Kebakaran terjadi di kilang minyak utama Havana, menambah tekanan pada krisis bahan bakar yang sudah parah di Kuba. Kobaran api muncul di gudang kilang Nico Lopez, yang berada tak jauh dari lokasi sandar dua kapal tanker minyak di pelabuhan Havana.
Kementerian Energi dan Pertambangan Kuba mengonfirmasi kebakaran telah berhasil dipadamkan. Tidak ada korban luka, dan api tidak merambat ke area sekitar, sementara penyelidikan penyebab kebakaran masih berlangsung.
Kilang minyak ini sangat penting bagi pasokan energi Kuba yang telah terganggu akibat blokade minyak dari Amerika Serikat. Blokade ini diperketat setelah serangkaian sanksi yang menargetkan pasokan minyak ke negara tersebut.
Kuba sangat bergantung pada impor minyak, terutama dari Venezuela, yang terhenti belakangan ini menyusul penculikan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, oleh pasukan AS. Penghentian pasokan ini memperparah kondisi energi di Kuba.
Presiden Amerika Serikat juga menerapkan kebijakan tarif perdagangan terhadap negara mana pun yang mengirim minyak ke Kuba. Langkah ini semakin menghambat akses Kuba terhadap energi yang sangat dibutuhkannya.
Dampak krisis bahan bakar melanda berbagai sektor. Pemadaman listrik meluas terjadi di seluruh negeri, layanan bus dan kereta api banyak yang dihentikan, serta sejumlah hotel harus tutup. Sekolah dan universitas membatasi kegiatan belajar.
Pegawai sektor publik menjalani jam kerja hanya empat hari dalam seminggu. Selain itu, rumah sakit juga mengalami pengurangan staf yang membatasi pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan risiko runtuhnya kondisi kemanusiaan di Kuba jika kebutuhan energi tidak segera terpenuhi. Peringatan ini mencerminkan krisis serius yang dihadapi Kuba saat ini.
Pada hari Kamis, dua kapal angkatan laut Meksiko membawa lebih dari 800 ton bantuan kemanusiaan ke Havana sebagai respons atas kebutuhan mendesak Kuba di tengah pembatasan bahan bakar yang ketat.
Para ahli transportasi maritim melaporkan tidak ada kapal tanker minyak asing yang tiba di Kuba dalam beberapa pekan terakhir. Sedangkan produksi bahan bakar dalam negeri hanya mampu memenuhi sepertiga kebutuhan nasional.
Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos de Cossio, menuding Amerika Serikat melakukan “hukuman massal” terhadap rakyat Kuba. Ia menyatakan langkah AS berupa ancaman dan tindakan koersif kepada negara penyuplai minyak ke Kuba sangat merugikan.
Menurut de Cossio, kekurangan bahan bakar merusak sektor transportasi, layanan medis, pendidikan, energi, produksi pangan, dan kualitas hidup masyarakat. Ia menegaskan hukuman massal tersebut merupakan kejahatan yang tidak dapat dibenarkan.
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyatakan sikap mendukung pembukaan dialog antara Kuba dan Amerika Serikat. Ia mengecam pembatasan minyak oleh Washington sebagai tindakan yang “tidak adil” dan berupaya memediasi solusi.
Kondisi krisis energi ini memperlihatkan betapa kompleksnya tekanan geopolitik yang sedang dihadapi Kuba. Kebakaran di kilang minyak Nico Lopez merupakan pukulan tambahan bagi negara yang tengah berjuang mempertahankan pasokan bahan bakar vital.





