Rencana menggunakan buaya sebagai bagian dari pengamanan penjara mencuat di Israel setelah aturan mengenai status reptil tersebut diubah. Gagasan ini dikaitkan dengan upaya mencegah tahanan Palestina melarikan diri dari fasilitas penahanan.
Usulan itu datang dari Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang mendorong penempatan buaya di sekitar penjara. Wacana tersebut memicu perhatian karena melibatkan satwa liar dalam sistem keamanan tahanan.
Perubahan Status Buaya Membuka Jalan
Langkah penting dalam rencana ini adalah perubahan klasifikasi buaya dari hewan liar menjadi “satwa liar hasil penangkaran”. Keputusan itu dibuat oleh Menteri Perlindungan Lingkungan Israel, Idit Silman.
Dengan status baru tersebut, buaya Nil dapat ditangkarkan untuk tujuan keamanan dalam ketentuan tertentu. Aturannya mengharuskan hewan dipelihara oleh badan keamanan serta berada dalam pengawasan untuk mencegahnya lepas ke alam liar.
| Lembaga atau Pejabat | Peran dalam Rencana | Keterangan |
|---|---|---|
| Idit Silman | Mengubah klasifikasi buaya | Buaya dialihkan menjadi satwa liar hasil penangkaran |
| Itamar Ben-Gvir | Mengusulkan penggunaan buaya | Rencana dikaitkan dengan pengamanan penjara |
| Dinas Penjara Israel | Badan keamanan terkait | Termasuk pihak yang dapat mengelola reptil tersebut |
Regulasi yang disahkan pada Rabu (15/7) menyebut buaya Nil dapat ditangkarkan bila kepemilikannya dinilai diperlukan untuk tujuan keamanan. Ketentuan itu juga bergantung pada keputusan Menteri Perlindungan Lingkungan Israel.
Pengalihan klasifikasi tersebut membuat pengawasan reptil tidak lagi semata berada di bawah Otoritas Alam dan Taman Israel. Dalam mekanisme baru, pengelolaannya dapat berpindah kepada sebuah “badan keamanan”.
Penjara Ketziot Disebut Jadi Lokasi yang Dipertimbangkan
Media-media Israel melaporkan bahwa Ben-Gvir berniat menempatkan buaya di sekitar Penjara Ketziot di wilayah selatan Israel. Penjara itu disebut menahan banyak militan Hamas yang ditangkap setelah serangan 7 Oktober 2023.
Serangan tersebut memicu perang besar-besaran di Jalur Gaza. Dalam konteks itu, usulan pengamanan dengan buaya diarahkan untuk memperketat pencegahan upaya pelarian tahanan.
Menurut laporan news.detik.com, Ben-Gvir telah melontarkan gagasan mengelilingi penjara tahanan Palestina dengan buaya sejak Desember tahun lalu. Rencana itu disebut meniru fasilitas detensi imigrasi “Alligator Alcatraz” di Florida, Amerika Serikat.
Meski demikian, usulan tersebut tidak langsung diterima semua pihak. Channel 13 melaporkan Otoritas Alam dan Taman Israel pada awalnya menentang gagasan itu ketika pertama kali diajukan.
Unggahan AI Jadi Peringatan Pelarian
Ben-Gvir menyambut perubahan aturan itu melalui unggahan di akun Facebooknya. Ia membagikan gambar buatan AI yang menampilkan dirinya memegang tali pada leher seekor buaya.
Gambar tersebut disertai pesan, “Anda berniat mencoba melarikan diri? Pikirkan lagi.” Dalam keterangan unggahannya, Ben-Gvir menulis, “Menteri Ben-Gvir dan Silman bekerja sama mengepung penjara dengan buaya-buaya!”
Channel 13 juga melaporkan bahwa sebagian pejabat di Dinas Penjara Israel sempat menanggapi proposal itu dengan cemoohan sebelum aturan baru disetujui. Karena itu, perubahan regulasi belum dengan sendirinya memastikan kapan atau bagaimana buaya akan ditempatkan di sekitar penjara.
Source: news.detik.com






