Iran kini menetapkan para korban pengalihan kesalahan atas gelombang protes besar yang mengguncang negara tersebut. Dua warga minoritas agama Baha’i, Venus Hossein-Nejad dan Peyvand Naeimi, menjadi sasaran utama dalam upaya rezim untuk menekan dan mengendalikan perlawanan. Keduanya kini menghadapi risiko hukuman mati, walaupun tidak pernah terlibat dalam aktivitas protes seperti yang dituduhkan.
Pemanggilan Singkat dan Pengakuan Terpaksaan
Kepada keluarga, Venus hanya mampu berbicara selama tiga menit di telepon, menyampaikan bahwa dirinya masih hidup. Peyvand, dalam panggilan singkatnya, bahkan sempat menyatakan kelelahan dan berkata bahwa jika pihak keamanan ingin mengeksekusinya, ia siap demi kebebasannya. Keduanya muncul di program televisi pemerintah dengan wajah buram dan pengakuan yang diatur, mengaku sebagai otak di balik aksi demonstrasi yang menuntut perubahan. Namun menurut keluarga, pengakuan tersebut dipaksakan dan sepenuhnya palsu.
Kampanye Menyasar Minoritas Baha’i
Sejak Revolusi Islam 1979, komunitas Baha’i di Iran secara sistematis mengalami diskriminasi dan penganiayaan. Mereka dilarang mengakses pendidikan formal universitas, pekerjaan, hingga pelaksanaan ibadah. Menurut Simin Fahandej dari Baha’i International Community, rezim Iran secara konsisten menjadikan Baha’i scapegoat setiap kali terjadi krisis nasional, baik sosial, ekonomi, maupun politik. Pola ini kembali terlihat jelas saat pemerintah berusaha menutup kasus kematian lebih dari 7.000 demonstran dan penangkapan puluhan ribu orang selama protes.
Kondisi Penahanan dan Tekanan Psikologis
Venus ditangkap secara paksa di tempat kerjanya oleh unit intelijen Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Selama dua minggu pertama, keluarga tidak mendapatkan kabar dan berjuang mencari keberadaannya di berbagai kantor pengadilan tanpa hasil. Ia dikenal sebagai seorang seniman dan profesional yang berjuang dengan disabilitas bipolar yang sejak lama ia kendalikan dengan medis, namun di tahanan akses perawatan tersebut diduga terputus.
Peyvand, yang juga menghadapi diskriminasi sejak kecil, awalnya adalah atlet renang berbakat yang berulang kali digagalkan mengikuti kejuaraan nasional karena keyakinannya. Setelah beralih profesi menjadi pelatih anjing dan kemudian mekanik, dia tetap tidak pernah meninggalkan Iran. Setelah penangkapan mendadak, dia hanya sempat melakukan panggilan singkat yang memperlihatkan tanda-tanda tekanan psikologis berat dan menyerahkan diri pada tuntutan aparat.
Pelanggaran Hak Asasi dan Politik Penghakiman
Menurut keluarga dan komunitas internasional, penahanan tanpa akses hukum yang layak dan pengakuan paksa bagaikan preseden buruk bagi penegakan keadilan di Iran. Venus dan Peyvand tidak pernah ditangkap saat demonstrasi berlangsung, apalagi menjadi penyelenggara. Tuduhan terhadap mereka berfungsi sebagai alat rezim untuk mengalihkan perhatian dan mengintimidasi kelompok minoritas. Bukti berupa video pengakuan di televisi dipandang sebagai hasil persekongkolan aparat untuk menjatuhkan hukuman berat, bahkan eksekusi.
Latar Belakang Penindasan Komunitas Baha’i
Berikut ini beberapa fakta penting mengenai penganiayaan komunitas Baha’i di Iran:
- Baha’i bukan salah satu agama minoritas resmi yang diakui konstitusi Iran.
- Mereka dilarang masuk universitas negeri dan sebagian besar pekerjaan publik.
- Keberadaan dan praktik agama mereka sering dijadikan alasan penahanan atau penyitaan kitab suci.
- Setiap krisis nasional selalu ada pola blaming terhadap Baha’i sebagai provokator.
- Komunitas ini dikenal tidak pernah melakukan kekerasan, melainkan selalu bertahan dengan ketabahan dan prinsip kebenaran.
Venus masih menjalani isolasi dan belum mendapatkan pengobatan yang diperlukan. Peyvand berada di pusat penahanan intelijen IRGC, jauh dari kontak keluarga. Risiko ancaman hukuman mati membayangi keduanya, semakin memperkeruh suasana duka di tengah warga Iran yang berjuang melawan represi rezim. Situasi ini mencerminkan salah satu kasus paling nyata dan tragis tentang bagaimana pemerintah menggunakan minoritas sebagai kambing hitam untuk menutupi kegagalan serta menekan gerakan protes secara brutal.
