Lebih dari 200.000 Orang Mengamuk di Munich: Tuntut Reza Pahlavi Pimpin Iran dan Hentikan Pembantaian Rezim Mullah yang Mematikan!

Polisi di Munich menyatakan sekitar 200.000 orang ikut dalam demonstrasi besar menentang pemerintahan Iran, yang berlangsung bersamaan dengan konferensi keamanan dunia. Aksi pro-monarki ini digelar di area Theresienwiese, lokasi yang juga dikenal sebagai tempat festival Oktoberfest, dengan tuntutan menolak rezim Islam di Iran setelah penindasan berdarah terhadap protes nasional pada Januari.

Para pengunjuk rasa menyuarakan dukungan kepada Reza Pahlavi, putra pengasingan dari mantan shah Iran, dan banyak yang mengibarkan bendera monarki yang pernah berkuasa sebelum revolusi 1979. Kelompok hak asasi manusia sebelumnya melaporkan ribuan demonstran tewas dalam penindasan tersebut, sehingga kemarahan publik terhadap rezim saat ini semakin meningkat.

Dukungan Terhadap Reza Pahlavi

Dalam demo itu, peserta meneriakkan slogan seperti "Javid shah" (Hidup shah) dan "Pahlavi bar migarde" (Pahlavi akan kembali), mengajak Reza Pahlavi untuk melanjutkan kepemimpinan dinasti Pahlavi yang berakhir secara paksa. Ali Farzad, seorang demonstran berusia 40 tahun, menyatakan mereka hadir untuk mendukung rakyat Iran yang terbunuh oleh rezim mullah serta mengangkat Pahlavi sebagai pemimpin selama masa transisi.

Reza Pahlavi sebelumnya menyampaikan pidato di Munich Security Conference, mendesak Presiden Amerika Serikat saat itu untuk membantu rakyat Iran melalui intervensi kemanusiaan guna mencegah hilangnya nyawa lebih banyak lagi. Seruan ini juga memicu solidaritas dari komunitas diaspora Iran di seluruh dunia, khususnya yang berada di Eropa dan Amerika Utara.

Seruan Intervensi dan Penolakan Negosiasi dengan Rezim

Razieh Shahverdi, seorang wanita Iran berusia 34 tahun yang tinggal di Paris, menyatakan kehadirannya sebagai bentuk dukungan agar suara para aktivis di Iran makin terdengar. Ia menegaskan perlunya intervensi asing dan pembentukan pemerintahan transisi yang diikuti dengan referendum demokratis.

Sejumlah demonstran mengecam negosiasi yang dilakukan oleh negara-negara Barat dengan rezim Iran. Riana, seorang dokter berusia 40 tahun di Jerman, menilai bahwa pemimpin Iran saat ini tidak memiliki legitimasi karena telah membunuh rakyatnya secara brutal di jalanan. Pernyataan ini mencerminkan ketidakpercayaan besar komunitas pengunjuk rasa terhadap rezim yang berkuasa.

Penyebaran Demonstrasi di Berbagai Negara

Selain di Munich, aksi protes serupa juga direncanakan berlangsung di kota-kota besar seperti Toronto dan Los Angeles. Pekan sebelumnya, sekitar 10.000 orang menggelar unjuk rasa di Berlin atas inisiasi MKO (Mujahedin-e Khalq), kelompok oposisi yang diasingkan dan dicap sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Iran.

Data ini mengindikasikan gelombang protes global dari masyarakat Iran dan pendukungnya di diaspora yang semakin menguat. Mereka menuntut perubahan sistem pemerintahan di Iran dengan pembentukan alternatif yang sah secara internasional dan demokratis.

Informasi tersebut menyoroti dinamika politik dan sosial terkini terkait kondisi di Iran. Demonstrasi besar di Munich dan kota-kota lain menunjukkan bentuk solidaritas internasional terhadap rakyat Iran yang menolak rezim otoriter dan menginginkan masa depan yang lebih bebas dan adil.

Berita Terkait

Back to top button