WHO Kritisi Uji Coba Vaksin Hepatitis B Bayi di Guinea-Bissau, Soroti Isu Etika dan Keilmuan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan kekhawatiran serius terkait rencana uji coba vaksin hepatitis B yang didanai oleh pemerintah Amerika Serikat di Guinea-Bissau. WHO mempertanyakan dasar ilmiah dan aspek etis dari percobaan vaksin yang melibatkan bayi baru lahir tersebut.

Menurut WHO, vaksin dosis lahir hepatitis B saat ini sudah terbukti efektif dan sangat penting dalam upaya kesehatan masyarakat global. Vaksin ini mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke anak saat lahir, yang merupakan salah satu cara utama penyebaran penyakit ini dan dapat menyebabkan kerusakan hati yang fatal.

WHO menegaskan bahwa vaksin ini telah digunakan lebih dari tiga dekade dan sudah dimasukkan dalam jadwal imunisasi nasional di lebih dari 115 negara. Selain memberikan perlindungan yang signifikan bagi individu, vaksin ini juga berperan penting dalam upaya nasional dan internasional untuk mengeliminasi hepatitis B.

Kekhawatiran WHO muncul setelah panel penasihat yang dipimpin oleh Robert F. Kennedy Jr, seorang pejabat kesehatan AS yang dikenal skeptis terhadap vaksin, memutuskan untuk menghentikan rekomendasi pemberian vaksin hepatitis B kepada semua bayi baru lahir di Amerika Serikat. Panel tersebut mengklaim bahwa uji coba di Guinea-Bissau bertujuan untuk menjawab pertanyaan terkait efek kesehatan jangka panjang vaksin tersebut.

WHO menilai bahwa melakukan uji coba dengan memberikan vaksin hanya pada sebagian bayi dan sisanya diberikan plasebo atau tanpa vaksin berpotensi menimbulkan risiko permanen. Organisasi ini mengingatkan bahwa desain uji coba semacam itu hanya dapat diterima bila tidak ada intervensi yang telah terbukti atau ketika pendekatan tersebut sangat diperlukan secara ilmiah, namun kondisi tersebut tidak terpenuhi dalam kasus ini.

Lebih lanjut, WHO menegaskan bahwa vaksin hepatitis B memiliki rekam jejak keamanan selama puluhan tahun dan efektif mencegah 70-95 persen kasus penularan ibu-ke-anak. Oleh karena itu, membiarkan sebagian bayi tanpa perlindungan dari vaksin ini dinilai sangat berbahaya dan tidak etis.

Guinea-Bissau, yang memiliki tingkat prevalensi hepatitis B tinggi, telah menangguhkan sementara studi tersebut sambil menunggu peninjauan teknis lebih lanjut. Negara ini berencana memasukkan vaksin hepatitis B dosis lahir dalam jadwal imunisasi nasionalnya mulai tahun 2028.

Dalam pernyataannya, WHO juga mengonfirmasi kesiapan untuk mendukung Guinea-Bissau dalam menentukan langkah terbaik ke depan terkait uji coba tersebut. Organisasi ini menyatakan dukungan dalam mempercepat penerapan vaksin hepatitis B secara rutin di negara itu guna meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat.

Penolakan terhadap uji coba ini juga mencerminkan ketegangan yang berkembang terkait kebijakan vaksin di Amerika Serikat. Sejak Robert F. Kennedy Jr ditunjuk oleh Presiden Donald Trump, pemerintah AS melakukan perubahan besar dalam kebijakan vaksin, yang menimbulkan keprihatinan di kalangan medis internasional.

Selain itu, Amerika Serikat telah memberikan pemberitahuan penarikan dirinya selama satu tahun dari WHO. Kennedy sendiri mengkritik WHO dengan menyatakan bahwa organisasi internasional itu telah mengabaikan kontribusi besar Amerika Serikat selama ini.

Kekhawatiran WHO terhadap aspek ilmiah dan etis uji coba vaksin di Guinea-Bissau menggambarkan kompleksitas tantangan yang dihadapi dalam upaya menjaga keamanan dan efektivitas program vaksin global. Hal ini menunjukkan pentingnya penerapan pengawasan ketat terhadap penelitian vaksin, terutama di negara-negara dengan tingkat penyakit tinggi agar tidak membahayakan kelompok rentan seperti bayi baru lahir.

Exit mobile version