Iran menerapkan operasi besar-besaran untuk menangkap para pengunjuk rasa di seluruh negeri. Penangkapan ini terjadi setelah pemerintah melakukan tindakan keras yang melumpuhkan gelombang protes menuntut berakhirnya rezim teokrasi.
Petugas keamanan Iran datang pada dini hari dengan beberapa kendaraan menuju rumah-rumah para demonstran. Mereka menggeledah serta memaksa korban memberikan kata sandi ponsel sebelum membawa mereka pergi untuk ditahan. Aksi ini tidak mengenal batas wilayah, mencakup kota besar hingga daerah pedesaan.
Penangkapan Meluas dengan Metode Modern
Menurut laporan, jajaran keamanan menggunakan rekaman kamera pengawas jalan dan toko, serta pengintaian menggunakan drone. Metode ini memungkinkan mereka melacak aktivitas demonstran dari tempat umum hingga rumah pribadi. Akibatnya, berbagai kelompok masyarakat ikut terjaring, termasuk mahasiswa, dokter, pengacara, guru, pelaku seni, serta tokoh reformis dekat dengan pejabat pemerintah.
Organisasi Monitoring Detensi Pengunjuk Rasa, yang berbasis di luar Iran, telah mengonfirmasi lebih dari 2.200 nama tahanan. Dari jumlah tersebut, terdapat 107 mahasiswa, 82 anak usia muda paling rendah 13 tahun, 19 pengacara, dan 106 dokter. Ini menunjukkan jangkauan penindakan yang sangat luas dan target yang beragam.
Situasi Tahanan yang Mengkhawatirkan
Para tahanan kerap mengalami isolasi tanpa kontak selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Keluarga ditinggalkan tanpa kabar dan sangat sulit mendapatkan informasi resmi. Banyak tahanan yang dipindahkan ke penjara-penjara dengan kondisi sangat buruk, seperti yang terjadi di penjara Qarchak untuk wanita di pinggiran Tehran.
Kelompok aktivis HAM mencatat adanya ribuan kematian dengan jumlah korban yang diinformasikan pemerintah jauh lebih rendah. Kepolisian dan pejabat peradilan menghadirkan hukuman cepat serta pelabelan para pengunjuk rasa sebagai pelaku terorisme.
Dampak Terhadap Keluarga dan Penindasan Tambahan
Selain penangkapan, pemerintah membekukan rekening bank, memblokir kartu SIM, dan menyita properti keluarga atau pendukung pengunjuk rasa. Pengacara yang membela para tahanan juga mendapat ancaman, pemanggilan, hingga penahanan. Ini menandai kemunduran besar dalam penegakan hukum dan akses ke keadilan.
Tanggapan dan Perlawanan Kelompok Sipil
Berbagai organisasi sipil tetap aktif mengeluarkan pernyataan protes meski ancaman besar melingkupi. Asosiasi Penulis Iran menyebut protes ini sebagai pemberontakan terhadap sistem korup dan diskriminasi selama hampir lima dekade. Dewan nasional guru meminta keluarga untuk tidak takut melaporkan nasib anak-anak dan pelajar yang ditahan.
Data terbaru menunjukkan sedikitnya 200 anak dan remaja menjadi korban tewas dalam penindakan tersebut. Perhimpunan dokter, termasuk yang disahkan negara, mengutuk pelecehan terhadap tenaga medis yang berusaha memberikan bantuan.
Konflik Berkembang di Tengah Krisis Ekonomi
Protes ini dipicu oleh kemarahan atas lonjakan harga dan memburuknya keadaan ekonomi setelah bertahun-tahun sanksi, korupsi, dan salah urus. Nilai mata uang yang jatuh serta inflasi yang tinggi semakin mempersulit kehidupan rakyat.
Pemerintah berupaya memberikan bantuan melalui program subsidi barang kebutuhan pokok. Namun, serikat pekerja dan organisasi pensiunan mengeluarkan pernyataan kecaman terhadap krisis politik dan ekonomi yang kian memburuk.
Dinamika Politik dan Ancaman Internasional
Ketegangan meningkat dengan kehadiran kapal induk Amerika Serikat di Teluk Persia sebagai respon atas tindakan keras terhadap demonstran damai. Pemimpin Iran tetap mempertahankan kontrol ketat dan bahkan menggelar aksi dukungan pro-pemerintah besar-besaran untuk memperingati revolusi 1979.
Meski demikian, para pengamat menilai kekerasan yang luar biasa menunjukkan ketakutan rezim akan kemungkinan digulingkan. Ini menandai situasi kritis dalam sejarah pemerintahan teokrasi di Iran.







