternatif seperti pemindahan fasilitas itu sendiri.

Respons dan Aspirasi Komunitas

Penduduk Makoko sempat menggelar demonstrasi di sekretariat pemerintahan menuntut dialog dengan gubernur. Namun aksi tersebut dihadang oleh polisi dengan tembakan gas air mata. Mereka mengibarkan spanduk bertuliskan, "Megakota tidak bisa dibangun di atas darah dan tulang orang miskin."

Akhirnya, dewan legislatif negara bagian Lagos dan komunitas mencapai kesepakatan tidak membangun kembali rumah yang telah dihancurkan, sambil membentuk komite untuk menentukan kompensasi dan meluncurkan proyek regenerasi kota air untuk Makoko.

Namun bagi ribuan orang yang terdampak, masa depan masih penuh ketidakpastian. Tunde Agando dan keluarganya terpaksa tinggal sementara di rumah pendeta dan berencana pindah ke Ikorodu jika dana sudah cukup. Kondisi mereka kini menggambarkan realitas keras dari kebijakan pembangunan yang mengabaikan kebutuhan warga kelas bawah di tengah kota besar Nigeria.

Terkait