Satu bulan setelah bentrokan hebat melanda kawasan mayoritas Kurdi di Aleppo, Suriah, sebagian besar penduduk yang sempat mengungsi telah kembali ke rumah mereka. Sekitar 90 persen dari puluhan ribu warga yang melarikan diri akibat pertempuran antara pasukan pemerintah dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) kini telah pulih, mencerminkan pemulihan yang relatif cepat di tengah konflik berkepanjangan di negara tersebut.
Meskipun sempat terjadi ketegangan, pascapertempuran tersebut suasana di lingkungan seperti Sheikh Maqsoud mulai stabil. Penduduk setempat merasa lega karena keamanan membaik tanpa adanya aksi balas dendam seperti yang pernah terjadi di daerah lain Suriah, terutama pada kelompok minoritas Alawi dan Druze.
Dinamika Bentrokan dan Evakuasi
Benturan terjadi pada awal Januari di kawasan Kurdi seperti Sheikh Maqsoud, Achrafieh, dan Bani Zaid setelah kegagalan negosiasi integrasi SDF ke dalam tentara nasional Suriah. Selama beberapa hari pertempuran intens, sedikitnya 23 orang tewas dan lebih dari 140.000 orang terpaksa mengungsi ke tempat lain untuk menghindari bahaya.
Berbeda dengan konflik sebelumnya yang penuh kekerasan terhadap warga sipil, pemerintah Suriah kini membuka koridor aman agar penduduk bisa segera menyelamatkan diri sebelum militer masuk ke kawasan yang disengketakan. Hal ini menjadi langkah penting dalam meminimalisir korban jiwa warga sipil saat itu.
Situasi Keamanan Setelah Pertempuran
Setelah pasukan Kurdi menyerahkan kontrol lingkungan kepada pemerintah, kekhawatiran warga akan balas dendam sempat muncul. Tapi Ali Sheikh Ahmad, mantan anggota polisi lokal yang berafiliasi dengan SDF di Sheikh Maqsoud, menuturkan bahwa sejak gencatan senjata berjalan baik, ketakutan warga mulai hilang. Pasukan keamanan baru juga dianggap memperlakukan penduduk dengan baik, sehingga rasa aman muncul kembali.
Kegiatan sosial di sekitar lingkungan kini kembali normal. Toko-toko telah beroperasi, lalu lintas lancar, dan warga dari berbagai latar belakang etnis berinteraksi secara harmonis. Meski pemerintah menggantikan pasukan Kurdi di pos pemeriksaan, kehidupan sosial berjalan dengan suasana damai.
Tantangan Ekonomi yang Masih Menghantui
Walau keamanan membaik, kondisi ekonomi warga masih jauh dari pulih. Banyak penduduk kehilangan pekerjaan karena sebelumnya bergantung pada otoritas lokal yang dikelola SDF. Pergantian kekuasaan dan gangguan selama bentrokan juga membuat usaha kecil merana akibat hilangnya pelanggan dan gangguan listrik serta layanan lain.
Aaliya Jaafar, pemilik salon di Sheikh Maqsoud, mengungkapkan bahwa dalam lebih dari sebulan terakhir penduduk hampir tidak beraktivitas secara ekonomi. Situasi ini menjadi ujian besar bagi ketahanan warga usai konflik.
Harapan untuk Masa Depan dan Rekonsiliasi
Perkembangan politik juga membawa angin segar bagi minoritas Kurdi di Suriah. Presiden sementara Ahmad al-Sharaa mengeluarkan dekrit yang mengakui bahasa Kurdi sebagai bahasa nasional setara Arab dan menetapkan Nowruz sebagai hari libur resmi. Selain itu, dekrit tersebut mengembalikan kewarganegaraan kepada ribuan Kurdi di Provinsi al-Hasakeh, yang sebelumnya dicabut pada sensus tahun 1962.
Ali Sheikh Ahmad sangat mendukung upaya pemerintah untuk memberikan hak setara bagi Kurdi dan menyuarakan harapan agar hubungan antar komunitas di Suriah tidak hanya sekadar toleransi, melainkan juga saling mencintai. Dia menekankan bahwa selama 15 tahun perang sudah sangat melelahkan bagi masyarakat dan saatnya untuk hidup dalam damai.
Kesimpulan Sementara
Pemulihan sebuah kawasan yang mayoritas berpenduduk Kurdi di Aleppo menjadi contoh langka dalam konflik Suriah yang panjang dan kompleks. Keberhasilan gencatan senjata, integrasi keamanan, dan pengakuan hak-hak minoritas menunjukkan kemungkinan rekonsiliasi yang lebih luas di masa depan. Meski tantangan ekonomi belum teratasi sepenuhnya, wujud harapan kini mulai menyala dalam benak para penduduk yang telah lama mengalami ketidakpastian dan penderitaan.





