Administrasi Ruang Siber China (CAC) meluncurkan operasi digital bernama “Qinglang” yang berlangsung selama satu bulan sejak awal Februari 2026. Operasi ini fokus menindak konten daring yang dianggap merusak nilai-nilai keluarga dan memuat unsur pamer kekayaan, terutama menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.
Kampanye “Qinglang” mengincar berbagai jenis konten yang dinilai dapat memicu emosi negatif di masyarakat. Contohnya adalah narasi yang mengarah pada “takut menikah” dan “anti-kelahiran” yang berpotensi memperparah konflik sosial dan ketegangan antar gender.
Selain itu, operasi ini juga menyoroti konten hiburan yang mengangkat konflik keluarga secara berlebihan. Tema-tema seperti ketidakadilan orang tua, perselisihan antara mertua dan menantu, serta pertengkaran antar saudara dianggap sebagai “sampah digital” yang hanya mengejar popularitas di dunia maya.
Konten yang menunjukkan gaya hidup mewah selama persiapan Imlek juga menjadi sasaran. CAC menilai konten ini memperbesar kesenjangan sosial dan ekonomi yang dapat memicu konflik di masyarakat. Fenomena perang antar komunitas penggemar atau “fan circle” di momen besar seperti Gala Festival Musim Semi juga akan ditekan.
Selain konten keluarga dan pamer kekayaan, CAC juga mengawasi konten takhayul seperti ajakan menolak kesialan, astrologi “Tai Sui”, serta layanan ramalan dan perhitungan nasib online. Langkah ini diambil untuk menjaga agar ruang digital tetap sehat dan rasional.
Instruksi khusus diberikan kepada berbagai platform digital untuk membentuk tim pemantau konten. Tim ini akan aktif mengawasi halaman utama, daftar pencarian populer, konten rekomendasi, linimasa, dan kolom komentar agar sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
Perayaan Imlek merupakan momen besar mudik dan berkumpul keluarga di China. Pemerintah berharap operasi “Qinglang” dapat menciptakan suasana daring yang harmonis dan mengurangi konflik sosial selama liburan.
Operasi ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam menghadapi penurunan angka kelahiran yang signifikan di China. Data Biro Statistik Nasional pada Januari 2026 mencatat angka kelahiran tahun sebelumnya turun menjadi 5,63 per 1.000 penduduk, turun dari 6,39 per 1.000 penduduk pada 2023, yang berdampak pada menyusutnya populasi sekitar 3,39 juta jiwa.
Dengan penegakan kontrol ketat terhadap konten digital selama Imlek, China berupaya mengatur lanskap dunia maya untuk mendukung stabilitas sosial sekaligus mendorong nilai keluarga yang positif di tengah tantangan demografis yang dihadapi saat ini.
