Lima negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, menyatakan bahwa pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny, diracuni menggunakan racun langka dari katak panah. Racun itu ditemukan sebagai penyebab kematian Navalny saat menjalani hukuman penjara selama 19 tahun pada pertengahan Februari 2024.
Analisis laboratorium mengungkap keberadaan epibatidine, sebuah racun yang berasal dari kulit katak panah Amerika Selatan, dalam sampel tubuh Navalny. Kelima negara ini menegaskan bahwa racun tersebut merupakan senyawa mematikan dan sangat mungkin menjadi penyebab kematiannya, menolak klaim Rusia yang mengatakan bahwa Navalny meninggal karena sebab alami.
Tuduhan Terhadap Rusia
Menurut pernyataan bersama yang dirilis di Konferensi Keamanan Munich, Rusia memiliki motif, kesempatan, dan sarana untuk meracuni Navalny di dalam penjara. Inggris, salah satu negara yang mengeluarkan pernyataan, secara tegas menyatakan bahwa hanya pemerintah Rusia yang mampu melakukan tindakan tersebut dan memegang tanggung jawab atas kematian Navalny.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, memberikan penghormatan atas keberanian Navalny yang dianggap berani melawan tirani. Ia juga mengutuk tindakan Vladimir Putin yang diduga memiliki niat membunuh lawan politiknya.
Respon Keluarga dan Peneliti
Istri Navalny, Yulia Navalnaya, menyatakan bahwa kini bukti ilmiah mendukung klaim bahwa suaminya dibunuh. Ia mengungkapkan keyakinannya selama ini bahwa kematian Navalny merupakan tindakan pembunuhan yang dilakukan oleh rezim Kremlin.
Laboratorium yang melakukan analisis terhadap sampel biologis yang diselundupkan dari Rusia telah memastikan adanya racun yang mematikan tersebut. Kepada publik, Yulia mengingatkan bahwa pengungkapan ini memperkuat tuduhan terhadap pemerintah Rusia.
Dukungan dari Pejabat Eropa
Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, sekaligus menegaskan dukungannya kepada istri Navalny dan mendesak agar Kremlin bertanggung jawab atas aksi tersebut. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, menyatakan bahwa hasil temuan ini menunjukkan penggunaan senjata biologis oleh Putin untuk mempertahankan kekuasaannya.
Menteri Luar Negeri Swedia, Maria Malmer Stenergard, menyampaikan kebanggaannya atas kontribusi negara-negara Eropa dalam mengungkap kebenaran yang memungkinkan Rusia untuk dimintai pertanggungjawaban.
Laporan ke Organisasi Pelarangan Senjata Kimia
Negara-negara Eropa tersebut telah melaporkan kasus ini ke Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW). Mereka mengkhawatirkan bahwa Rusia belum sepenuhnya menghancurkan persenjataan kimia yang dimilikinya dan menilai hal ini sebagai pelanggaran terhadap Chemical Weapons Convention.
Riwayat Keracunan Navalny
Navalny sempat menjadi korban keracunan agen saraf Novichok, senjata kimia era Soviet, saat berkampanye di Siberia pada 2020. Ia berhasil diselamatkan melalui evakuasi ke Jerman dan menjalani pemulihan selama berbulan-bulan.
Kembali ke Rusia pada awal 2021, Navalny segera dipenjara dengan berbagai tuduhan termasuk "ekstremisme". Meski dibui, Navalny tetap aktif mengkritik Putin dan kebijakan pemerintah, terutama terkait invasi Rusia ke Ukraina.
Peran Navalny dalam Politik Rusia
Sebagai tokoh utama oposisi, Navalny dikenal karena kampanye anti-korupsinya yang menggerakkan ribuan orang melakukan aksi protes besar-besaran. Ia merupakan satu-satunya figur yang mampu memobilisasi oposisi secara luas terhadap rezim Putin.
Namun, sejak invasi Rusia ke Ukraina, tindakan protes dalam negeri menjadi sangat terbatas akibat tekanan rezim yang semakin intens terhadap pengkritik dan pendukung oposisi.
Kasus keracunan ini menambah daftar panjang tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan penyalahgunaan kekuasaan di Rusia dalam menekan suara-suara kritis terhadap pemerintahan saat ini. Kelanjutan penyelidikan internasional diharapkan memberikan kejelasan dan mendorong akuntabilitas atas kematian Navalny.
