Serangan rasial terhadap sopir bus Arab di Israel semakin memprihatinkan dan menimbulkan ketakutan mendalam di kalangan para pengemudi. Kasus tragis yang dialami sopir bus Fakhri Khatib di Yerusalem menjadi sorotan utama, setelah seorang remaja tewas dalam insiden kekerasan yang berlangsung ketika Khatib mencoba melarikan diri dari kerumunan yang mengatai dan mengejeknya secara rasial.
Khatib, seorang Palestina dari Yerusalem Timur, mengatakan sempat menelepon polisi karena takut nyawanya terancam usai serangan verbal dan lemparan ludah saat kerumunan mengelilingi busnya di dekat lokasi unjuk rasa komunitas Yahudi ultra-Ortodoks. Namun, respons polisi yang lambat membuatnya memilih mengemudi meninggalkan kerumunan tanpa menyadari remaja berusia 14 tahun bernama Yosef Eisenthal sedang berpegangan pada bemper depan busnya. Tragedi ini berujung pada tuduhan pembunuhan yang kemudian direvisi menjadi kelalaian dan pelepasan Khatib dari tahanan rumah sementara menunggu proses hukum berikutnya.
Lonjakan Kekerasan dan Dampaknya bagi Sopir Bus Arab
Kekerasan terhadap sopir bus Arab di Israel meningkat drastis sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober. Data dari serikat pekerja Koach LaOvdim menyoroti peningkatan 30 persen serangan dalam setahun terakhir, dengan lebih dari 100 kasus kekerasan fisik di Yerusalem saja yang mengakibatkan sopir harus mendapatkan perawatan medis. Insiden verbal bahkan jauh lebih banyak, memperlihatkan pola intimidasi dan diskriminasi yang terus berlangsung tanpa adanya penegakan hukum tegas.
Mayoritas sopir bus yang menjadi korban berasal dari kalangan Arab Palestina yang tinggal di Yerusalem Timur dan komunitas minoritas Arab yang merupakan sekitar 20 persen penduduk Israel. Beberapa momen paling rentan terjadi setelah pertandingan sepak bola, terutama yang berhubungan dengan klub Beitar Yerusalem, yang dikenal karena adanya pendukung ultra-nasionalis yang kerap melakukan kekerasan anti-Arab.
Perlindungan dan Penanganan Polisi yang Dinilai Lemah
Serikat pekerja dan aktivis menyatakan frustrasi atas lemahnya respons dan penanganan kepolisian terhadap keluhan sopir bus korban serangan. Meskipun adanya rekaman video kekerasan, sedikit kasus yang berujung pada penangkapan atau dakwaan serius terhadap pelaku. Hal ini menimbulkan kesan kurangnya perlindungan negara terhadap warga Arab yang bekerja di sektor transportasi publik.
Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Transportasi Israel memulai unit keamanan khusus yang beroperasi di beberapa kota termasuk Yerusalem. Tim respons cepat dengan motor akan bertugas berkoordinasi bersama polisi guna merespons insiden kekerasan secara lebih efektif. Menteri Transportasi Miri Regev bahkan menegaskan kekerasan di angkutan umum telah "melampaui batas merah," menekankan urgensi tindakan preventif yang lebih kuat.
Solidaritas Antar Sopir untuk Melawan Perpecahan
Di tengah ketegangan yang meningkat, muncul upaya dari sopir bus Yahudi dan Arab untuk menunjukkan solidaritas dalam melindungi sesama pekerja. Pemimpin serikat Koach LaOvdim berasal dari kedua latar belakang ini menekankan pentingnya bersatu dan tidak terpancing dalam perpecahan etnis dan politik yang semakin memecah masyarakat.
Menurut mereka, hanya dengan kesatuan dan dukungan bersama para sopir dapat mengatasi meningkatnya kekerasan dan diskriminasi di dunia kerja. Ini menjadi pesan kuat bahwa perubahan positif harus diawali dari soliditas internal komunitas pekerja, sementara menuntut pemerintahan dan aparat hukum menjalankan kewajibannya secara adil dan tegas untuk melindungi semua warga tanpa diskriminasi.





