Ribuan pekerja kreatif di New York City mulai meninggalkan kota akibat tingginya biaya hidup. Kondisi ini semakin menekan para seniman dan pekerja di bidang seni yang sejak pandemi sudah mengalami penurunan tajam dalam kesempatan kerja.
Dalam dua tahun terakhir, jumlah pekerja kreatif, termasuk di sektor desain, mode, dan hiburan, menyusut sekitar 6,1 persen. Data ini diungkapkan oleh Center for an Urban Future pada laporan terkini yang mengamati dampak ekonomi terhadap sektor seni di kota tersebut.
Tekanan finansial di tengah pendapatan yang stagnan
Pendapatan pekerja kreatif di New York rata-rata 23 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional jika disesuaikan dengan biaya hidup. Sepuluh tahun lalu, perbedaan ini masih sekitar 15 persen. Sementara itu, biaya sewa rumah di kota ini naik sebesar 42 persen dalam dekade terakhir. Kenaikan ini jauh lebih besar dibandingkan peningkatan pendapatan pekerja seni yang hanya naik 25 persen.
Besarnya kenaikan biaya hidup ini tidak diimbangi dengan naiknya gaji, sehingga banyak pekerja terpaksa mencari alternatif di kota lain yang lebih terjangkau seperti Miami, Dallas, dan Nashville. Inflasi yang terus tinggi pascapandemi menjadi pemicu utama melonjaknya harga kebutuhan dan hunian di New York, terutama di pusat-pusat kreatif.
Penurunan drastis jumlah pekerja di produksi film dan iklan
Sektor film dan televisi mengalami pengurangan tenaga kerja hingga 19,1 persen sejak awal pandemi. Industri periklanan juga mengalami penurunan hampir 16 persen, sedangkan desain menurun sekitar 14,3 persen. Kondisi ini berkorelasi dengan semakin berkurangnya proyek produksi yang terjadi karena biaya produksi yang mahal dan ketatnya kondisi pasar lokal.
Menurut seorang makeup artist yang telah berkarier selama dua dekade, Noel Jacoboni, "Kurangnya pekerjaan akibat tingginya biaya produksi membuat banyak talenta akhirnya pergi dari kota ini." Kondisi tersebut juga telah memaksa tutupnya lebih dari 50 tempat budaya seperti teater, klub musik, museum, dan galeri sejak tahun 2020.
Upaya pemerintah kota untuk mempertahankan industri kreatif
Wali Kota Zohran Mamdani menempatkan isu keterjangkauan hidup sebagai prioritas utama dalam kampanyenya. Rafael Espinal, kepala bidang media dan hiburan New York, mengungkapkan komitmennya untuk menjaga kota tetap menjadi "ibu kota kreatif dunia."
Espinal berfokus pada pengamanan dan perluasan pekerjaan bergaji baik yang bersifat serikat pekerja serta meningkatkan pelatihan bagi kelompok-kelompok yang kurang terwakili. Selain itu, legislator Julie Menin mengajukan rencana penambahan perumahan dengan kontrol harga khusus untuk pekerja seni.
Inisiatif revitalisasi seni melalui festival budaya
Pusat kajian Urban Future menyarankan pembuatan festival budaya besar yang melibatkan kelima borough New York. Festival ini diharapkan dapat menghidupkan kembali sektor seni yang terpukul oleh tekanan ekonomi serta menumbuhkan kembali semangat komunitas kreatif.
Meski tantangan finansial terus membayangi, upaya kolaboratif antara pemerintah, pelaku seni, dan komunitas lokal diharapkan mampu memberikan ruang yang lebih layak bagi para kreator untuk hidup dan bekerja secara produktif di kota yang dikenal sebagai pusat budaya dunia ini.
