Hujan deras melanda wilayah barat laut Maroko, menyebabkan banjir besar yang merusak lebih dari 100,000 hektar lahan pertanian. Banjir ini datang setelah bertahun-tahun negara tersebut mengalami kekeringan yang parah, memperburuk kondisi petani yang sebelumnya sudah kesulitan memenuhi kebutuhan air irigasi.
Banjir telah memaksa ribuan petani dan pemilik ternak mengungsi dan menyelamatkan hewan mereka dari terjangan air. Mohamed Reouani, petani berusia 63 tahun di desa Ouled Salama, kehilangan seluruh tanaman yang ia rawat di lahan seluas empat hingga lima hektar karena tergenang air. Meski demikian, ia masih bersyukur atas rejeki air yang dipercaya membawa berkah lantaran mengisi kembali bendungan yang sebelumnya hampir kosong.
Dampak Banjir terhadap Sektor Pertanian
Maroko sangat bergantung pada pertanian yang mempekerjakan sekitar sepertiga tenaga kerja usia produktif. Selama tujuh tahun berturut-turut, negara ini mengalami kekeringan hebat, yang menurunkan kadar air bendungan menjadi rata-rata hanya 30 persen pada Desember lalu. Namun, hujan deras selama sebulan terakhir meningkatkan rata-rata tingkat pengisian bendungan hampir 70 persen. Volume air yang turun, yakni sekitar 8,8 miliar meter kubik, setara dengan air selama dua tahun sebelumnya yang hanya 9 miliar meter kubik.
Meski awalnya petani merasa lega dengan datangnya hujan, kerugian akibat badai yang berubah menjadi banjir dahsyat tidak dapat dihindari. Sampai saat ini, banjir telah menyebabkan sekitar 180,000 orang mengungsi dan menewaskan sedikitnya empat korban jiwa. Tingginya air banjir yang mencapai hampir dua meter membuat banyak rumah terisolasi dan membuat evakuasi sulit, memerlukan perahu kecil dan helikopter.
Penanganan dan Bantuan Pemerintah
Pemerintah telah mendirikan kamp pengungsian di sekitar kota Kenitra untuk menampung para korban dan ternak mereka. Banyak petani yang kehilangan persediaan pakan ternak, sehingga mereka sangat bergantung pada bantuan pakan yang didistribusikan oleh kementerian pertanian. Ibrahim Bernous, seorang pengungsi berusia 32 tahun, menyatakan bahwa air banjir telah menghilangkan seluruh persediaan gandum yang mereka miliki.
Pemerintah juga mengumumkan rencana bantuan senilai sekitar 330 juta dolar, dengan sebagian di antaranya dialokasikan khusus untuk membantu petani dan pemilik ternak yang terdampak langsung. Rachid Benali, pimpinan Konfederasi Pertanian dan Pengembangan Pedesaan Maroko, menegaskan sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terpukul akibat banjir. Penilaian kerugian yang lebih detail masih menunggu surutnya air.
Prospek Ekonomi dan Adaptasi Iklim
Kerusakan lahan pertanian meliputi tanaman utama seperti bit gula, jeruk, dan sayur mayur. Sektor pertanian memberi kontribusi sekitar 12 persen bagi perekonomian Maroko. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan curah hujan besar ini bisa merangsang pertumbuhan ekonomi hampir lima persen. Strategi pemerintah berikutnya adalah memperluas sistem irigasi dan mengembangkan teknologi desalinasi air laut untuk menghadapi perubahan iklim yang makin ekstrem.
Maroko bukan satu-satunya negara di kawasan yang mengalami bencana iklim berat. Negara tetangga seperti Aljazair dan Tunisia juga dilanda banjir parah. Sementara itu, Portugal dan Spanyol di Eropa Selatan baru-baru ini dilanda badai dan hujan deras, menunjukkan fenomena cuaca ekstrem yang makin sering dan intens. Pakar iklim mengaitkan meningkatnya kejadian seperti ini dengan perubahan iklim global yang dipicu aktivitas manusia.
Fenomena kekeringan panjang yang disusul oleh banjir besar memperlihatkan tantangan ganda yang dihadapi sektor pertanian Maroko. Ketersediaan air menjadi sumber harapan sekaligus ancaman, membutuhkan penanggulangan yang cepat dan tepat agar petani bisa kembali memulihkan kondisi dan menjaga mata pencaharian mereka.







